1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Declan Rice Sebut Generasi Inggris Saat Ini sebagai Skuad Terkuat dalam Puluhan Tahun

Declan Rice menutup perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026 dengan rasa bangga yang bercampur penyesalan. The Three Lions memang gagal mencapai final dan belum mampu mengakhiri penantian panjang terhadap trofi internasional utama. Namun, gelandang Arsenal tersebut tetap meyakini bahwa tim yang dimiliki Inggris saat ini merupakan kelompok terbaik yang pernah dibentuk negaranya dalam waktu sangat lama.

Penilaian Rice tidak hanya didasarkan pada nama-nama besar yang menghuni skuad. Menurutnya, kualitas Inggris juga terlihat dari kedalaman pemain, persaingan sehat di setiap posisi, kebersamaan di ruang ganti, serta kemampuan tim untuk terus memberikan respons setelah mengalami kekecewaan.

Inggris menyelesaikan Piala Dunia 2026 di peringkat ketiga setelah mengalahkan Prancis 6-4 dalam pertandingan perebutan medali perunggu di Miami. Hasil tersebut menjadi pencapaian terbaik tim putra Inggris di Piala Dunia sejak menjadi juara pada 1966. Thomas Tuchel juga menyebut keberhasilan itu sebagai medali pertama Inggris dalam 60 tahun dan pencapaian terbaik mereka dalam Piala Dunia yang digelar di luar negeri.

Meski demikian, Rice memahami bahwa kualitas sebuah generasi pada akhirnya akan dinilai melalui trofi. Inggris sudah beberapa kali mendekati puncak dalam beberapa turnamen terakhir, tetapi selalu gagal mengambil langkah terakhir. Karena itu, pernyataannya mengenai kekuatan skuad bukanlah alasan untuk cepat merasa puas. Sebaliknya, hal itu menjadi tantangan agar generasi tersebut mengubah potensi besar menjadi keberhasilan nyata.

Keyakinan Besar Declan Rice

Rice menilai Inggris memiliki kelompok pemain terbaik dalam waktu yang sangat lama. Pernyataan itu muncul setelah perjalanan mereka berakhir dengan medali perunggu, hanya beberapa hari setelah kalah 1-2 dari Argentina pada semifinal. Ia menekankan bahwa tim harus terus bergerak maju dan tidak boleh membiarkan kegagalan kembali menghentikan ambisi mereka.

Sebagai salah satu pemimpin utama tim, Rice memiliki dasar kuat untuk memberikan penilaian tersebut. Ia telah menjadi bagian dari Inggris dalam beberapa turnamen besar dan menyaksikan langsung perkembangan skuad dari waktu ke waktu.

Ia pernah merasakan perjalanan menuju final Euro 2020, tampil ketika Inggris mencapai perempat final Piala Dunia 2022, kembali menjadi runner-up di Euro 2024, lalu membantu tim menempati peringkat ketiga pada Piala Dunia 2026.

Pengalaman tersebut membuat Rice memahami perbedaan antara tim yang hanya memiliki pemain berbakat dan skuad yang benar-benar mampu bersaing di tahap akhir turnamen.

Generasi Inggris sekarang memiliki keduanya. Mereka diperkuat pemain yang telah berpengalaman dalam pertandingan terbesar di level klub, tetapi juga mempunyai talenta muda yang datang dengan keberanian serta energi baru.

Rice melihat para pemain tidak lagi datang ke turnamen dengan sekadar harapan untuk melaju jauh. Ekspektasinya telah berubah. Mencapai perempat final atau semifinal tidak lagi dianggap sebagai kejutan besar. Inggris kini memasuki setiap kompetisi dengan target menjadi juara.

Perubahan mentalitas itulah yang menjadi salah satu alasan Rice menyebut kelompok ini istimewa.

Kedalaman Skuad yang Sulit Ditandingi

Salah satu kekuatan terbesar Inggris terletak pada kedalaman pemain di hampir setiap posisi. Tuchel membawa kelompok yang memadukan pengalaman Harry Kane, Jordan Pickford, John Stones, Jordan Henderson, dan Marcus Rashford dengan pemain yang berada pada usia terbaik seperti Rice, Bukayo Saka, Jude Bellingham, Marc Guéhi, serta Ezri Konsa.

Di belakang mereka terdapat pemain-pemain seperti Elliot Anderson, Morgan Rogers, Nico O’Reilly, Anthony Gordon, Noni Madueke, Djed Spence, Kobbie Mainoo, Jarell Quansah, dan sejumlah talenta lainnya yang masih mempunyai ruang besar untuk berkembang. Daftar resmi Inggris untuk Piala Dunia 2026 menunjukkan banyaknya alternatif yang dimiliki Tuchel di setiap lini.

Kedalaman tersebut terlihat jelas dalam pertandingan melawan Prancis. Kane, Bellingham, dan beberapa pemain inti lainnya tidak memulai laga. Namun, Inggris tetap mampu mencetak empat gol pada babak pertama.

Rice membuka skor pada menit ketiga, Konsa menggandakan keunggulan, lalu Saka mencetak dua gol sebelum turun minum. Bellingham yang masuk dari bangku cadangan kemudian menutup kemenangan melalui gol pada masa tambahan waktu.

Situasi seperti itu menunjukkan bahwa Inggris tidak bergantung hanya kepada satu susunan pemain.

Ketika seorang pemain absen, mengalami cedera, atau dipilih sebagai cadangan karena pertimbangan taktik, pemain lain tetap mampu memberikan kontribusi besar. Persaingan untuk masuk ke tim utama memang semakin ketat, tetapi kondisi tersebut juga meningkatkan standar latihan serta penampilan.

Bagi Rice, kedalaman bukan hanya soal memiliki pemain terkenal. Nilai sebenarnya terlihat ketika pemain yang jarang mendapatkan kesempatan tetap siap menjalankan tugas tanpa mengganggu persatuan tim.

Pemain Kelas Dunia di Berbagai Posisi

Inggris memiliki beberapa pemain yang dianggap termasuk terbaik di dunia pada posisi masing-masing.

Kane masih menjadi salah satu penyerang paling komplet. Selain mencetak gol, ia mampu turun ke lini tengah, menghubungkan permainan, dan memberikan umpan kepada pemain yang bergerak dari sisi sayap.

Saka menawarkan kecepatan, kreativitas, dan penyelesaian akhir. Hattricknya dalam kemenangan 6-4 atas Prancis menegaskan kemampuannya menentukan pertandingan besar. Penyerang Arsenal itu mencetak dua gol sebelum jeda dan melengkapi trigolnya melalui penalti pada menit ke-87.

Bellingham menghadirkan kualitas berbeda dari lini tengah. Ia bukan sekadar pengatur permainan, tetapi juga pencetak gol yang sangat produktif. Golnya melawan Prancis merupakan gol ketujuhnya pada Piala Dunia 2026, menjadikannya pemain putra Inggris dengan jumlah gol terbanyak dalam satu edisi turnamen besar.

Rice sendiri menjadi sumber keseimbangan. Ia melindungi pertahanan, memenangkan duel, membawa bola melewati tekanan, dan membantu tim mempertahankan kontrol. Perkembangan permainannya juga membuat ia semakin berani bergerak maju dan memberikan kontribusi di sepertiga akhir lapangan.

Pada laga perebutan tempat ketiga, Rice tidak hanya mengenakan ban kapten ketika Kane tidak menjadi starter. Ia juga mencetak gol pembuka setelah pertandingan berjalan sekitar dua menit. Gol tersebut menjadi salah satu gol tercepat dalam sejarah pertandingan perebutan posisi ketiga Piala Dunia.

Kombinasi pemain-pemain tersebut memberikan Inggris fondasi yang sangat kuat. Mereka mempunyai kualitas teknik, fisik, pengalaman, dan fleksibilitas taktis untuk menghadapi berbagai jenis lawan.

Rice Tumbuh Menjadi Pemimpin Utama

Pernyataan Rice memiliki bobot lebih besar karena posisinya di dalam tim. Menjelang Piala Dunia 2026, Tuchel secara resmi menunjuknya sebagai wakil kapten Inggris di belakang Kane.

Pelatih asal Jerman itu menjelaskan bahwa keputusan tersebut terasa jelas karena Rice sudah menjadi bagian penting dalam kelompok kepemimpinan tim. Ketika Kane tidak tersedia, Rice menjadi pilihan utama untuk mengenakan ban kapten.

Peran tersebut memperlihatkan perkembangan Rice sejak pertama kali masuk ke tim nasional Inggris pada 2019. Ia awalnya dikenal sebagai gelandang bertahan muda dengan kemampuan memutus serangan. Kini, ia menjadi pemain yang mengatur tempo, memberikan instruksi, membawa energi, dan membantu menjaga mentalitas seluruh kelompok.

Kepemimpinan Rice tidak hanya terlihat ketika ia berbicara kepada media. Di lapangan, ia sering menjadi pemain yang menutup ruang, mengejar lawan, dan terus bergerak ketika rekan setim mulai kehilangan energi.

Dalam perjalanan panjang sebuah turnamen, kehadiran pemain seperti Rice sangat penting. Piala Dunia tidak hanya membutuhkan kualitas teknik. Tim juga harus menghadapi perjalanan, perubahan cuaca, tekanan publik, jadwal padat, serta kelelahan fisik dan mental.

Rice bahkan harus mengelola masalah pada hamstring dan punggung bawah selama fase gugur. Meski kondisinya sempat membuatnya berlatih terpisah, ia tetap menjadi salah satu pemain utama Inggris dan tampil dalam tujuh dari delapan pertandingan mereka.

Kemampuan untuk terus memberikan kontribusi dalam kondisi seperti itu membuat pendapatnya mengenai kualitas skuad semakin relevan.

Bukti Perkembangan Inggris dalam Turnamen Besar

Pencapaian Inggris dalam beberapa turnamen terakhir menjadi dasar lain bagi optimisme Rice.

Sejak 2018, tim putra Inggris jauh lebih konsisten dalam mencapai tahap akhir kompetisi dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Mereka mencapai semifinal Piala Dunia 2018, final Euro 2020, perempat final Piala Dunia 2022, final Euro 2024, dan semifinal Piala Dunia 2026.

Sebelum edisi 2026, Inggris telah mencapai empat semifinal turnamen besar sejak 2018, jumlah yang menyamai total semifinal yang mereka capai sepanjang sejarah sebelum periode tersebut.

Statistik tersebut menggambarkan perubahan besar. Pada masa lalu, Inggris sering datang dengan ekspektasi tinggi, tetapi tersingkir lebih awal akibat penalti, kesalahan individual, tekanan berlebihan, atau ketidakmampuan mengendalikan pertandingan besar.

Generasi sekarang belum sepenuhnya menghapus persoalan tersebut, tetapi mereka telah membangun konsistensi yang sebelumnya jarang terlihat.

Mencapai tahap akhir turnamen kini bukan lagi kejadian sesekali. Inggris telah menjadi peserta tetap dalam pembicaraan mengenai calon juara.

Inilah perbedaan penting antara generasi saat ini dengan beberapa skuad berbakat sebelumnya. Tim Inggris pada awal 2000-an, misalnya, diperkuat banyak pemain bintang di level klub. Namun, mereka tidak pernah melewati perempat final Piala Dunia maupun Euro.

Skuad saat ini mungkin masih menunggu trofi, tetapi telah berulang kali menunjukkan kemampuan bertahan dalam kompetisi hingga pekan terakhir.

Kebersamaan yang Menjadi Kekuatan

Rice juga menilai kualitas kelompok tidak dapat diukur hanya melalui susunan pemain. Hubungan antarpemain menjadi elemen penting dalam perjalanan panjang turnamen.

Sebelum pertandingan melawan Prancis, Rice menyampaikan terima kasih kepada pendukung Inggris dan menegaskan bahwa seluruh pemain merasakan dukungan besar selama berada di Amerika Utara. Ia meminta para suporter tetap bersama tim untuk satu pertandingan terakhir.

Pesan itu memperlihatkan bahwa Inggris berusaha menjaga hubungan antara pemain dan penggemar, bahkan setelah kekecewaan di semifinal.

Di dalam skuad, pemain yang tidak menjadi starter tetap memiliki peran. Jordan Henderson, misalnya, membawa pengalaman dari berbagai turnamen dan membantu menjaga standar profesional. Pemain-pemain muda mendapatkan bimbingan dari mereka yang telah berkali-kali menghadapi tekanan internasional.

Kebersamaan itu juga terlihat dari cara tim merayakan gol serta mendukung rekan yang mengalami masa sulit.

Ketika Saka mendapatkan kesempatan mengambil penalti untuk menyelesaikan hattrick melawan Prancis, Bellingham menyerahkan bola kepadanya. Momen sederhana tersebut memperlihatkan bahwa pencapaian seorang pemain dapat dirayakan sebagai keberhasilan bersama.

Sebuah skuad kuat tidak selalu berarti semua pemain merasa puas dengan menit bermain mereka. Persaingan tetap dapat menimbulkan kekecewaan. Namun, kemampuan mengelola rasa kecewa tanpa merusak tujuan kolektif menjadi tanda kedewasaan.

Kegagalan Melawan Argentina Tetap Menjadi Luka

Meski bangga dengan timnya, Rice tidak dapat mengabaikan kekalahan dari Argentina pada semifinal.

Inggris kalah 1-2 setelah sempat berada dalam posisi untuk mencapai final. Kekalahan tersebut terasa sangat menyakitkan karena target mereka sejak awal bukan sekadar mendapatkan medali, melainkan menjadi juara dunia.

Tuchel mengakui rasa sakit itu akan bertahan. Menurutnya, tim telah menetapkan standar tertinggi sekitar 18 bulan sebelumnya: mencapai final dan memenangkan Piala Dunia. Karena target tersebut gagal dipenuhi, para pemain belum langsung mampu menikmati keberhasilan finis ketiga.

Situasi itu juga menjelaskan makna sebenarnya dari pernyataan Rice.

Ketika ia menyebut Inggris sebagai skuad terbaik dalam waktu yang lama, ia tidak sedang merayakan peringkat ketiga seolah-olah itu merupakan hasil maksimal. Ia justru menyampaikan bahwa kualitas kelompok tersebut terlalu besar untuk terus gagal meraih trofi.

Semakin kuat sebuah tim, semakin tinggi pula tanggung jawabnya.

Inggris tidak dapat terus menggunakan usia muda, proses pembangunan, atau nasib buruk sebagai alasan. Banyak pemain utama telah tampil dalam beberapa turnamen. Mereka kini mempunyai pengalaman untuk memahami cara mengelola pertandingan fase gugur.

Kekalahan dari Argentina harus dianalisis secara jujur. Inggris perlu mempelajari mengapa mereka kehilangan kontrol, apakah pergantian pemain dilakukan pada waktu yang tepat, dan bagaimana mereka dapat bertahan tanpa menjadi terlalu pasif.

Thomas Tuchel dan Perubahan Identitas Inggris

Piala Dunia 2026 merupakan turnamen internasional pertama Tuchel sebagai pelatih tim nasional. Ia mewarisi kelompok berbakat, tetapi juga menerima tugas berat untuk membawa Inggris melewati batas yang belum berhasil dilampaui pelatih sebelumnya.

Tuchel mencoba memberikan fleksibilitas taktis yang lebih besar. Inggris dapat bermain dengan garis pertahanan berbeda, mengubah struktur lini tengah, dan memanfaatkan beberapa tipe penyerang.

Namun, pendekatannya juga menerima kritik. Setelah kekalahan dari Argentina, Tuchel disorot karena dianggap terlalu defensif setelah timnya memperoleh keunggulan. Keputusan tidak memainkan Saka pada semifinal juga menjadi perdebatan, terutama setelah winger tersebut mencetak hattrick melawan Prancis.

Tuchel menjelaskan bahwa kondisi Achilles Saka serta pertimbangan menggunakan kekuatan fisik Morgan Rogers memengaruhi keputusannya. Ia tetap menegaskan bahwa Saka merupakan pemain penting bagi Inggris.

Perdebatan tersebut menunjukkan tantangan besar dalam menangani skuad dengan banyak pemain berkualitas.

Pelatih harus memilih sebelas pemain utama dari berbagai kandidat yang layak tampil. Setiap keputusan yang gagal menghasilkan kemenangan akan dipertanyakan.

Meski begitu, kedalaman seperti itu merupakan masalah yang lebih baik daripada kekurangan pilihan. Tugas Tuchel selanjutnya adalah menemukan kombinasi terbaik dan menciptakan identitas yang dapat bertahan ketika tekanan meningkat.

Kualitas Saja Belum Cukup

Sejarah sepak bola dipenuhi tim hebat yang gagal meraih trofi. Karena itu, label skuad terkuat tidak otomatis menjamin kesuksesan.

Inggris masih membutuhkan kemampuan mengelola detail kecil. Pada fase gugur, satu keputusan, satu kehilangan bola, atau satu momen kehilangan konsentrasi dapat mengubah seluruh turnamen.

Mereka juga harus belajar membedakan antara kontrol dan kepasifan. Ketika unggul, sebuah tim tidak harus terus menyerang tanpa perhitungan. Namun, bertahan terlalu dalam dapat memberikan lawan momentum serta meningkatkan tekanan.

Hal yang sama berlaku ketika menghadapi tim dengan pertahanan rapat. Hasil imbang 0-0 melawan Ghana pada fase grup menunjukkan Inggris masih dapat kesulitan membongkar lawan yang bermain dalam blok rendah. Mereka menguasai bola, tetapi tidak banyak menciptakan peluang bersih.

Skuad terbaik harus mampu menang dalam berbagai cara. Mereka perlu nyaman dalam pertandingan terbuka, duel fisik, permainan dengan tempo lambat, maupun laga yang membutuhkan kesabaran.

Potensi itu tersedia. Tantangannya adalah menampilkan seluruh kualitas tersebut secara konsisten.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE