1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP Prediksi Juara Piala Dunia 2026 Terbelah: Alfharezzi Buffon Pilih Prancis Daffa Fasya Dukung Inggris

Piala Dunia 2026 telah memasuki fase paling menentukan. Dari puluhan negara yang memulai perjalanan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, kini hanya empat tim yang masih memiliki kesempatan mengangkat trofi: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina.

Keempat semifinalis tersebut datang dengan karakter berbeda. Prancis menawarkan kecepatan, kekuatan fisik, serta kedalaman skuad. Spanyol mengandalkan penguasaan bola dan keberanian generasi mudanya. Argentina membawa pengalaman sebagai juara bertahan bersama Lionel Messi, sedangkan Inggris mencoba mengakhiri penantian panjang sejak keberhasilan mereka pada 1966.

Perdebatan mengenai calon juara tidak hanya berlangsung di kalangan pengamat internasional dan pendukung keempat negara. Dua pemain muda Indonesia, Muhammad Alfharezzi Buffon dan Daffa Fasya Sumawijaya, turut memberikan pilihan mereka.

Keduanya memiliki pandangan berbeda. Buffon menjagokan Prancis, sementara Daffa percaya Inggris akan keluar sebagai juara. Pilihan tersebut disampaikan menjelang pertandingan semifinal, tidak lama setelah mereka diumumkan sebagai rekrutan baru Garudayaksa FC untuk menghadapi kompetisi musim 2026/2027.

Perbedaan prediksi mereka menarik karena Prancis dan Inggris berpotensi bertemu di partai final. Namun, sebelum skenario itu terwujud, Les Bleus harus melewati Spanyol, sedangkan The Three Lions menghadapi juara bertahan Argentina.

Dua Rekan Baru dengan Pilihan Berbeda

Alfharezzi Buffon dan Daffa Fasya mempunyai cukup banyak kesamaan. Keduanya merupakan pemain muda Indonesia, pernah menimba pengalaman bersama Borneo FC, dan kini sama-sama memulai petualangan baru di Garudayaksa FC.

Meski demikian, pilihan mereka mengenai calon juara Piala Dunia 2026 tidak sama.

Ketika ditanya melalui konten media sosial klub mengenai negara favoritnya, Daffa langsung memilih Inggris. Sang penjaga gawang percaya tim yang diperkuat Harry Kane, Jude Bellingham, Declan Rice, dan sejumlah pemain papan atas lainnya mempunyai kualitas untuk menyingkirkan Argentina sebelum menuntaskan perjalanan di final.

Buffon memberikan jawaban berbeda. Bek yang juga pernah menjadi bagian penting Timnas Indonesia U-23 tersebut memilih Prancis sebagai kandidat terkuat. Ia melihat Les Bleus memiliki materi pemain serta pengalaman turnamen yang diperlukan untuk kembali menjadi juara dunia.

Jawaban singkat keduanya kemudian membuka pembahasan lebih luas. Apakah Prancis memang menjadi tim paling lengkap? Atau justru Inggris akhirnya siap mengakhiri penantian gelar selama enam dekade?

Buffon Terpikat Kekuatan Prancis

Pilihan Alfharezzi Buffon terhadap Prancis cukup mudah dipahami. Les Bleus merupakan salah satu tim paling konsisten dalam sepak bola internasional selama satu dekade terakhir.

Mereka menjadi juara dunia pada 2018, mencapai final pada 2022, dan kembali berada di semifinal pada edisi 2026. Apabila berhasil melewati Spanyol, Prancis akan mencatat tiga penampilan final Piala Dunia secara beruntun, sebuah pencapaian yang hanya pernah dilakukan sedikit negara.

Kekuatan Prancis terletak pada keseimbangan antara pengalaman dan regenerasi. Didier Deschamps masih memiliki pemain yang telah merasakan tekanan pertandingan besar, tetapi ia juga mulai memberikan ruang kepada wajah-wajah baru dengan energi serta kreativitas berbeda.

Kylian Mbappé tetap menjadi pusat perhatian. Kecepatan, penyelesaian akhir, dan kemampuannya menciptakan peluang membuat kapten Prancis itu menjadi ancaman utama bagi setiap lawan. Menjelang semifinal, Mbappé juga berada di jajaran teratas daftar pencetak gol turnamen, meskipun kondisi pergelangan kakinya sempat mendapatkan perhatian.

Di sekelilingnya terdapat Ousmane Dembélé, Michael Olise, Désiré Doué, dan sejumlah penyerang lain yang mampu mengubah pertandingan. Prancis tidak hanya memiliki satu jalur serangan. Mereka dapat bermain langsung melalui kecepatan, membangun kombinasi dari sisi lapangan, atau memanfaatkan kemampuan individu ketika menghadapi pertahanan rapat.

Kedalaman Skuad Menjadi Modal Les Bleus

Dalam turnamen singkat, kualitas sebelas pemain utama memang penting. Namun, perjalanan menuju gelar sering ditentukan oleh kedalaman bangku cadangan.

Cedera, akumulasi kartu, kelelahan, dan perubahan situasi pertandingan dapat memaksa pelatih melakukan penyesuaian. Dalam aspek ini, Prancis mempunyai keuntungan besar.

Deschamps memiliki beberapa pilihan di hampir setiap posisi. Pada lini tengah, ia dapat menggunakan Aurélien Tchouaméni, Adrien Rabiot, Manu Koné, atau Warren Zaïre-Emery. Masing-masing menawarkan karakter berbeda, mulai dari perlindungan defensif, kemampuan membawa bola, hingga energi untuk melakukan tekanan.

Kembalinya Tchouaméni dari masalah hamstring juga memberikan opsi tambahan menjelang semifinal. Meski kondisinya belum sepenuhnya sempurna, kehadirannya memperkuat kemampuan Prancis untuk bertarung melawan lini tengah Spanyol.

Buffon, yang beroperasi sebagai pemain bertahan, mungkin melihat struktur pertahanan Prancis sebagai salah satu alasan di balik pilihannya. Les Bleus memiliki bek dengan kecepatan, kekuatan duel, dan pengalaman menghadapi penyerang terbaik dunia.

Prancis juga mampu mengubah gaya permainan. Mereka dapat mendominasi bola ketika menghadapi lawan yang bertahan, tetapi tetap berbahaya saat harus menunggu dan melakukan transisi cepat. Fleksibilitas tersebut membuat mereka sulit ditebak.

Ujian Prancis Bernama Spanyol

Walaupun difavoritkan Buffon, perjalanan Prancis menuju final tidak akan mudah. Spanyol menjadi lawan yang sangat berbahaya karena mampu mengendalikan pertandingan melalui penguasaan bola.

La Roja juga memiliki catatan positif dalam pertemuan kompetitif terakhir melawan Prancis. Mereka menyingkirkan Les Bleus pada semifinal Euro 2024, kemudian kembali mengalahkan lawan yang sama di semifinal UEFA Nations League 2025.

Namun, Deschamps menolak menjadikan kekalahan masa lalu sebagai beban. Menurutnya, komposisi pemain, kondisi, serta dinamika turnamen telah berubah.

Prancis bahkan tidak ingin hanya menunggu serangan balik. Mereka menyiapkan pertarungan untuk merebut kendali lini tengah dan mencegah Spanyol menjalankan sirkulasi bola dengan nyaman.

Spanyol mempunyai Lamine Yamal, seorang pemain muda dengan keberanian serta kemampuan menggiring yang luar biasa. Mereka juga memiliki gelandang yang mampu mempertahankan bola di ruang sempit serta menekan lawan segera setelah kehilangan penguasaan.

Karena itu, pilihan Buffon terhadap Prancis tetap menghadapi risiko besar. Les Bleus harus tampil disiplin, agresif, dan efisien. Jika memberi terlalu banyak ruang kepada Spanyol, mereka dapat dipaksa bertahan dalam waktu lama.

Daffa Fasya Percaya pada Kebangkitan Inggris

Berbeda dari Buffon, Daffa Fasya meyakini bahwa Inggris akan menjadi juara Piala Dunia 2026.

Pilihan tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap generasi The Three Lions yang dipenuhi pemain berpengalaman di kompetisi elite Eropa. Inggris telah lama mempunyai materi skuad berkualitas, tetapi kerap gagal mengubah potensi menjadi trofi.

Pada edisi kali ini, mereka kembali mencapai semifinal setelah menyingkirkan Norwegia dengan skor 2-1. Jude Bellingham menjadi pahlawan melalui dua gol, termasuk gol penting dalam perpanjangan waktu.

Hasil tersebut memperlihatkan karakter yang menjadi dasar keyakinan Daffa. Inggris tidak selalu bermain sempurna, tetapi mampu bertahan ketika pertandingan menjadi sulit. Mereka dapat bangkit, menjaga fokus, dan menemukan jalan menuju kemenangan.

Daffa merupakan seorang penjaga gawang. Dari perspektif posisinya, ia mungkin menghargai struktur permainan Inggris, kekuatan duel, serta kemampuan tim mempertahankan ketenangan dalam pertandingan gugur.

Tim juara tidak harus mendominasi setiap menit. Mereka membutuhkan kemampuan menghadapi tekanan, menghindari kesalahan fatal, dan memanfaatkan momentum. Inggris menunjukkan karakter tersebut ketika menghadapi Norwegia.

Bellingham Menjadi Penggerak Utama

Salah satu alasan terbesar untuk mempercayai Inggris adalah keberadaan Jude Bellingham.

Gelandang Real Madrid tersebut telah berkembang menjadi pemimpin permainan meskipun usianya masih relatif muda. Ia mampu membantu pertahanan, membawa bola melewati tekanan, memasuki kotak penalti, dan mencetak gol pada momen penting.

Dua golnya ke gawang Norwegia memperlihatkan bahwa Bellingham tidak takut terhadap tekanan pertandingan besar. Ketika Inggris membutuhkan inspirasi, ia muncul sebagai pembeda.

Selain Bellingham, Inggris masih mempunyai Harry Kane. Sang kapten memiliki pengalaman, kemampuan menyelesaikan peluang, serta kecerdasan dalam menghubungkan permainan. Ia tidak harus selalu berada di dalam kotak penalti. Kane dapat turun, menarik bek, lalu membuka ruang bagi pemain lain.

Declan Rice memberikan perlindungan dan tenaga di lini tengah. Para pemain sayap menawarkan kecepatan, sedangkan lini belakang diisi bek yang terbiasa menghadapi intensitas tinggi setiap pekan.

Materi tersebut membuat prediksi Daffa tidak dapat dianggap sekadar dukungan emosional. Inggris memang memiliki kualitas untuk menjadi juara. Pertanyaannya adalah apakah mereka mampu menjaga konsistensi dalam dua pertandingan terakhir.

Argentina Menjadi Ujian Mental Terbesar

Sebelum memikirkan final, Inggris harus melewati Argentina. Inilah tantangan terbesar bagi keyakinan Daffa Fasya.

Argentina merupakan juara bertahan dan mempunyai pengalaman menghadapi tekanan turnamen. Mereka mungkin tidak selalu tampil dominan pada Piala Dunia 2026, tetapi terus menemukan cara untuk bertahan.

La Albiceleste membutuhkan perpanjangan waktu untuk mengalahkan Swiss 3-1 pada perempat final. Alexis Mac Allister, Julián Álvarez, dan Lautaro Martínez mencetak gol yang membawa Argentina menuju semifinal.

Lionel Messi tetap menjadi pusat permainan mereka. Meski telah berusia 39 tahun, ia masih mampu mengatur ritme, memberikan umpan penentu, dan mencetak gol.

Pertemuan semifinal juga menjadi kesempatan pertama Messi menghadapi tim senior Inggris sepanjang kariernya. Duel tersebut menambahkan lapisan sejarah pada pertandingan yang sudah dipenuhi tekanan.

Inggris harus menemukan cara membatasi pengaruh Messi tanpa meninggalkan ruang bagi Álvarez, Lautaro, atau gelandang Argentina. Terlalu fokus kepada sang kapten dapat membuat ancaman lain tidak terjaga.

Keunggulan Inggris Ada pada Energi dan Fisik

Argentina memiliki pengalaman, tetapi Inggris dapat mencoba memanfaatkan energi dan intensitas permainannya.

Bellingham, Rice, dan gelandang lain dapat menekan pembawa bola serta memaksa Argentina bermain lebih cepat daripada yang mereka inginkan. Para bek Inggris juga mempunyai kekuatan fisik untuk menghadapi duel langsung.

Jika mampu mengendalikan area tengah, Inggris dapat mengurangi jumlah bola yang diterima Messi di dekat kotak penalti. Mereka juga dapat menyerang ruang di belakang bek sayap Argentina melalui pemain-pemain cepat.

Namun, Inggris harus berhati-hati agar agresivitas tidak berubah menjadi ketidaksabaran. Argentina sangat berpengalaman memanfaatkan pelanggaran, menghentikan ritme, dan mengarahkan pertandingan ke situasi yang menguntungkan mereka.

Satu kesalahan kecil dapat menjadi penentu. Karena itu, kekuatan fisik harus diimbangi ketenangan.

Daffa menjagokan Inggris karena kemungkinan melihat bahwa tim ini sudah semakin matang. Mereka tidak hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi mulai menunjukkan kemampuan menderita bersama.

Prancis dan Inggris Bisa Bertemu di Final

Apabila prediksi Buffon dan Daffa sama-sama benar pada semifinal, Prancis dan Inggris akan bertemu di partai puncak.

Skenario itu akan membuat perdebatan mereka semakin menarik. Dua rekan baru di Garudayaksa FC akan melihat negara favorit masing-masing saling berhadapan untuk memperebutkan trofi.

Final Prancis melawan Inggris juga menawarkan pertarungan yang sangat seimbang. Prancis memiliki kecepatan serta kedalaman, sedangkan Inggris mempunyai kekuatan lini tengah dan kemampuan menghadapi pertandingan ketat.

Duel Mbappé melawan pertahanan Inggris akan menjadi pusat perhatian. Pada sisi lain, Prancis harus menemukan cara membatasi Bellingham dan Kane.

Kedua negara juga membawa tekanan sejarah berbeda. Prancis ingin kembali menjadi juara setelah kegagalan pada final 2022. Inggris mencoba meraih trofi dunia kedua setelah menunggu sejak 1966.

Namun, skenario tersebut belum tentu terwujud. Spanyol dan Argentina sama-sama memiliki kualitas untuk menggagalkan prediksi dua pemain Indonesia itu.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE