Inggris memang lolos. Inggris memang menang. Namun kemenangan 2-1 atas DR Kongo di babak 32 besar Piala Dunia 2026 tidak cukup untuk meredam kegelisahan publik. Sebaliknya, laga di Atlanta itu justru membuka kembali pertanyaan besar tentang kualitas permainan, keseimbangan skuad, serta keputusan Thomas Tuchel sebagai pelatih kepala Three Lions. Harry Kane menyelamatkan Inggris lewat dua gol telat setelah Brian Cipenga membawa DR Kongo unggul lebih dulu, tetapi cara kemenangan itu datang membuat banyak pihak merasa Inggris masih jauh dari bentuk ideal sebagai kandidat juara dunia.
Kritik paling tajam datang dari Nicky Butt, mantan gelandang Manchester United dan eks pemain tim nasional Inggris. Ia menilai Tuchel telah membentuk skuad yang keliru, terlalu keras kepala dengan rencananya sendiri, dan berisiko membawa Inggris ke masalah lebih besar jika performa seperti melawan DR Kongo terulang di fase berikutnya. Dalam komentar yang dilaporkan GOAL, Butt menyebut keputusan Tuchel soal skuad dan taktik sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan, terutama karena Inggris terlihat kesulitan melawan tim yang seharusnya bisa mereka kendalikan lebih awal.
Inilah paradoks Inggris saat ini. Mereka masih hidup di Piala Dunia, tetapi belum benar-benar meyakinkan. Mereka punya Kane, Jude Bellingham, Declan Rice, Bukayo Saka, dan deretan pemain elite lain, tetapi permainan mereka kerap terasa berat, lambat, dan tidak mengalir. Kemenangan atas DR Kongo seharusnya menjadi pijakan menuju babak 16 besar melawan Meksiko. Namun bagi sebagian pengamat, laga itu justru menjadi alarm keras.
Nicky Butt Menyerang Langsung Keputusan Tuchel
Butt tidak hanya mengkritik performa di lapangan. Ia menyerang dasar dari proyek Tuchel: pemilihan pemain. Menurutnya, skuad Inggris salah sejak awal. Ia mempertanyakan keputusan tidak membawa Trent Alexander-Arnold, Phil Foden, dan Cole Palmer, terutama karena ketiganya dianggap bisa menjadi pembeda ketika Inggris menghadapi pertandingan buntu. Butt juga menilai Tuchel terlalu yakin dengan caranya sendiri dan kurang terbuka terhadap masukan dari luar.
Kritik itu terasa semakin tajam karena muncul setelah kemenangan, bukan kekalahan. Biasanya, kritik sebesar ini datang ketika sebuah tim tersingkir. Namun Butt melihat tanda bahaya sebelum bencana datang. Baginya, kemenangan atas DR Kongo tidak boleh menutupi fakta bahwa Inggris tampak kekurangan kreativitas, terutama ketika membutuhkan solusi dari bangku cadangan.
Ia juga menyoroti situasi Kobbie Mainoo. Butt bingung mengapa gelandang muda Manchester United itu tidak diberi kesempatan berarti, bahkan ketika Inggris membutuhkan pemain yang bisa mengalirkan bola dan mengambil risiko di lini tengah. Ia mempertanyakan mengapa Jordan Henderson lebih dipercaya masuk sebelum Mainoo, karena menurutnya keputusan itu menunjukkan Tuchel tidak benar-benar percaya kepada struktur pertahanan dan akhirnya bermain terlalu aman.
Di mata Butt, masalah Inggris bukan sekadar satu pertandingan buruk. Masalahnya ada pada rancangan tim. Jika skuad sejak awal tidak seimbang, maka setiap laga gugur akan terasa seperti pertaruhan besar.
Kemenangan yang Tidak Menenangkan
Inggris mengalahkan DR Kongo lewat cara yang dramatis. Cipenga membuat kejutan dengan membawa tim Afrika itu unggul lebih dulu. Inggris baru bangkit pada 15 menit terakhir, ketika Kane mencetak gol penyama dan kemudian gol kemenangan pada menit ke-86. The Straits Times, yang mengutip laporan Reuters dan AFP, menyebut Kane kembali menjadi penyelamat Inggris dan mencatat bahwa kemenangan tersebut membawa Three Lions ke babak 16 besar melawan tuan rumah Meksiko di Stadion Azteca.
Namun jika melihat jalannya laga, kekhawatiran Butt terasa masuk akal. The Guardian menggambarkan Inggris seperti tim yang bermain kacau selama sebagian besar pertandingan, dengan pertahanan longgar dan kegagalan memaksimalkan peluang. Selama 75 menit, Inggris berada di ambang malu besar sebelum Kane mengubah cerita.
Kane memang luar biasa. Tuchel bahkan memuji kaptennya sebagai pemain yang mampu menentukan laga dengan penyelesaian brilian. Namun ketergantungan pada Kane juga menimbulkan pertanyaan: apa yang terjadi jika suatu hari Kane tidak menemukan ruang, tidak mendapat suplai, atau gagal memanfaatkan peluang? Inggris tidak bisa terus berharap diselamatkan oleh naluri satu pemain dalam setiap pertandingan penting.
Kemenangan seperti ini punya dua sisi. Ia bisa membangun mental karena tim berhasil bangkit dari situasi sulit. Tetapi ia juga bisa menipu jika staf pelatih menganggap semua masalah selesai hanya karena skor akhir berpihak kepada mereka.
Tuchel dan Risiko Keras Kepala
Butt menyebut Tuchel sebagai pelatih yang keras kepala dan bahkan “arogan” dalam arti ia sangat percaya pada rencananya sendiri. Dalam sepak bola, sifat seperti itu bisa menjadi kekuatan. Pelatih besar memang harus punya prinsip. Mereka tidak boleh berubah hanya karena tekanan media atau suara publik. Namun ada garis tipis antara keyakinan dan ketertutupan.
Tuchel dikenal sebagai pelatih detail, sistematis, dan sangat taktis. Ia memenangkan Liga Champions bersama Chelsea dan memiliki reputasi sebagai pelatih elite. Tetapi sepak bola internasional berbeda dengan klub. Di level klub, pelatih punya waktu harian untuk membangun pola. Di tim nasional, waktu terbatas. Karena itu, fleksibilitas dan pemilihan skuad menjadi sangat penting.
The Guardian menulis bahwa Inggris sejauh ini terlihat seperti tim yang masih mencari bentuk, dengan banyak masalah belum selesai di area sayap, bek sayap, dan lini tengah. Artikel itu juga menyoroti bahwa skuad Tuchel terasa aneh, terutama dengan absennya beberapa pemain kreatif dan penggunaan beberapa nama yang membuat keseimbangan tim dipertanyakan.
Di sinilah kritik Butt menjadi relevan. Tuchel boleh punya rencana, tetapi rencana itu harus cukup lentur ketika pertandingan berjalan berbeda dari perkiraan. Jika lawan menutup jalur utama, Inggris membutuhkan alternatif. Jika lini tengah tidak progresif, Tuchel harus punya pemain yang bisa mengubah tempo. Jika tim tertinggal, bangku cadangan harus memberi ancaman baru, bukan hanya stabilitas.
Masalah Kreativitas di Lini Tengah
Salah satu pusat kritik adalah lini tengah. Butt menilai kombinasi Declan Rice dan Elliot Anderson tidak cukup kreatif. Ia menyebut Anderson terlalu aman dalam mengalirkan bola dan kurang mampu memecah garis pertahanan lawan. Ia juga mempertanyakan kondisi Rice, yang menurutnya tidak terlihat sepenuhnya fit.
Kritik ini tidak berdiri sendiri. The Guardian juga menyoroti beban besar yang diberikan kepada Anderson, yang harus menjalankan berbagai fungsi sekaligus di turnamen sebesar Piala Dunia. Anderson memang pemain bagus, tetapi memintanya menjadi metronom, pengatur tempo, dan poros utama dalam panggung sebesar ini adalah tugas yang sangat berat.
Masalah Inggris bukan hanya siapa yang bermain, tetapi bagaimana mereka saling terhubung. Melawan DR Kongo, Inggris beberapa kali terlihat kehilangan jarak ideal antarlini. Ketika membangun serangan, bola sering bergerak tanpa tujuan jelas. Ketika kehilangan bola, transisi mereka tidak selalu rapi. DR Kongo mampu membuat Inggris tidak nyaman karena mereka bermain kompak, berani, dan tidak takut memanfaatkan celah.
Jika Inggris ingin melangkah jauh, lini tengah harus lebih progresif. Mereka membutuhkan pemain yang bisa menerima bola di bawah tekanan, berbalik, memecah garis, dan memberi umpan ke area berbahaya. Tanpa itu, Inggris akan terus mengandalkan momen individual dari Kane atau Bellingham.
Bangku Cadangan yang Dipertanyakan
Butt secara khusus menyesalkan absennya pemain-pemain seperti Foden dan Palmer. Menurutnya, dalam pertandingan ketika Inggris membutuhkan gol atau kreativitas pada 15 menit terakhir, Tuchel akan merasakan kehilangan pemain seperti mereka. GOAL melaporkan bahwa Butt menilai Tuchel mungkin tidak akan mengakuinya, tetapi ia akan tahu bahwa beberapa keputusan skuadnya bisa menjadi masalah jika Inggris gagal juara.
Ini bukan hanya soal nama besar. Foden dan Palmer adalah tipe pemain yang bisa mengubah pertandingan dengan sentuhan kecil, pergerakan di antara lini, atau aksi satu lawan satu. Alexander-Arnold juga bisa memberi dimensi berbeda lewat umpan panjang, crossing, dan kemampuan mengontrol tempo dari area dalam. Ketika pemain seperti itu tidak ada dalam skuad, opsi taktis pelatih otomatis menyempit.
Tuchel mungkin punya alasan. Ia mungkin menilai keseimbangan, fisik, atau kedisiplinan taktis lebih penting. Namun turnamen besar sering ditentukan oleh pemain yang tidak selalu cocok dengan struktur, tetapi mampu menciptakan keajaiban ketika struktur buntu.
Di sinilah kritik terhadap skuad menjadi sangat tajam. Inggris punya banyak talenta, tetapi apakah mereka membawa kombinasi terbaik untuk berbagai skenario pertandingan? Butt jelas merasa jawabannya tidak.
Kane Menutup Luka tetapi Tidak Menyembuhkan Masalah
Harry Kane sekali lagi membuktikan dirinya sebagai pembeda. Dua golnya melawan DR Kongo membuat Inggris terhindar dari salah satu kekalahan paling memalukan dalam sejarah mereka. The Straits Times mencatat bahwa gol tersebut juga membuat Kane terus bersaing dalam perebutan Sepatu Emas, dengan Tuchel memujinya sebagai kapten dan pemimpin yang mampu menentukan pertandingan.
Namun heroisme Kane bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, memiliki striker seperti Kane adalah anugerah. Di sisi lain, gol-gol Kane bisa menyamarkan kelemahan sistem. Ketika seorang pemain terus menyelamatkan tim, publik mungkin lupa bahwa tim itu hampir jatuh.
Dalam konteks Inggris, Kane adalah solusi paling pasti. Ia bisa menyelesaikan peluang kecil, membaca ruang, dan tetap tenang dalam tekanan. Tetapi Inggris tidak boleh hanya mengandalkan kualitas itu. Mereka harus menciptakan lebih banyak peluang bersih. Mereka harus membuat Kane tidak selalu harus menjadi penyelamat, melainkan bagian dari mesin serangan yang lebih lancar.
Jika Inggris ingin mengalahkan Meksiko di Azteca, mereka membutuhkan lebih dari sekadar Kane. Mereka membutuhkan kontrol, keberanian, dan variasi.
DR Kongo Membuka Wajah Rentan Inggris
DR Kongo pantas mendapat kredit besar. Mereka datang bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk bertanding. The Straits Times melaporkan bahwa pelatih DR Kongo, Sebastien Desabre, merasa timnya telah meninggalkan citra positif meski tersingkir, karena mereka mampu menyulitkan lawan kuat dan mencetak lima gol sepanjang turnamen.
The Guardian juga menilai DR Kongo sebagai tim yang rapi, berpengalaman dari proses kualifikasi panjang, dan lebih terhubung dibandingkan citra mereka sebagai underdog. Mereka bukan lawan yang mudah, dan Inggris merasakan itu.
Namun dari sudut pandang Inggris, justru itulah masalahnya. Jika DR Kongo bisa membuat Inggris terlihat panik, bagaimana dengan Meksiko di Azteca? Bagaimana jika nanti bertemu Prancis, Brasil, Argentina, atau Spanyol? Setiap celah yang terlihat sekarang akan dipelajari lawan berikutnya.
Piala Dunia bukan tempat untuk menyembunyikan kelemahan terlalu lama. Semakin jauh sebuah tim melangkah, semakin kecil ruang untuk memperbaiki diri. Inggris lolos dari ujian DR Kongo, tetapi mereka tidak boleh menganggap ujian itu sudah selesai. Itu baru peringatan pertama.
Meksiko Menjadi Ujian yang Lebih Berat
Hadiah dari kemenangan atas DR Kongo adalah duel melawan Meksiko di Stadion Azteca. Reuters melaporkan bahwa Tuchel menyebut laga itu sebagai pertandingan besar di stadion ikonik, dengan Inggris harus menghadapi ketinggian Mexico City sekitar 2.200 meter dan dukungan besar tuan rumah. Tuchel juga menegaskan bahwa timnya tidak akan menggunakan kondisi tersebut sebagai alasan.
The Guardian menambahkan bahwa Tuchel mengakui adaptasi ke ketinggian tidak ideal, tetapi ia percaya para pemainnya siap “menulis bab mereka sendiri” di panggung besar tersebut. Reece James masih diragukan karena masalah hamstring, sementara Jarell Quansah sudah kembali berlatih penuh dan bisa menjadi opsi di lini belakang.
Konteks ini membuat kritik Butt semakin penting. Jika skuad Inggris memang tidak seimbang, kekurangan itu akan semakin terasa di Azteca. Ketinggian akan menguji fisik. Tekanan suporter tuan rumah akan menguji mental. Meksiko yang belum kebobolan dalam turnamen akan menguji kreativitas. Dalam laga seperti itu, setiap keputusan skuad dan taktik bisa menentukan hidup-mati.
Tuchel harus menunjukkan bahwa keyakinannya bukan sekadar keras kepala. Ia harus membuktikan bahwa pilihannya punya dasar kuat.
Baca Juga:
- SBOTOP: Ketergantungan Argentina pada Lionel Messi Tak Menghalangi Kepercayaan Lionel Scaloni Menatap Duel Kontra Tanjung Verde di 32 Besar Piala Dunia
- SBOTOP : Dari Eropa ke Bandung Ragnar Oratmangoen Resmi Buka Era Baru di Persib
- SBOTOP : Kiper Timnas Indonesia Murka Vietnam Dituding Pakai Cara Kotor di AFF 2026












