1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Inggris vs Argentina Kembali Memanas Rivalitas Legendaris Masuki Babak Baru

Semifinal Piala Dunia 2026 menghadirkan pertandingan yang membawa beban sejarah jauh lebih besar daripada sekadar perebutan satu tempat di partai final. Inggris dan Argentina kembali berhadapan setelah lebih dari dua dekade tidak bertemu di panggung Piala Dunia.

Pertandingan di Atlanta pada 15 Juli 2026 menjadi pertemuan keenam kedua negara dalam sejarah turnamen. Inggris memenangi tiga dari lima duel sebelumnya, sedangkan Argentina mengantongi dua kemenangan. Namun, catatan angka tersebut tidak cukup menjelaskan mengapa pertemuan ini selalu memperoleh perhatian luar biasa.

Setiap duel Inggris melawan Argentina seperti melahirkan cerita yang bertahan lintas generasi. Ada kartu merah kontroversial Antonio Rattín pada 1966, dua gol legendaris Diego Maradona pada 1986, pengusiran David Beckham dan drama adu penalti pada 1998, hingga tendangan penalti pembalasan Beckham pada 2002.

Kini rivalitas tersebut memasuki babak baru. Generasi Lionel Messi dan Jude Bellingham akan berdiri di pusat panggung. Inggris membawa ambisi mengakhiri penantian gelar dunia selama 60 tahun, sedangkan Argentina berusaha mempertahankan mahkota yang mereka raih pada 2022.

Duel ini bahkan menjadi semifinal Piala Dunia pertama antara kedua negara. Artinya, taruhannya lebih besar daripada lima pertemuan sebelumnya. Pemenang tidak hanya memperoleh kebanggaan setelah mengalahkan rival bersejarah, tetapi juga berhak melangkah menuju pertandingan terakhir turnamen.

Rivalitas yang Tidak Pernah Terasa Biasa

Inggris dan Argentina bukan negara yang sering bertemu dalam pertandingan internasional. Justru karena pertemuan mereka cukup jarang, setiap duel terasa lebih istimewa.

Rivalitas ini terbentuk melalui kombinasi sepak bola, kebanggaan nasional, kontroversi, dan sejarah politik. Beberapa pertandingan bahkan terus dibicarakan puluhan tahun setelah peluit akhir dibunyikan.

Bagi Inggris, Argentina selalu menghadirkan bayangan Maradona, penalti, dan kekecewaan di fase gugur. Bagi Argentina, Inggris mengingatkan mereka kepada kontroversi 1966, konflik Kepulauan Falkland atau Malvinas, serta kemenangan emosional di Meksiko pada 1986.

Meski begitu, para pemain dan pelatih menjelang semifinal 2026 mencoba menurunkan suhu pembicaraan. Lionel Scaloni menegaskan bahwa pertandingan harus dipandang sebagai kompetisi sepak bola, bukan kelanjutan konflik masa lalu. Sejumlah veteran perang Argentina juga meminta pendukung tidak menggunakan laga ini untuk menyebarkan kebencian atau sentimen xenofobia.

Sikap tersebut tidak menghapus sejarah, tetapi membantu mengembalikan fokus kepada pertandingan. Inggris dan Argentina tetap membawa identitas masing-masing, namun kemenangan harus ditentukan melalui kualitas permainan di lapangan.

Awal Ketegangan pada Piala Dunia 1966

Salah satu momen yang membentuk rivalitas terjadi pada perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley. Inggris menang 1-0 melalui gol Geoff Hurst, tetapi pertandingan tersebut lebih banyak dikenang karena pengusiran kapten Argentina, Antonio Rattín.

Wasit Rudolf Kreitlein mengeluarkan Rattín pada babak pertama. Komunikasi menjadi rumit karena wasit asal Jerman tersebut tidak berbicara bahasa Spanyol, sementara Rattín tidak memahami bahasa Jerman. Sang kapten Argentina menolak langsung meninggalkan lapangan dan pertandingan terhenti selama beberapa menit.

Argentina merasa keputusan itu tidak adil. Sebaliknya, kubu Inggris menganggap permainan lawan terlalu keras. Setelah pertandingan, pelatih Inggris Alf Ramsey bahkan menggunakan istilah yang memperburuk ketegangan antarkedua kubu.

Inggris kemudian melanjutkan perjalanan hingga menjadi juara dunia. Bagi Argentina, kekalahan tersebut meninggalkan luka yang tidak hanya berkaitan dengan hasil, tetapi juga dengan perasaan bahwa mereka tidak diperlakukan secara adil.

Kenangan 1966 menjadi fondasi emosional sebelum rivalitas mencapai puncak berikutnya dua dekade kemudian.

Maradona Mengubah Rivalitas pada 1986

Tidak ada pertandingan yang lebih kuat menggambarkan rivalitas Inggris dan Argentina daripada perempat final Piala Dunia 1986.

Pertemuan itu berlangsung empat tahun setelah Perang Falkland atau Malvinas. Meski para pemain tidak terlibat dalam konflik tersebut, suasana politik membuat pertandingan di Stadion Azteca terasa jauh lebih besar daripada sepak bola.

Diego Maradona kemudian menghasilkan dua gol yang berlawanan secara total.

Gol pertama tercipta ketika Maradona melompat menghadapi penjaga gawang Peter Shilton dan menyentuh bola dengan tangannya. Wasit tidak melihat pelanggaran tersebut dan mengesahkan gol. Maradona kemudian menyebutnya sebagai gol yang dicetak “sedikit dengan kepala Maradona dan sedikit dengan tangan Tuhan”.

Beberapa menit setelah kontroversi tersebut, ia menghasilkan salah satu aksi terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Maradona membawa bola dari wilayah Argentina, melewati beberapa pemain Inggris, lalu menaklukkan Shilton. Aksi selama sekitar 11 detik itu kemudian dipilih sebagai “Gol Abad Ini”.

Gary Lineker memperkecil ketertinggalan, tetapi Argentina tetap menang 2-1. La Albiceleste kemudian menjadi juara dunia setelah mengalahkan Jerman Barat pada final.

Bagi Argentina, kemenangan tersebut menjadi simbol kebanggaan nasional. Bagi Inggris, pertandingan itu meninggalkan perpaduan rasa kagum terhadap gol kedua Maradona dan kekecewaan mendalam terhadap gol pertamanya.

Empat puluh tahun kemudian, “Tangan Tuhan” masih menjadi bagian pertama yang muncul ketika kedua negara kembali dipertemukan.

Drama Beckham dan Simeone pada 1998

Pertemuan berikutnya terjadi pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis. Pertandingan ini kembali menghasilkan drama yang sulit dilupakan.

Argentina unggul melalui penalti Gabriel Batistuta, lalu Inggris menyamakan skor lewat Alan Shearer. Michael Owen membawa Inggris berbalik unggul dengan aksi individu luar biasa sebelum Javier Zanetti menuntaskan skema tendangan bebas cerdas untuk membuat skor menjadi 2-2.

Titik balik terjadi pada awal babak kedua. David Beckham terlibat kontak dengan Diego Simeone. Setelah dijatuhkan, Beckham menggerakkan kakinya ke arah pemain Argentina tersebut. Wasit kemudian menunjukkan kartu merah.

Inggris bermain dengan sepuluh orang, tetapi mampu mempertahankan skor hingga perpanjangan waktu. Pertandingan akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Argentina menang 4-3 setelah penjaga gawang Carlos Roa menggagalkan eksekusi Paul Ince dan David Batty.

Beckham menjadi sasaran kritik besar di Inggris. Media dan sebagian pendukung menilai kartu merahnya sebagai penyebab utama tersingkirnya The Three Lions.

Simeone kemudian sering digambarkan sebagai tokoh antagonis dalam cerita tersebut. Bagi pendukung Argentina, ia menunjukkan kecerdikan dan pengalaman. Bagi banyak penggemar Inggris, tindakannya dianggap telah memancing reaksi Beckham.

Pertandingan 1998 membuktikan bahwa duel kedua negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Pengendalian emosi juga dapat mengubah seluruh perjalanan sebuah tim.

Penebusan David Beckham pada 2002

Empat tahun kemudian, Inggris kembali bertemu Argentina pada fase grup Piala Dunia 2002.

Sorotan utama tertuju kepada Beckham. Sang gelandang telah berkembang menjadi kapten Inggris, tetapi ingatan mengenai kartu merah 1998 belum sepenuhnya hilang.

Menjelang akhir babak pertama, Inggris memperoleh tendangan penalti setelah Michael Owen dijatuhkan Mauricio Pochettino. Beckham maju sebagai eksekutor dan melepaskan tendangan kuat ke tengah gawang.

Gol tersebut membawa Inggris menang 1-0. Bagi Beckham, penalti itu menjadi simbol penebusan setelah mengalami salah satu periode tersulit dalam karier internasionalnya.

Pertandingan di Sapporo tersebut menjadi pertemuan terakhir Inggris dan Argentina di Piala Dunia sebelum semifinal 2026.

Selama 24 tahun berikutnya, kedua negara menjalani perjalanan berbeda. Argentina mencapai beberapa final dan akhirnya menjadi juara pada 2022. Inggris membangun generasi baru yang semakin rutin mencapai fase akhir turnamen, tetapi belum mampu meraih trofi besar.

Kini mereka kembali bertemu dengan konteks yang benar-benar berbeda.

Argentina Membawa Status Juara Bertahan

Argentina tiba di semifinal sebagai juara dunia. Tim asuhan Lionel Scaloni mempunyai kesempatan menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia.

Namun, perjalanan mereka menuju empat besar tidak selalu meyakinkan. Argentina harus melewati beberapa pertandingan yang penuh tekanan.

La Albiceleste membutuhkan perpanjangan waktu untuk menyingkirkan Cape Verde pada babak 32 besar. Mereka kemudian melakukan kebangkitan luar biasa ketika menghadapi Mesir pada babak 16 besar.

Argentina tertinggal 0-2 hingga fase akhir pertandingan. Cristian Romero memperkecil ketertinggalan, Messi mencetak gol penyeimbang, dan Enzo Fernández memastikan kemenangan 3-2 pada masa tambahan waktu.

Pada perempat final, Argentina kembali harus bekerja selama 120 menit melawan Swiss. Alexis Mac Allister membawa mereka unggul sebelum Swiss menyamakan skor. Julián Álvarez dan Lautaro Martínez kemudian mencetak gol pada perpanjangan waktu untuk memastikan kemenangan 3-1.

Rangkaian tersebut menunjukkan Argentina tidak selalu mendominasi, tetapi mempunyai kemampuan bertahan dalam situasi sulit. Mentalitas, pengalaman, dan keyakinan kolektif menjadi kekuatan utama mereka.

Scaloni dan Revolusi yang Tidak Banyak Bicara

Keberhasilan Argentina tidak dapat dipisahkan dari Lionel Scaloni. Ia mengambil alih tim setelah kegagalan Piala Dunia 2018 dan awalnya dipandang sebagai pilihan sementara.

Scaloni kemudian membantu meyakinkan Messi kembali memperkuat tim nasional. Ia membawa Argentina menjuarai Copa América 2021 dan Piala Dunia 2022, sekaligus mengubah suasana tim yang sebelumnya sering dibebani tekanan.

Pendekatan Scaloni tidak menjadikan Argentina sekadar kelompok pemain yang menunggu keajaiban Messi. Sang kapten tetap menjadi pusat kreativitas, tetapi seluruh tim bekerja untuk menjaga keseimbangan.

Álvarez menekan pertahanan lawan. Rodrigo De Paul memberikan energi. Mac Allister dan Enzo menghubungkan lini permainan. Romero serta pemain belakang lainnya memberikan agresivitas.

Scaloni membangun struktur yang memungkinkan Messi menggunakan energinya pada area paling berbahaya. Kepemimpinannya yang tenang dan tidak mencari sorotan menjadi salah satu fondasi utama perjalanan Argentina menuju semifinal kedua secara beruntun.

Menghadapi Inggris, Scaloni harus kembali menunjukkan kemampuan beradaptasi. Lawannya mempunyai kekuatan fisik, kedalaman skuad, serta gelandang yang mampu menyerang dari berbagai arah.

Messi Akhirnya Berhadapan dengan Inggris

Semifinal 2026 memiliki arti khusus bagi Lionel Messi. Dalam karier internasional yang berlangsung lebih dari dua dekade, ia belum pernah menghadapi tim senior Inggris.

Pertemuan pertama itu terjadi ketika Messi berusia 39 tahun dan menjalani Piala Dunia keenamnya. Sang kapten tetap menjadi pemain utama Argentina serta termasuk jajaran pencetak gol terbanyak turnamen dengan delapan gol menjelang semifinal.

Bagi Messi, Inggris merupakan lawan yang sangat berkaitan dengan warisan Maradona. Dua gol Maradona pada 1986 terus menjadi simbol terbesar dalam sejarah rivalitas tersebut.

Namun, Messi tidak harus meniru pendahulunya. Ia memiliki cara sendiri dalam memengaruhi pertandingan. Sang kapten dapat turun ke lini tengah, menarik pemain lawan, lalu mengirim umpan kepada Álvarez atau Lautaro.

Inggris kemungkinan menempatkan beberapa pemain untuk mempersempit ruangnya. Jika terlalu agresif mengejar Messi, The Three Lions berisiko membuka celah bagi gelandang Argentina.

Inilah dilema utama yang harus diselesaikan Thomas Tuchel.

Inggris Membawa Generasi yang Semakin Tangguh

Inggris mencapai semifinal setelah mengalahkan Norwegia 2-1 melalui perpanjangan waktu. Jude Bellingham mencetak dua gol dan menjadi penentu kemenangan The Three Lions.

Perjalanan Inggris juga tidak sepenuhnya mulus. Mereka harus mengalahkan Meksiko dalam pertandingan sulit dan sempat bermain dengan sepuluh orang. Di perempat final, Inggris tertinggal lebih dahulu sebelum Bellingham membalikkan keadaan.

Hasil-hasil tersebut menunjukkan tim asuhan Tuchel mempunyai ketahanan mental. Inggris tidak selalu bermain dengan kualitas terbaik, tetapi mampu bertahan serta menemukan solusi.

Tuchel bahkan mengkritik penampilan timnya setelah kemenangan atas Norwegia. Ia menilai Inggris membuat keadaan lebih sulit karena terlalu banyak melakukan kesalahan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pelatih asal Jerman itu belum puas hanya dengan hasil.

Inggris kini mencapai semifinal keempat dalam lima turnamen besar terakhir. Konsistensi tersebut memperlihatkan perubahan signifikan dibandingkan generasi-generasi sebelumnya yang kerap tersingkir lebih awal.

Meski demikian, semifinal saja tidak cukup. Inggris belum meraih trofi sejak Piala Dunia 1966. Mereka membutuhkan dua kemenangan lagi untuk mengakhiri penantian selama enam dekade.

Jude Bellingham Menjadi Wajah Generasi Baru

Apabila Messi mewakili pengalaman dan warisan Argentina, Jude Bellingham menjadi simbol generasi baru Inggris.

Gelandang Real Madrid tersebut memainkan peran yang jauh lebih luas daripada sekadar mencetak gol. Ia membantu melakukan tekanan, membawa bola melewati lini lawan, merebut penguasaan, serta masuk ke kotak penalti.

Dua gol melawan Norwegia menunjukkan kemampuannya muncul pada momen penting. Bellingham menyamakan kedudukan sebelum turun minum, kemudian mencetak gol kemenangan pada perpanjangan waktu.

Menjelang semifinal, pemain berusia 23 tahun tersebut telah menjadi tokoh utama Inggris, bahkan ketika Harry Kane masih memegang ban kapten dan memimpin lini serang.

Pertandingan melawan Argentina menawarkan kesempatan kepadanya untuk menambahkan satu momen besar dalam kariernya.

Bellingham akan berhadapan dengan gelandang Argentina yang agresif dan berpengalaman. De Paul mungkin berusaha mengganggu ritmenya, sedangkan Enzo dan Mac Allister akan mencoba menutup jalur pergerakannya.

Kemampuan Bellingham menjaga emosi juga sangat penting. Sejarah menunjukkan pertandingan Inggris melawan Argentina sering menghasilkan provokasi, benturan, dan keputusan kontroversial.

Ia tidak boleh membiarkan intensitas mengalihkan fokusnya.

Duel Lini Tengah Bisa Menjadi Penentu

Pertarungan utama kemungkinan berlangsung di lini tengah.

Argentina ingin memberikan bola kepada Messi di antara garis pertahanan dan gelandang Inggris. Inggris akan berusaha menggunakan Declan Rice serta pemain lainnya untuk menutup ruang tersebut.

Rice harus menjaga keseimbangan ketika Bellingham maju. Jika keduanya terlalu tinggi, Argentina dapat menyerang melalui transisi. Jika Inggris terlalu bertahan, Messi dan Mac Allister memperoleh waktu mengatur permainan.

Argentina menghadapi dilema serupa. De Paul harus membantu mengawal Bellingham, tetapi juga tidak boleh meninggalkan area terlalu luas. Enzo dan Mac Allister perlu menghindari kehilangan bola di wilayah berbahaya.

Pertandingan mungkin ditentukan oleh tim yang mampu memenangkan bola kedua. Kedua negara mempunyai penyerang yang dapat memaksa bek melakukan sapuan. Bola lepas dari duel tersebut dapat menciptakan kesempatan menyerang dengan cepat.

Argentina mempunyai pengalaman mengendalikan tempo pertandingan gugur. Inggris membawa energi serta kekuatan fisik. Pertarungan antara dua karakter inilah yang membuat semifinal sulit diprediksi.

Kane Melawan Romero dan Pertahanan Argentina

Harry Kane tetap menjadi salah satu ancaman terbesar Inggris. Sang kapten tidak hanya menunggu umpan di kotak penalti. Ia dapat turun untuk menerima bola, menarik bek Argentina, lalu membuka ruang bagi Bellingham atau pemain sayap.

Cristian Romero kemungkinan menjadi pemain yang paling sering berhadapan dengannya. Keduanya memahami karakter masing-masing dari pengalaman di sepak bola Inggris.

Romero dikenal agresif dan berani meninggalkan posisinya untuk memenangkan duel. Namun, gaya tersebut juga membawa risiko. Jika ia terlalu cepat mengejar Kane, ruang di belakang dapat dimanfaatkan pemain lain.

Kane harus menghadapi tekanan besar untuk membawa Inggris menuju final. Ia telah mencetak banyak gol sepanjang karier internasional, tetapi trofi bersama tim nasional masih belum berhasil diraih.

Semifinal melawan Argentina dapat menjadi salah satu pertandingan terpenting dalam perjalanan kariernya.

Pertahanan Inggris Menghadapi Pergerakan Álvarez

Di sisi lain, Julián Álvarez berpotensi menjadi pemain kunci Argentina.

Álvarez sangat aktif bergerak tanpa bola. Ia dapat menekan bek, berpindah ke sisi lapangan, serta menyerang ruang yang tercipta ketika Messi turun.

Bek Inggris tidak bisa hanya memperhatikan posisi Messi. Jika fokus mereka terlalu terkonsentrasi kepada sang kapten, Álvarez dapat masuk ke area berbahaya.

Golnya melawan Swiss menjadi bukti bahwa ia mampu muncul pada momen penting. Sang penyerang tidak membutuhkan banyak peluang untuk mengubah pertandingan.

Argentina juga memiliki Lautaro Martínez yang dapat dimainkan sejak awal atau dimasukkan dari bangku cadangan. Lautaro menawarkan kekuatan berbeda melalui duel di kotak penalti dan naluri penyelesaian akhir.

Kedalaman tersebut memaksa Inggris menjaga konsentrasi selama 90 atau bahkan 120 menit.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE