1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Liga Indonesia Disebut Kejam bagi Pelatih Gusnul Yakin Ungkap Risiko Pemecatan di Tengah Musim

Pergantian pelatih kembali menjadi sorotan di BRI Super League 2026/2027. Belum genap melewati fase awal kompetisi, sejumlah klub sudah mengambil keputusan besar dengan mengakhiri kerja sama bersama pelatih mereka. Situasi ini memperlihatkan betapa beratnya tuntutan prestasi dalam sepak bola profesional Indonesia.

Pengamat sepak bola senior asal Malang, Gusnul Yakin, menilai fenomena tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, pelatih yang memilih berkarier di Indonesia semestinya sudah memahami risiko kehilangan pekerjaan ketika hasil pertandingan tidak sesuai dengan harapan manajemen.

Hingga pekan keenam, empat pelatih disebut harus meninggalkan posisi mereka, yakni Mario Lemos, Juan Cortes, Jean-Paul van Gastel, dan Marcos Santos. Persijap Jepara, PSIM Yogyakarta, serta Arema FC menjadi klub yang melakukan perubahan di kursi kepelatihan.

Bagi Gusnul, pemecatan memang menjadi bagian pahit dari profesi pelatih. Namun, ia juga mengingatkan bahwa hasil pertandingan bukan satu-satunya persoalan yang dapat memengaruhi perjalanan karier seorang pelatih di klub Indonesia.

Gusnul Yakin Sebut Liga Indonesia Punya Risiko Besar bagi Pelatih

Gusnul Yakin mengaku tidak terkejut melihat sejumlah pelatih kehilangan pekerjaan ketika kompetisi baru berjalan beberapa pekan. Menurutnya, pelatih lokal maupun asing yang sudah mengenal sepak bola Indonesia umumnya memahami bahwa tekanan terhadap posisi mereka bisa datang dengan cepat.

“Bagi pelatih, baik lokal maupun asing, yang pernah berkarier di Indonesia, sudah tahu liga kita memang kejam. Jadi, mereka pun paham risiko akan dipecat di tengah jalan,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan situasi yang kerap dihadapi pelatih klub. Mereka dituntut memberikan hasil positif dalam waktu singkat, sementara proses membangun tim membutuhkan persiapan, adaptasi, dan konsistensi.

Ketika hasil pertandingan tidak sesuai target, manajemen dapat memilih melakukan pergantian pelatih sebagai upaya memperbaiki performa tim.

Meski begitu, keputusan tersebut tidak selalu menjamin perubahan langsung. Keberhasilan pelatih baru tetap bergantung pada banyak faktor, mulai dari kualitas pemain, kondisi tim, hingga kemampuan menerapkan strategi yang sesuai.

Karena itu, pergantian pelatih menjadi keputusan yang memiliki konsekuensi bagi seluruh elemen klub, bukan hanya bagi sosok yang meninggalkan jabatan.

Persijap Jepara Jadi Sorotan karena Pergantian Peran Pelatih

Salah satu cerita menarik pada awal BRI Super League 2026/2027 datang dari Persijap Jepara. Perjalanan Mario Lemos dan Juan Cortes memperlihatkan bagaimana perubahan strategi manajemen dapat memengaruhi posisi seorang pelatih.

Pada awal musim, Mario Lemos yang sebelumnya membantu Persijap bertahan di kompetisi musim lalu mendapat peran sebagai direktur teknik. Klub kemudian menunjuk Juan Cortes untuk menangani tim utama.

Namun, ketika performa tim dinilai belum memenuhi harapan, Persijap melakukan perubahan dengan menukar posisi keduanya. Juan Cortes tidak lagi bertugas sebagai pelatih kepala, sedangkan Mario Lemos kembali memegang kendali tim.

Perubahan itu ternyata tidak menjadi akhir perjalanan Mario bersama Laskar Kalinyamat. Ia kemudian harus meninggalkan klub tersebut.

Tidak membutuhkan waktu lama, pelatih asal Portugal itu mendapatkan peran baru di Persis untuk kompetisi Pegadaian Championship 2026/2027, kali ini sebagai direktur teknik.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa berakhirnya kerja sama dengan satu klub tidak selalu berarti seorang pelatih kehilangan kesempatan untuk melanjutkan karier. Pengalaman, jaringan profesional, dan kemampuan menjalankan peran berbeda dapat membuka jalan baru di dunia sepak bola.

PSIM dan Arema FC Ikut Mengambil Keputusan Tegas

Selain Persijap, PSIM Yogyakarta dan Arema FC juga melakukan pergantian pelatih setelah hasil yang diraih dinilai belum memenuhi ekspektasi manajemen.

PSIM mengakhiri kerja sama dengan Jean-Paul van Gastel, sedangkan Arema FC memberhentikan Marcos Santos. Kedua keputusan tersebut menambah daftar perubahan di kursi kepelatihan pada awal musim.

Arema FC kemudian menunjuk Andre Caldas sebagai pelatih interim. Pergantian tersebut langsung diikuti hasil yang mencuri perhatian ketika Singo Edan mengalahkan Dewa United dengan skor 4-0.

Pertandingan pekan ketujuh itu berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (25/10/2026).

Kemenangan tersebut menjadi hasil positif bagi Arema FC setelah perubahan di jajaran pelatih. Meski demikian, satu pertandingan belum cukup untuk memastikan konsistensi tim dalam jangka panjang.

Performa berikutnya akan menjadi ujian bagi Andre Caldas dalam mempertahankan momentum sekaligus membuktikan bahwa Arema FC mampu bersaing sesuai target yang ditetapkan.

Di sisi lain, pengalaman klub-klub tersebut menunjukkan bahwa manajemen memiliki pertimbangan masing-masing dalam mengevaluasi kinerja pelatih. Target kompetisi, hasil pertandingan, dan kondisi internal tim dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

Gusnul Yakin Pernah Merasakan Pahitnya Pemecatan

Pandangan Gusnul Yakin mengenai risiko profesi pelatih bukan sekadar penilaian dari luar lapangan. Ia juga pernah mengalami langsung bagaimana sulitnya mempertahankan posisi ketika hasil tim tidak sesuai harapan.

Pada 2011, Gusnul harus meninggalkan kursi pelatih Persik Kediri setelah prestasi tim dinilai kurang memuaskan.

Ia mengakui bahwa hasil buruk menjadi alasan utama pemecatan tersebut. Namun, menurutnya, kondisi materi pemain saat itu juga menjadi faktor yang memengaruhi kemampuan Persik untuk bersaing.

“Alasan utama pelatih dipecat karena dinilai gagal memberi prestasi. Saya kira itu wajar dan realistis. Saya dulu dipecat Persik juga akibat prestasi buruk. Tapi, sejak awal saya tahu karena materi pemain Persik tak cukup kuat untuk bersaing di kompetisi. Jadi, saya legawa diberhentikan. Saya kira pelatih lain yang dipecat juga sadar diri,” ungkapnya.

Pengalaman itu memperlihatkan adanya tantangan dalam menyeimbangkan tuntutan hasil dengan sumber daya yang tersedia. Pelatih bisa memiliki rencana permainan yang jelas, tetapi penerapannya tetap dipengaruhi kualitas skuad dan dukungan klub.

Bagi Gusnul, menerima keputusan manajemen dengan lapang dada menjadi bagian dari sikap profesional. Namun, pengalamannya juga memperlihatkan pentingnya mempertimbangkan kondisi tim secara menyeluruh ketika mengevaluasi kinerja seorang pelatih.

Masalah Finansial Persibo Jadi Pengalaman Berbeda

Selain pemecatan di Persik, Gusnul Yakin juga pernah meninggalkan Persibo Bojonegoro karena persoalan finansial klub.

Situasi tersebut berbeda dari kasus pemecatan akibat prestasi. Menurut pengalamannya, keterbatasan keuangan membuat manajemen kesulitan memenuhi kebutuhan dasar tim, meskipun ia telah berupaya membangun skuad sesuai anggaran yang tersedia.

“Saya pernah mundur dari Persibo karena keuangan klub sangat minim. Saat itu manajemen membelikan sepatu pemain saja tak mampu. Padahal, saya bekerja dengan pemain. Setelah pertandingan melawan Persebaya dan Manokwari dengan hasil seri, saya pamit baik-baik kepada manajemen Persibo,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh strategi pelatih. Stabilitas finansial, fasilitas latihan, kebutuhan pemain, dan dukungan manajemen juga berperan dalam menjaga performa sepanjang musim.

Ketika kebutuhan dasar tim sulit dipenuhi, pekerjaan pelatih menjadi semakin berat. Target prestasi tetap harus dikejar, tetapi sumber daya yang tersedia dapat membatasi pilihan dalam membangun skuad.

Evaluasi Pelatih Perlu Mempertimbangkan Kondisi Tim

Fenomena pergantian pelatih pada awal BRI Super League 2026/2027 kembali membuka pembahasan mengenai tekanan di sepak bola Indonesia.

Di satu sisi, klub memiliki kepentingan untuk memenuhi target dan menjaga kepercayaan pendukung. Di sisi lain, pelatih membutuhkan waktu, pemain yang sesuai, serta dukungan manajemen untuk menerapkan pendekatan permainan secara maksimal.

Sejumlah faktor yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi kinerja pelatih meliputi:

  • Hasil pertandingan: Apakah pencapaian tim sesuai target yang telah disepakati?
  • Kualitas skuad: Apakah materi pemain mendukung strategi dan target kompetisi?
  • Kondisi finansial: Apakah kebutuhan operasional dan pengembangan tim dapat terpenuhi?
  • Perkembangan permainan: Apakah tim menunjukkan kemajuan dari segi taktik, organisasi, dan konsistensi?
  • Komunikasi dengan manajemen: Apakah terdapat kesepahaman mengenai target dan sumber daya yang tersedia?

Pada akhirnya, pemecatan memang menjadi risiko nyata dalam profesi pelatih sepak bola. Namun, pengalaman Gusnul Yakin menunjukkan bahwa setiap kasus memiliki latar belakang berbeda.

Ada pelatih yang harus pergi karena hasil buruk, ada pula yang memilih mundur akibat keterbatasan finansial klub. Perbedaan situasi tersebut membuat evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan hasil akhir di papan klasemen.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE