1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: FIFA Bela Keputusan VAR yang Batalkan Gol Penyama Kroasia Saat Portugal Lolos Dramatis

Portugal melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026, tetapi cara mereka melewati Kroasia akan terus menjadi bahan perdebatan. Kemenangan 2-1 di Toronto seharusnya dikenang sebagai malam besar bagi Cristiano Ronaldo dan Goncalo Ramos. Namun, sorotan terbesar justru jatuh pada keputusan VAR yang membatalkan gol penyama Kroasia pada menit ke-103, saat Joško Gvardiol terlihat telah membawa laga menuju babak tambahan waktu. FIFA kemudian membela keputusan itu dengan menyatakan bahwa teknologi bola mendeteksi sentuhan sangat tipis dari Igor Matanović sebelum bola sampai kepada Mario Pašalić, yang berada dalam posisi offside.

Momen tersebut terjadi ketika Kroasia berada di ambang keajaiban. Portugal baru saja unggul 2-1 melalui sundulan Goncalo Ramos pada menit keempat masa tambahan waktu. Kroasia, yang menolak menyerah, melancarkan satu serangan terakhir. Umpan Ivan Perišić mengarah ke kotak penalti, bola bergerak melewati kerumunan pemain, lalu Gvardiol menyambar dari jarak dekat. Para pemain Kroasia berlari merayakan gol. Para pendukung meledak. Di bangku cadangan Portugal, wajah-wajah tegang muncul. Namun perayaan itu terhenti ketika VAR meminta wasit Espen Eskås meninjau insiden tersebut.

Setelah pemeriksaan, gol dibatalkan. Alasannya bukan karena pelanggaran keras, bukan karena handball yang jelas, dan bukan karena offside yang langsung terlihat di tayangan ulang biasa. Keputusan itu dibuat karena sensor di dalam bola resmi Adidas Trionda mendeteksi adanya kontak tipis dari Matanović. Sentuhan itu membuat fase permainan berubah, sehingga Pašalić dianggap berada dalam posisi offside ketika menjadi pemain berikutnya yang menyentuh bola dan membantu peluang Gvardiol.

FIFA Tegaskan Teknologi Membuktikan Sentuhan

Kontroversi muncul karena sentuhan tersebut nyaris tidak terlihat oleh mata manusia. Dalam tayangan televisi biasa, bola tidak tampak berubah arah secara jelas. Banyak pendukung Kroasia merasa keputusan itu terlalu teknis, terlalu kecil, dan terlalu menghancurkan emosi pertandingan. Namun FIFA mempertahankan keputusan tersebut dengan tegas. Menurut penjelasan yang dilaporkan GOAL, data dari Connected Ball Technology di dalam bola resmi membuktikan bahwa Matanović melakukan kontak dalam proses gol tersebut, sehingga wasit bisa mengambil keputusan offside dengan benar.

Teknologi itu menggunakan sensor IMU di dalam bola. FIFA menjelaskan bahwa sensor tersebut mampu mendeteksi kontak yang sangat ringan dan menampilkannya kepada penonton melalui grafik seperti detak jantung. Dengan data itu, VAR tidak hanya bergantung pada sudut kamera, gerakan pemain, atau penilaian visual. Sistem ini memberi bukti tambahan yang dianggap lebih presisi ketika mata manusia tidak mampu menangkap detail sekecil itu.

Di sinilah perdebatan menjadi rumit. Secara aturan, jika Matanović benar menyentuh bola, maka posisi Pašalić menjadi offside saat ia terlibat dalam fase berikutnya. Dari sudut pandang teknis, keputusan itu bisa dibenarkan. Tetapi dari sudut pandang emosi sepak bola, banyak pihak merasa gol sebesar itu seharusnya tidak dibatalkan oleh kontak yang bahkan tidak jelas terlihat dalam tayangan ulang umum.

FIFA memilih berdiri pada sisi presisi. Kroasia merasa dihukum oleh detail mikroskopis. Portugal, tentu saja, merasa teknologi telah menjalankan tugasnya.

Portugal Selamat dari Kekacauan Menit Akhir

Kemenangan Portugal sendiri lahir dari pertandingan yang penuh tekanan. Kroasia unggul lebih dulu melalui Ivan Perišić pada menit ke-53. Portugal kemudian menyamakan kedudukan lewat penalti Cristiano Ronaldo pada menit ke-68, sebelum Ramos menjadi pahlawan lewat sundulan pada masa tambahan waktu. Reuters melaporkan bahwa Ronaldo, pada usia 41 tahun, menjadi pemain tertua yang mencetak gol di fase gugur Piala Dunia pria, sekaligus mencetak gol pertamanya di fase knockout Piala Dunia.

Gol Ramos seolah sudah cukup untuk membawa Portugal lolos. Namun Kroasia bukan tim yang mudah mati. Mereka telah membangun reputasi sebagai tim turnamen besar yang tahan tekanan, terutama setelah mencapai final Piala Dunia 2018 dan semifinal Piala Dunia 2022. Karena itu, ketika Gvardiol mencetak gol pada detik-detik terakhir, banyak orang merasa sedang menyaksikan babak baru dari mental baja Kroasia.

Namun VAR mengubah semuanya. Dalam hitungan menit, euforia Kroasia berubah menjadi amarah. Portugal yang sempat terlihat terpukul justru mendapatkan kembali napas. Begitu keputusan offside diumumkan, laga praktis berakhir. Kroasia tidak punya waktu untuk membangun serangan lain, sedangkan Portugal mengamankan tiket ke babak 16 besar melawan Spanyol.

Ini adalah jenis kemenangan yang menghadirkan dua narasi sekaligus. Bagi Portugal, ini bukti ketahanan dan keberuntungan yang didukung teknologi. Bagi Kroasia, ini tragedi yang terasa terlalu kejam untuk diterima.

Empat Gol Dianulir Rekor Baru yang Aneh

Pertandingan Portugal melawan Kroasia tidak hanya kontroversial karena satu keputusan terakhir. The Guardian melaporkan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, empat gol dianulir dalam satu pertandingan. Tiga gol Kroasia dibatalkan, sementara satu gol Portugal milik Ronaldo juga tidak disahkan. Angka itu membuat laga ini masuk dalam sejarah VAR, meskipun bukan dengan cara yang menyenangkan bagi banyak penonton.

Roberto Martinez, pelatih Portugal, menolak anggapan bahwa timnya mendapat keputusan beruntung. Ia menegaskan bahwa semua keputusan VAR dalam pertandingan itu benar. Menurut Martinez, keberadaan chip dalam bola membuat alasan intervensi VAR menjadi jelas. Ia menyebut tidak ada keputusan buruk atau “panggilan keberuntungan” yang membantu Portugal.

Sebaliknya, pelatih Kroasia Zlatko Dalić terlihat sangat terpukul. Ia tetap memuji sportivitas Portugal, tetapi sulit menyembunyikan frustrasi terhadap cara pertandingan berakhir. Dalić mengatakan bahwa VAR bisa membantu, tetapi dalam kasus ini terasa seperti membunuh emosi pertandingan. Ia juga menilai para pemain Kroasia mengalami pukulan mental besar karena sempat mengira mereka berhasil menyamakan skor sebelum semuanya dibatalkan.

Inilah masalah klasik VAR. Ketika keputusan benar secara teknis, belum tentu keputusan itu terasa adil secara emosional. Sepak bola bukan hanya permainan angka dan garis. Ia juga tentang momen, ledakan perasaan, dan spontanitas. VAR hadir untuk memperbaiki kesalahan, tetapi kadang justru membuat penonton merasa pertandingan kehilangan jiwa.

Teknologi Bola Mengubah Cara Offside Dibaca

Keputusan ini juga memperlihatkan bagaimana sepak bola modern semakin bergantung pada teknologi yang tidak selalu terlihat oleh penonton. Dahulu, offside ditentukan melalui posisi pemain dan pandangan asisten wasit. Kemudian datang VAR dengan garis digital. Sekarang, teknologi bola menambah lapisan baru: sensor yang bisa mendeteksi sentuhan sangat ringan, bahkan ketika kamera tidak memperlihatkannya dengan jelas.

Sports Illustrated menjelaskan bahwa kontroversi utama terletak pada pertanyaan apakah Matanović benar-benar menyentuh bola. Jika ia tidak menyentuh bola, Pašalić akan berada dalam posisi onside. Tetapi jika ia menyentuh bola, maka Pašalić dianggap offside saat terlibat berikutnya. Sensor bola menunjukkan bahwa ada kontak, sehingga keputusan VAR berpihak pada pembatalan gol.

Dalam teori, teknologi seperti ini membuat sepak bola lebih akurat. Wasit tidak perlu menebak. VAR tidak perlu hanya mengandalkan tayangan lambat dari sudut terbatas. Data dari bola bisa memberikan informasi yang lebih objektif.

Namun dalam praktik, keputusan seperti ini menimbulkan pertanyaan lain. Apakah semua sentuhan harus dihitung sama, meskipun tidak mengubah arah bola secara nyata? Apakah kontak sekecil rambut atau sentuhan paling tipis tetap cukup untuk mengubah fase permainan? Apakah presisi mutlak selalu lebih baik daripada pemahaman umum tentang alur permainan?

FIFA tampaknya sudah memberi jawaban: selama teknologi mendeteksi kontak yang relevan, aturan harus diterapkan.

Kroasia Merasa Dirampas oleh Detail Kecil

Bagi Kroasia, keputusan itu terasa menghancurkan. Mereka bukan hanya kehilangan gol. Mereka kehilangan kesempatan memperpanjang laga, menjaga mimpi, dan mungkin mengubah arah pertandingan. Dalam turnamen gugur, satu keputusan seperti ini bisa menjadi pembeda antara pulang dan bertahan.

Gvardiol sempat terlihat seperti pahlawan. Dalam beberapa detik, status itu lenyap. Pašalić yang awalnya menjadi bagian dari serangan penyama justru berubah menjadi pemain yang posisinya membuat gol dibatalkan. Matanović, yang sentuhannya menjadi pusat kontroversi, berada dalam posisi paling sulit: ia mungkin hampir tidak merasakan kontak itu, tetapi teknologi mengubahnya menjadi momen penentu.

Sports Illustrated mencatat bahwa tayangan ulang membuat sulit memastikan secara visual apakah Matanović benar-benar mengarahkan bola ke belakang. Jika ada sentuhan, itu adalah defleksi yang sangat kecil. Namun sensor di dalam bola menyatakan kontak tersebut terjadi, dan itulah dasar keputusan wasit.

Kroasia mungkin merasa mereka kalah bukan karena kurang berjuang, tetapi karena detail yang nyaris tak terlihat. Dalam sepak bola, itu adalah perasaan yang paling sulit diterima. Kekalahan karena kesalahan sendiri bisa dianalisis. Kekalahan karena lawan lebih kuat bisa diterima dengan pahit. Tetapi kekalahan karena data sensor yang menghapus momen emosional terakhir terasa seperti luka yang berbeda.

Portugal Mendapat Pembuktian tetapi Belum Sempurna

Di sisi Portugal, kemenangan ini memberi mereka kelolosan penting, tetapi bukan performa yang sepenuhnya meyakinkan. Mereka mendominasi sebagian babak pertama, tetapi kesulitan mengubah penguasaan bola menjadi gol. Kroasia justru memulai babak kedua dengan lebih kuat dan mengambil keunggulan lebih dulu melalui Perišić. Portugal membutuhkan penalti Ronaldo dan sundulan telat Ramos untuk bertahan hidup.

Martinez tentu bisa mengambil banyak hal positif. Timnya tidak menyerah setelah tertinggal. Ronaldo tetap mampu tampil dalam momen besar meski usianya sudah 41 tahun. Ramos membuktikan bahwa bangku cadangan Portugal punya kualitas penentu. Selain itu, lini tengah Portugal masih memiliki pemain seperti Bruno Fernandes, Vitinha, João Neves, dan opsi lain yang bisa mengontrol permainan.

Namun duel melawan Spanyol akan jauh lebih berat. Jika Portugal kembali lambat dalam menyelesaikan peluang atau memberi ruang setelah jeda, mereka bisa dihukum. Spanyol bukan Kroasia yang sedang berada di ujung siklus generasi emasnya. Spanyol datang dengan energi baru, kecepatan, dan struktur permainan yang lebih segar.

Kelolosan ini adalah hadiah sekaligus peringatan. Portugal masih hidup, tetapi mereka tidak boleh menganggap VAR akan selalu menyelamatkan mereka.

Ronaldo Modrić dan Simbol Pergantian Zaman

Laga ini juga memiliki lapisan emosional lain karena mempertemukan dua ikon besar: Cristiano Ronaldo dan Luka Modrić. Ronaldo masih melanjutkan perjalanan Piala Dunianya setelah mencetak penalti bersejarah. Modrić, sebaliknya, kemungkinan harus menerima akhir pahit dalam salah satu malam paling kontroversial sepanjang karier internasionalnya. The Guardian melaporkan bahwa Dalić merasa sedih karena ini kemungkinan menjadi Piala Dunia terakhir Modrić, terutama karena sang kapten tetap menunjukkan kualitas dan karakter sampai akhir.

Ronaldo dan Modrić pernah berbagi kejayaan di Real Madrid. Mereka tahu arti pertandingan besar, tekanan, dan detail kecil yang menentukan nasib. Di Toronto, nasib mereka berpisah. Ronaldo masih melangkah menuju duel melawan Spanyol. Modrić harus menghadapi kenyataan bahwa generasi Kroasia yang begitu luar biasa mungkin telah mencapai titik akhirnya.

Itulah mengapa keputusan VAR terasa lebih besar dari sekadar satu gol. Ia tidak hanya menentukan skor. Ia mungkin juga menjadi penutup simbolis bagi era Kroasia yang dibangun oleh Modrić, Perišić, dan pemain-pemain berpengalaman lain. Dalam sepak bola, akhir seperti itu selalu terasa lebih menyakitkan ketika datang melalui keputusan teknologi.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE