1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Akhir Manis bagi Inggris dan Prancis di Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 menghadirkan penutup yang tidak biasa bagi Inggris dan Prancis. Keduanya gagal mencapai pertandingan final, tetapi pertemuan dalam laga perebutan tempat ketiga justru menghasilkan salah satu tontonan paling menghibur sepanjang turnamen. Inggris menang 6-4 dalam pertandingan penuh gol, perubahan momentum, rekor individu, dan emosi yang bertahan sampai masa tambahan waktu.

Bagi Inggris, istilah “akhir manis” dapat dipahami secara langsung. The Three Lions meraih medali perunggu untuk pertama kalinya dan mencatatkan hasil terbaik mereka di Piala Dunia sejak menjadi juara pada 1966. Bagi Prancis, maknanya lebih rumit. Les Bleus memang kalah dan finis di posisi keempat, tetapi Kylian Mbappé serta Michael Olise pulang dengan rekor bersejarah, sementara Didier Deschamps menutup masa kepelatihannya dengan warisan yang tetap sangat kuat.

Pertandingan di Miami itu menjadi bukti bahwa laga perebutan tempat ketiga bukan sekadar agenda pelengkap. Dua tim yang baru menelan kekecewaan di semifinal memilih bermain terbuka dan memberikan pertunjukan luar biasa. Inggris sempat unggul empat gol, Prancis bangkit hingga hanya tertinggal satu, lalu kedua tim terus menyerang sampai skor akhirnya terkunci pada 6-4.

Dua Tim Datang dengan Luka Semifinal

Inggris dan Prancis sebenarnya berangkat ke Piala Dunia 2026 dengan target menjadi juara. Keduanya memiliki skuad bertabur pemain elite dan pengalaman panjang di turnamen besar. Namun, perjalanan menuju final terhenti hanya satu langkah sebelum laga puncak.

Prancis dikalahkan Spanyol 0-2 pada semifinal. Tim asuhan Deschamps kesulitan keluar dari tekanan dan gagal memaksimalkan lini serang yang sebelumnya terlihat sangat produktif. Sehari kemudian, Inggris kalah 1-2 dari Argentina setelah pertandingan yang berjalan ketat dan dramatis.

Kekalahan tersebut membuat kedua tim harus mengalihkan fokus dalam waktu singkat. Mereka tidak lagi bermain untuk trofi utama, melainkan memperebutkan medali perunggu. Secara psikologis, situasi seperti itu tidak mudah. Para pemain harus mengatasi rasa kecewa, kelelahan, dan perasaan bahwa target terbesar telah hilang.

Namun, Inggris serta Prancis memilih tidak menjalani pertandingan terakhir dengan setengah hati. Mereka tampil agresif, berani mengambil risiko, dan menciptakan duel yang jauh lebih menarik daripada perkiraan banyak orang.

Inggris Mengawali Laga dengan Sempurna

Inggris langsung mengambil kendali dan mencetak gol ketika pertandingan baru berjalan tiga menit. Declan Rice membuka keunggulan serta memberikan kepercayaan diri besar kepada timnya. Gol cepat itu juga memaksa Prancis meninggalkan rencana awal lebih dini.

The Three Lions kemudian menggandakan skor melalui Ezri Konsa pada menit ke-19. Kehadiran seorang pemain bertahan di daftar pencetak gol menggambarkan bagaimana Inggris menyerang dengan banyak pilihan. Ancaman tidak hanya datang dari penyerang, tetapi juga dari gelandang dan bek yang ikut memanfaatkan ruang.

Bukayo Saka membuat situasi semakin buruk bagi Prancis. Pemain sayap tersebut mencetak gol pada menit ke-37, lalu kembali menjebol gawang Les Bleus pada masa tambahan babak pertama. Inggris pun memasuki ruang ganti dengan keunggulan 4-0.

Empat gol tersebut lahir dari permainan yang efisien. Inggris bergerak cepat ketika merebut bola, memanfaatkan jarak antarlini Prancis, dan tidak membuang terlalu banyak peluang. Setiap serangan terasa terarah, sementara pertahanan Les Bleus terlihat kehilangan koordinasi.

Prancis Menolak Menyerah

Tertinggal 0-4 pada jeda dapat membuat sebuah tim kehilangan motivasi. Prancis justru kembali ke lapangan dengan energi berbeda. Les Bleus meningkatkan tekanan, mempercepat sirkulasi bola, serta menempatkan lebih banyak pemain di wilayah Inggris.

Kylian Mbappé memulai kebangkitan pada menit ke-48. Gol tersebut mengubah suasana pertandingan dan menghidupkan keyakinan Prancis. Bradley Barcola kemudian mencetak gol kedua pada menit ke-54, membuat selisih menyusut hanya dalam waktu singkat.

Mbappé kembali mencetak gol pada menit ke-66 setelah menerima pelayanan Michael Olise. Skor berubah menjadi 4-3, dan Inggris yang sebelumnya terlihat sangat nyaman tiba-tiba menghadapi tekanan luar biasa.

Kebangkitan itu menunjukkan karakter Prancis. Walaupun tidak berhasil membalikkan hasil, mereka menolak mengakhiri era Deschamps dengan penampilan pasif. Para pemain terus mengejar bola, menyerang, dan membuat pertandingan kembali terbuka.

Bagi penonton netral, perubahan dari 0-4 menjadi 3-4 menciptakan drama yang sulit diprediksi. Setiap serangan Prancis terasa dapat menghasilkan gol penyeimbang, sementara Inggris harus menemukan cara untuk menghentikan momentum lawan.

Bukayo Saka Menjadi Pahlawan Inggris

Ketika Prancis semakin dekat, Inggris membutuhkan pemain yang dapat mengambil tanggung jawab. Bukayo Saka menjawab kebutuhan tersebut.

The Three Lions memperoleh penalti menjelang akhir waktu normal. Saka maju sebagai eksekutor dan menyelesaikan tugasnya dengan tenang. Gol itu membuat Inggris unggul 5-3 sekaligus melengkapi hat-trick sang pemain.

Hat-trick tersebut menjadi salah satu penampilan individu terbaik dalam pertandingan perebutan tempat ketiga. Saka mencetak dua gol ketika Inggris mendominasi babak pertama, lalu menghasilkan gol ketiga pada momen ketika timnya berada dalam tekanan. Ia menjadi pemain Inggris keempat yang mencetak hat-trick di Piala Dunia.

Perannya tidak hanya terlihat dari angka. Pergerakan Saka memaksa pertahanan Prancis terus menyesuaikan posisi. Ia mampu melebar, masuk ke tengah, menyerang ruang kosong, dan mengambil keputusan penting di area berbahaya.

Saka juga membuktikan ketahanan mentalnya. Setelah Inggris kehilangan kendali pada awal babak kedua, ia tetap berani menerima bola dan mengambil penalti. Ketegangan pertandingan tidak mengurangi ketenangannya.

Drama Belum Berakhir

Prancis kembali memperkecil skor melalui Ousmane Dembélé pada masa tambahan waktu. Gol itu membuat kedudukan menjadi 5-4 dan kembali menyalakan harapan Les Bleus untuk memaksakan perpanjangan waktu.

Inggris kemudian memanfaatkan ruang yang ditinggalkan Prancis. Jude Bellingham melancarkan serangan balik dan mencetak gol keenam The Three Lions. Gol pada pengujung pertandingan tersebut memastikan kemenangan 6-4.

Bellingham tidak hanya menutup laga. Gol itu juga membawanya mencapai tujuh gol di Piala Dunia 2026, jumlah terbanyak yang pernah dicetak seorang pemain Inggris dalam satu edisi turnamen.

Pertandingan akhirnya menghasilkan sepuluh gol. Catatan tersebut menjadi jumlah gol terbanyak dalam sejarah laga perebutan tempat ketiga dan menjadikannya pertandingan Piala Dunia dengan skor tertinggi sejak Hungaria mengalahkan El Salvador 10-1 pada 1982.

Laga yang semula dianggap hanya sebagai pertandingan penghiburan berubah menjadi pertunjukan bersejarah. Para pemain memberikan alasan kuat mengapa perebutan tempat ketiga tetap memiliki tempat penting dalam sebuah turnamen besar.

Medali Perunggu Pertama bagi Inggris

Kemenangan tersebut mempunyai nilai khusus bagi Inggris. Sebelumnya, The Three Lions pernah dua kali tampil dalam perebutan tempat ketiga, tetapi selalu kalah. Mereka finis di posisi keempat pada 1990 dan 2018.

Hasil di Piala Dunia 2026 akhirnya memberikan medali perunggu pertama kepada Inggris. Pencapaian itu juga menjadi hasil terbaik negara tersebut sejak mengangkat trofi dunia pada 1966.

Tentu saja, medali perunggu bukan target utama. Inggris memasuki turnamen dengan ambisi mencapai final dan menjadi juara. Kekalahan dari Argentina tetap menjadi sumber penyesalan, terutama karena mereka merasa memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

Namun, menutup turnamen dengan kemenangan tetap penting. Tim mampu bangkit dari kekecewaan semifinal, mencetak enam gol melawan lawan kuat, dan memperlihatkan bahwa generasi ini memiliki kedalaman serta karakter.

Bagi Thomas Tuchel, hasil tersebut dapat menjadi fondasi untuk masa depan. Inggris membuktikan kemampuan menyerang, tetapi juga mendapatkan pelajaran tentang cara mengelola keunggulan. Kebobolan empat gol setelah sempat memimpin 4-0 merupakan peringatan yang tidak boleh diabaikan.

Akhir Manis dalam Bentuk Berbeda bagi Prancis

Menyebut akhir Prancis sebagai “manis” membutuhkan penjelasan. Dari sisi hasil tim, kekalahan 4-6 jelas bukan penutup yang diinginkan. Les Bleus gagal meraih medali dan harus puas berada di posisi keempat.

Namun, pertandingan terakhir tetap menghadirkan beberapa pencapaian besar. Mbappé mencetak dua gol dan menutup turnamen dengan sepuluh gol. Ia juga mencapai total 22 gol dalam karier Piala Dunia, menempatkannya di puncak daftar pencetak gol sepanjang masa pada saat laga berakhir.

Michael Olise juga mengukir sejarah. Dua assistnya kepada Mbappé membuat koleksinya mencapai tujuh assist di Piala Dunia 2026. Jumlah tersebut menjadi rekor terbanyak dalam satu edisi sejak statistik assist mulai dicatat pada 1966, melewati enam assist Pelé pada 1970.

Jadi, akhir manis Prancis bukan terletak pada papan skor. Nilainya muncul melalui kebangkitan pada babak kedua, rekor dua pemain utama, dan gambaran bahwa Les Bleus tetap memiliki fondasi menyerang yang kuat untuk memasuki era baru.

Mbappé Memperkuat Status sebagai Ikon Piala Dunia

Dua gol ke gawang Inggris semakin memperkuat hubungan istimewa Mbappé dengan Piala Dunia. Dalam tiga edisi, jumlah golnya terus meningkat: empat pada 2018, delapan pada 2022, dan sepuluh pada 2026. Total 22 gol tersebut membuatnya melewati Lionel Messi yang memiliki 21 gol sebelum menjalani final 2026.

Pada usia 27 tahun, ia telah mencapai angka luar biasa di panggung yang hanya berlangsung setiap empat tahun dan menghadirkan tekanan jauh lebih besar daripada sebagian besar kompetisi lain.

Mbappé tentu lebih menginginkan tempat di final daripada rekor pribadi. Prancis datang untuk mengejar gelar dunia, bukan sekadar statistik individu. Seusai pertandingan, ia menegaskan bahwa dirinya lebih memilih bermain di final daripada mendapatkan catatan pribadi.

Namun, pencapaian tersebut tetap menjadi warisan besar dari turnamen yang tidak berakhir sesuai target. Keberadaannya juga memberi harapan bagi masa depan Prancis. Apabila tetap sehat dan mempertahankan level permainan, Mbappé masih mempunyai peluang tampil pada Piala Dunia berikutnya.

Olise Menjadi Simbol Masa Depan Les Bleus

Michael Olise mungkin tidak mendapatkan sorotan sebesar Mbappé sebelum turnamen, tetapi Piala Dunia 2026 mengubah posisinya dalam tim nasional.

Tujuh assist menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pemain pendukung. Olise menjadi pusat kreativitas, menghubungkan lini tengah dengan serangan, dan menyediakan pelayanan untuk para pencetak gol.

Kemampuan kaki kirinya, visi permainan, dan ketenangan di ruang sempit membuat Prancis memiliki variasi serangan. Ia dapat bermain dari sisi kanan, bergerak ke tengah, mengirim umpan terobosan, atau melepaskan bola silang menuju area berbahaya.

Rekornya melewati Pelé harus dipahami dalam konteks era dan format turnamen yang berbeda. Pelé mencatatkan enam assist pada 1970, sedangkan Olise menjadi pemain pertama yang mencapai tujuh assist sejak pencatatan statistik tersebut dimulai pada 1966.

Bersama Mbappé, Olise dapat menjadi fondasi utama Prancis setelah pergantian pelatih. Kombinasi keduanya telah menunjukkan potensi besar, dan pengalaman pahit di semifinal serta perebutan tempat ketiga dapat membantu mereka berkembang.

Perpisahan Didier Deschamps

Pertandingan melawan Inggris juga menjadi akhir masa jabatan Didier Deschamps setelah 14 tahun menangani tim nasional Prancis.

Deschamps mulai memimpin Les Bleus pada 2012 dan mengubah mereka menjadi salah satu tim paling konsisten dalam sepak bola internasional. Ia membawa Prancis mencapai final Euro 2016, menjuarai Piala Dunia 2018, memenangi UEFA Nations League 2020–21, serta mencapai final Piala Dunia 2022.

Ia juga menjadi salah satu dari hanya tiga sosok yang pernah memenangkan Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Sebagai kapten, Deschamps mengangkat trofi pada 1998. Dua dekade kemudian, ia membawa Prancis menjadi juara dari pinggir lapangan.

Kekalahan 4-6 jelas bukan akhir ideal. Deschamps mengakui buruknya penampilan babak pertama dan menerima tanggung jawab atas kesulitan tim. Namun, satu pertandingan tidak dapat menghapus warisan yang dibangun selama lebih dari satu dekade.

Perpisahannya tetap mengandung nilai emosional. Para pemain berusaha bangkit setelah tertinggal empat gol, seolah ingin memberikan satu respons terakhir untuk pelatih yang telah membawa banyak dari mereka menuju level tertinggi.

Sebuah Pertandingan yang Menguntungkan Kedua Generasi

Inggris dan Prancis dapat mengambil manfaat berbeda dari pertandingan ini.

Inggris memperoleh medali, kepercayaan diri, dan bukti bahwa pemain-pemain seperti Saka serta Bellingham mampu tampil menentukan. Generasi tersebut belum membawa pulang trofi utama, tetapi posisi ketiga memperlihatkan bahwa mereka tetap berada di antara tim terkuat dunia.

Prancis mendapatkan kesempatan melihat kekuatan generasi berikutnya. Mbappé telah menjadi pemimpin utama, sedangkan Olise menunjukkan dirinya siap mengambil peran kreatif dalam jangka panjang.

Kedua tim juga menerima pelajaran penting. Inggris harus meningkatkan pengelolaan pertandingan setelah unggul. Prancis perlu memperbaiki organisasi pertahanan dan kesiapan sejak menit pertama. Kualitas menyerang saja tidak selalu cukup dalam pertandingan level tertinggi.

Dengan demikian, laga 6-4 tidak hanya menjadi hiburan. Pertandingan tersebut berfungsi sebagai cermin yang memperlihatkan kelebihan serta kekurangan kedua tim sebelum memasuki siklus kompetisi berikutnya.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE