Tim nasional Italia sedang mencari jalan keluar dari salah satu periode paling mengecewakan dalam sejarah sepak bolanya. Kegagalan menembus Piala Dunia 2026 membuat Gli Azzurri kembali menjadi penonton dalam turnamen terbesar dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Situasi tersebut memaksa Federasi Sepak Bola Italia, FIGC, mengambil langkah yang jauh lebih besar daripada sekadar mengganti pelatih.
Italia membutuhkan identitas baru, struktur yang lebih kuat, serta figur yang mampu mengembalikan kepercayaan publik. Di tengah proses pembenahan tersebut, nama Pep Guardiola muncul sebagai kandidat impian untuk menduduki kursi pelatih tim nasional.
Guardiola telah mengakhiri masa kepemimpinannya selama satu dekade bersama Manchester City. Pelatih asal Catalunya itu meninggalkan klub setelah mempersembahkan 20 trofi utama dan menjadi manajer tersukses dalam sejarah City. Setelah meninggalkan posisi pelatih, ia tetap terhubung dengan City Football Group sebagai duta global dan penasihat dalam sejumlah proyek teknis.
Status Guardiola yang tidak lagi terikat sebagai pelatih klub membuat kemungkinan pendekatan dari Italia semakin menarik. Akan tetapi, membawa salah satu pelatih terbaik dunia ke Coverciano tidak akan menjadi pekerjaan mudah. Selain persaingan dari negara lain, FIGC juga harus menghadapi tuntutan finansial yang jauh melampaui standar gaji seorang pelatih tim nasional.
Laporan media Italia menyebut pendapatan kotor Guardiola pada periode terakhirnya di Manchester City berada di kisaran 24,8 juta euro per tahun. Angka tersebut hampir mustahil ditanggung FIGC dengan struktur anggaran normal. Italia pun dikabarkan mempertimbangkan dukungan sponsor dan kontribusi dari lingkungan Serie A untuk menyusun penawaran yang cukup menarik.
Kegagalan Piala Dunia Memaksa Italia Berubah
Keinginan memboyong Guardiola tidak dapat dipisahkan dari krisis yang sedang dihadapi tim nasional Italia. Gli Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah tersingkir melalui jalur playoff. Hasil tersebut memperpanjang catatan buruk mereka setelah sebelumnya juga tidak tampil pada edisi 2018 dan 2022.
Bagi negara yang pernah empat kali menjadi juara dunia, tiga kegagalan beruntun merupakan pukulan besar. Italia masih mampu menjuarai Euro 2020, tetapi keberhasilan tersebut tidak diikuti konsistensi dalam kualifikasi Piala Dunia.
Permasalahan yang dihadapi dianggap lebih dalam daripada sekadar kesalahan satu pelatih. Italia perlu mengevaluasi pembinaan usia muda, kualitas kompetisi domestik, jalur perkembangan pemain, hubungan antara klub dan federasi, serta identitas permainan tim nasional.
FIGC kemudian melakukan perombakan struktural. Paolo Maldini resmi menerima posisi sebagai direktur teknik federasi sekaligus presiden Club Italia. Leonardo, mantan pemain dan direktur olahraga AC Milan serta Paris Saint-Germain, ikut dilibatkan sebagai penasihat. Penunjukan keduanya diumumkan FIGC pada 11 Juli 2026.
Kehadiran Maldini dan Leonardo menunjukkan bahwa FIGC ingin membangun proyek sepak bola yang dikelola dengan cara lebih modern. Mereka tidak hanya bertugas mencari pelatih, tetapi juga diharapkan menentukan arah teknis serta menghubungkan berbagai level tim nasional.
Dalam kerangka itulah Guardiola dipandang sebagai simbol perubahan yang paling besar.
Dari Wacana Menjadi Kandidat Impian
Nama Guardiola sebenarnya telah muncul sejak Italia mulai menghadapi risiko gagal lolos ke Piala Dunia. Pada awalnya, gagasan tersebut lebih banyak dipandang sebagai impian yang sulit diwujudkan karena ia masih memimpin Manchester City dan menerima gaji sangat tinggi.
Situasinya berubah setelah Guardiola resmi meninggalkan kursi pelatih City pada Mei 2026. Ia mengakhiri perjalanan sepuluh musim yang mengubah Manchester City menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa.
Media Italia kemudian melaporkan bahwa Maldini dan Leonardo melihat Guardiola sebagai kandidat yang layak didekati. La Gazzetta dello Sport menggambarkan namanya bukan lagi sekadar fantasi, tetapi sebagai jalur yang mulai dipertimbangkan dalam upaya membangun kembali tim nasional.
Belum ada pengumuman resmi mengenai negosiasi atau penawaran kontrak. Guardiola juga belum menyatakan bahwa dirinya telah menerima pekerjaan tersebut. Karena itu, seluruh pembicaraan harus dipahami sebagai ketertarikan dan perencanaan, bukan kesepakatan yang sudah selesai.
Namun, keberadaan Maldini dan Leonardo dapat menjadi faktor penting. Keduanya mempunyai reputasi tinggi dalam sepak bola internasional serta memahami budaya sepak bola Italia. Percakapan antara figur dengan pengalaman besar diyakini dapat membuat Guardiola tertarik mendengarkan proyek yang ditawarkan.
Biaya Besar Menjadi Hambatan Utama
Kesulitan terbesar bukan hanya membujuk Guardiola menerima tantangan, tetapi juga menemukan struktur pembayaran yang masuk akal.
Pendapatan kotornya di Manchester City dilaporkan mencapai sekitar 24,8 juta euro per musim. Jumlah tersebut berada jauh di atas kemampuan normal FIGC dan melampaui bayaran kebanyakan pelatih tim nasional.
Federasi tidak dapat begitu saja menggunakan dana dalam jumlah sangat besar untuk satu posisi tanpa memperhitungkan program pembinaan, operasional tim, kompetisi usia muda, dan berbagai kewajiban lainnya.
Salah satu opsi yang dibicarakan adalah keterlibatan sponsor. Italia pernah menggunakan model serupa ketika menunjuk Antonio Conte pada 2014. Ketika itu, sponsor membantu menanggung sebagian gaji Conte yang mencapai sekitar 4,1 juta euro.
Masalahnya, skala finansial Guardiola jauh lebih besar. Sponsor atau klub-klub Serie A mungkin dapat memberi dukungan, tetapi sulit membayangkan mereka sanggup menyamai pendapatan yang pernah diterimanya di Manchester.
Artinya, kesepakatan hanya mungkin tercapai apabila Guardiola bersedia menerima penurunan gaji signifikan. Italia harus mengganti selisih finansial tersebut dengan daya tarik proyek, kebebasan teknis, dan kesempatan membangun warisan baru.
Italia Tidak Bisa Menang Hanya dengan Uang
Judul mengenai tawaran fantastis dapat menimbulkan kesan bahwa Italia akan memperoleh Guardiola selama sanggup menyediakan uang dalam jumlah cukup. Kenyataannya, faktor finansial mungkin bukan penentu utama.
Guardiola telah menikmati karier panjang di level klub dengan berbagai pencapaian besar. Ia memimpin Barcelona, Bayern München, dan Manchester City, memenangkan kompetisi domestik, serta meraih Liga Champions.
Setelah meninggalkan City, ia berada pada tahap karier ketika tantangan dan makna proyek kemungkinan lebih penting daripada sekadar angka dalam kontrak. La Gazzetta melaporkan bahwa aspek ekonomi bisa menjadi persoalan kedua apabila Guardiola benar-benar tertarik menghadapi tantangan membangun kembali sebuah tim nasional besar.
Italia perlu meyakinkannya bahwa pekerjaan tersebut bukan tugas sementara untuk meraih hasil cepat. Guardiola akan membutuhkan kewenangan untuk membentuk gaya bermain, memperbaiki hubungan antartim nasional, dan membantu meningkatkan kualitas pengembangan pemain.
Apabila ia hanya ditawarkan kontrak mahal tanpa struktur yang jelas, ketertarikannya mungkin tidak akan bertahan. Guardiola dikenal sebagai pelatih yang membutuhkan lingkungan kerja terorganisasi dan pemain yang bersedia memahami detail taktiknya.
Karena itu, FIGC harus menjual sebuah visi, bukan hanya paket gaji.
Maldini dan Leonardo Menjadi Kunci Pendekatan
Penunjukan Paolo Maldini membawa harapan besar karena reputasinya melampaui batas Italia. Sebagai pemain, ia menjadi simbol profesionalisme, kepemimpinan, dan konsistensi bersama AC Milan serta tim nasional.
Leonardo juga mempunyai pengalaman luas dalam pengelolaan klub, perekrutan pemain, dan negosiasi di tingkat elite. Kombinasi keduanya memberi FIGC figur yang mampu berbicara dengan Guardiola dalam bahasa teknis maupun manajerial.
Laporan terbaru menyebut daya tarik utama Italia mungkin muncul dari dialog antara Maldini, Leonardo, dan Guardiola. Ketiganya dapat membahas sepak bola, struktur tim, serta tantangan membangun proyek jangka menengah tanpa menjadikan uang sebagai satu-satunya pusat percakapan.
Maldini dan Leonardo harus menjelaskan seberapa besar kendali yang akan diberikan kepada pelatih baru. Guardiola tentu tidak akan tertarik jika dirinya hanya diminta memperbaiki hasil tim senior tanpa dukungan sistem.
Ia mungkin menginginkan koordinasi dengan pelatih kelompok usia muda, akses terhadap data pemain, program pengembangan yang seragam, serta komunikasi intensif dengan klub-klub Serie A.
FIGC telah mengambil langkah awal dengan menciptakan struktur teknis baru. Kini, tantangannya adalah menunjukkan bahwa struktur tersebut mempunyai kewenangan nyata untuk mengubah sepak bola Italia.
Guardiola Punya Hubungan Emosional dengan Italia
Italia bukan negara asing bagi Guardiola. Ketika masih menjadi pemain, ia pernah memperkuat Brescia dan AS Roma. Masa tersebut membuatnya mengenal budaya, bahasa, dan karakter sepak bola Italia.
Hubungan itu menjadi salah satu alasan mengapa namanya terus dikaitkan dengan Gli Azzurri. Dalam sebuah acara olahraga di Trento pada 2018, Guardiola pernah menjawab “mengapa tidak?” ketika ditanya mengenai kemungkinan bekerja di Italia pada masa depan.
Pernyataan lama itu tentu bukan janji bahwa ia akan menerima pekerjaan tim nasional Italia. Namun, jawaban tersebut menunjukkan bahwa pintu terhadap sepak bola Italia tidak pernah benar-benar tertutup.
Pengalaman bermain di Serie A juga dapat membantunya memahami tekanan yang menyertai pekerjaan tersebut. Di Italia, pelatih tim nasional bukan hanya dinilai berdasarkan hasil. Setiap pemilihan pemain, pergantian formasi, dan keputusan taktis dapat menjadi perdebatan nasional.
Guardiola telah menghadapi tekanan besar di Barcelona, München, dan Manchester. Namun, memimpin sebuah negara yang sedang terluka akibat tiga kegagalan Piala Dunia akan menjadi tantangan berbeda.
Italia Membutuhkan Revolusi Gaya Bermain
Sepak bola Italia mempunyai tradisi taktik yang kuat. Negara tersebut melahirkan banyak pelatih hebat serta dikenal mampu menyesuaikan permainan dengan karakter lawan.
Namun, identitas Gli Azzurri dalam beberapa tahun terakhir sering terlihat berubah-ubah. Italia sempat tampil berani dan agresif ketika menjuarai Euro, tetapi gagal menjaga kesinambungan setelah turnamen tersebut.
Guardiola dapat menawarkan identitas yang lebih jelas. Tim-timnya biasa membangun permainan dari belakang, mengontrol ruang melalui penguasaan bola, menekan setelah kehilangan bola, dan memanfaatkan pergerakan pemain secara terstruktur.
Menerapkan pendekatan itu di tim nasional tidak akan mudah. Seorang pelatih negara hanya memiliki waktu latihan terbatas dan tidak dapat membeli pemain yang sesuai kebutuhan sistem.
Guardiola harus bekerja dengan materi yang tersedia. Ia juga perlu menyederhanakan sejumlah konsep agar dapat diterapkan dalam beberapa sesi latihan sebelum pertandingan internasional.
Keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan beradaptasi. Ia tidak bisa sekadar memindahkan sistem Manchester City ke Italia. Ia harus menggabungkan filosofinya dengan kekuatan tradisional pemain Italia, termasuk kecerdasan taktis, kemampuan bertahan, dan fleksibilitas posisi.
Tantangan Besar dalam Sepak Bola Internasional
Guardiola belum pernah menjadi pelatih kepala tim nasional. Pengalaman tersebut berbeda dengan pekerjaan sehari-hari di klub.
Di Manchester City, ia dapat melatih pemain hampir setiap hari, memperbaiki detail kecil, dan membangun pola selama satu musim. Bersama tim nasional, ia hanya bertemu pemain dalam jendela internasional yang singkat.
Ia harus memilih skuad dari beberapa liga, memantau kebugaran pemain yang ditangani klub berbeda, dan mengambil keputusan tanpa memiliki kendali penuh terhadap perkembangan mereka.
Turnamen internasional juga tidak memberikan banyak ruang untuk memperbaiki kesalahan. Satu pertandingan buruk dalam fase gugur dapat mengakhiri seluruh proyek.
Kapten Italia Gianluigi Donnarumma pernah mengatakan bahwa Guardiola telah membuat sejarah bersama Manchester City, tetapi ia juga mengingatkan bahwa sang pelatih meninggalkan klub dengan keinginan untuk berhenti sementara. Donnarumma menegaskan bahwa keputusan mengenai pelatih baru berada di tangan pimpinan federasi.
Pernyataan tersebut menunjukkan satu pertanyaan penting: apakah Guardiola ingin langsung kembali bekerja, atau memilih menikmati masa jeda?
Italia harus menghormati waktunya. Menawarkan kontrak besar tidak berarti dapat memaksanya mempercepat keputusan.
Pengaruh Guardiola terhadap Generasi Muda
Apabila Guardiola menerima pekerjaan tersebut, dampaknya dapat melampaui hasil tim senior.
Nama besarnya akan menarik perhatian generasi pemain muda Italia. Mereka akan berusaha memahami tuntutan teknik, kecerdasan posisi, dan disiplin yang menjadi dasar permainannya.
Guardiola juga dapat membantu mengubah cara akademi memandang profil pemain. Italia selama ini mempunyai tradisi kuat dalam menghasilkan bek dan penjaga gawang, tetapi sering dipertanyakan dalam pengembangan gelandang kreatif serta penyerang dengan kemampuan kombinasi tinggi.
Kehadiran seorang pelatih dengan filosofi jelas dapat memberi arah bagi kelompok usia muda. Namun, ia tetap membutuhkan kerja sama dari federasi dan klub.
Tim nasional tidak mempunyai wewenang penuh terhadap akademi Serie A. Karena itu, Maldini dan Leonardo perlu membangun kesepakatan mengenai menit bermain pemain muda, metode pengembangan, serta komunikasi antarpelatih.
Guardiola dapat menjadi wajah perubahan, tetapi ia tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendirian.
Risiko Tawaran Mahal
Mendatangkan nama besar selalu membawa risiko. Apabila FIGC mengeluarkan dana sangat tinggi, ekspektasi publik akan melonjak.
Guardiola mungkin dituntut segera membawa Italia menjuarai Euro atau kembali menjadi juara dunia. Setiap hasil buruk akan dibandingkan dengan nilai kontraknya.
Tekanan semacam itu dapat merusak proyek apabila federasi tidak mempunyai kesabaran. Perubahan gaya bermain membutuhkan waktu, terlebih setelah tim mengalami krisis panjang.
Ada pula risiko bahwa investasi terhadap satu pelatih mengurangi anggaran untuk kebutuhan lain. Italia tidak boleh mengorbankan pembinaan usia muda, fasilitas, pelatih akademi, dan kompetisi akar rumput hanya demi membayar seorang figur terkenal.
Tawaran fantastis hanya masuk akal jika menjadi bagian dari investasi yang lebih luas. FIGC perlu memastikan bahwa proyek tersebut tetap sehat bahkan setelah Guardiola nantinya pergi.
Warisan terbaik seorang pelatih bukan sekadar trofi, melainkan sistem yang dapat diteruskan oleh penggantinya.
Guardiola Bukan Satu-satunya Pilihan
Walaupun Guardiola menjadi nama paling menarik, Italia tetap mempunyai alternatif. Roberto Mancini dan Antonio Conte sempat disebut dalam pembahasan pelatih baru. Andrea Pirlo serta Carlo Ancelotti juga muncul dalam berbagai laporan, meskipun situasi dan ketersediaan masing-masing berbeda.
Pelatih lokal mempunyai keuntungan karena sudah memahami budaya sepak bola Italia, bahasa, tekanan media, serta karakter pemain. Beberapa dari mereka juga memiliki pengalaman langsung menangani tim nasional.
Namun, memilih Guardiola akan mengirim pesan yang berbeda. FIGC seolah ingin mengatakan bahwa Italia tidak cukup hanya memperbaiki beberapa bagian, tetapi membutuhkan perubahan menyeluruh.
Pilihan akhir harus didasarkan pada kesesuaian proyek, bukan popularitas. Seorang pelatih terkenal belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila tidak diberi kondisi yang dibutuhkan untuk bekerja.
Maldini dan Leonardo harus menilai pendekatan taktik, kemampuan memimpin ruang ganti, kesiapan menghadapi sepak bola internasional, serta komitmen terhadap proyek jangka panjang.
Baca Juga:












