1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Luka Modric Murka pada VAR dan Keputusan Penalti Kontroversial Saat Kroasia Tersingkir Dramatis dari Portugal

Kroasia tersingkir dari Piala Dunia 2026 dengan cara yang sulit diterima. Kekalahan 1-2 dari Portugal di babak 32 besar bukan hanya menyakitkan karena terjadi pada fase gugur, tetapi juga karena dua keputusan besar yang membuat ruang ganti Kroasia dipenuhi rasa frustrasi. Cristiano Ronaldo menyamakan kedudukan lewat penalti setelah intervensi VAR, Goncalo Ramos mencetak gol kemenangan Portugal pada masa tambahan waktu, lalu gol penyama Joško Gvardiol dibatalkan setelah tinjauan teknologi yang mendeteksi sentuhan tipis Igor Matanović dalam proses serangan Kroasia.

Di tengah suasana itu, Luka Modrić tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Kapten Kroasia tersebut menilai timnya diperlakukan tidak adil, terutama dalam keputusan penalti yang diberikan kepada Portugal dan pembatalan gol Kroasia di detik-detik akhir. Menurut laporan GOAL, Modrić menyindir bahwa bila situasinya terbalik, VAR tidak akan ikut campur dengan cara yang sama, sebuah komentar yang jelas menunjukkan kecurigaannya terhadap konsistensi penggunaan teknologi.

Kemarahan Modrić terasa lebih berat karena laga ini mungkin menjadi penampilan terakhirnya di Piala Dunia. Pada usia 40 tahun, ia masih menjadi pusat permainan Kroasia, masih berlari, masih mengatur tempo, dan masih menjadi suara utama timnya dalam momen tekanan. Namun perjalanan panjangnya di turnamen terbesar dunia kemungkinan berakhir dengan kontroversi, bukan dengan tepuk tangan damai atau kekalahan yang bisa diterima sepenuhnya. Pelatih Zlatko Dalić juga mengakui bahwa ini kemungkinan menjadi Piala Dunia terakhir Modrić dan merasa sedih karena akhir tersebut datang dengan cara seperti ini.

Penalti Ronaldo Jadi Awal Ledakan Protes

Kroasia sempat berada dalam posisi ideal setelah Ivan Perišić mencetak gol pada menit ke-53. Gol itu datang setelah Kroasia tampil lebih agresif pada awal babak kedua, membuat Portugal yang sebelumnya lebih banyak memegang bola mulai kehilangan kenyamanan. Namun momentum Kroasia berubah ketika VAR memanggil wasit Espen Eskås untuk melihat insiden Nikola Vlašić dan Renato Veiga di kotak penalti. Setelah tinjauan, Portugal mendapat penalti, dan Ronaldo mengeksekusinya dengan tenang pada menit ke-68.

Bagi Modrić, keputusan itu tidak layak diberikan. Ia menilai kedua pemain sama-sama terlibat kontak, saling memegang, dan jatuh dalam duel yang masih bisa diperdebatkan. Dalam pandangannya, VAR seharusnya hanya masuk bila ada kesalahan yang sangat jelas, bukan untuk mengubah keputusan dalam situasi yang masih abu-abu. GOAL melaporkan bahwa Modrić menegaskan teknologi seperti VAR seharusnya digunakan untuk kesalahan yang benar-benar terang, bukan ketika sebuah insiden bisa ditafsirkan dua arah.

Kritik itu bukan sekadar soal satu penalti. Modrić seperti sedang menyuarakan kegelisahan lama banyak pemain terhadap VAR: teknologi yang awalnya dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan justru sering dianggap menciptakan perdebatan baru. Saat wasit di lapangan tidak meniup pelanggaran, tetapi VAR kemudian mengubah arah pertandingan, para pemain yang dirugikan merasa keputusan manusia digantikan oleh pembacaan ulang yang terlalu detail.

Dalam laga sebesar ini, penalti seperti itu punya efek besar. Portugal yang sempat tertinggal kembali hidup. Ronaldo mencetak gol pertamanya di fase gugur Piala Dunia dan sekaligus menjadi pemain tertua yang mencetak gol dalam laga knockout Piala Dunia pria pada usia 41 tahun.

Modrić Merasa Ada Standar Ganda

Komentar Modrić yang paling menyita perhatian adalah tudingannya tentang standar ganda. Ia merasa bila insiden yang sama terjadi di kotak penalti Portugal, VAR mungkin tidak akan memanggil wasit. Pernyataan itu tajam, karena tidak hanya mengkritik keputusan teknis, tetapi juga menyentuh isu lebih sensitif: apakah tim-tim besar mendapat perlakuan berbeda dalam momen krusial.

GOAL menulis bahwa Modrić mempertanyakan konsistensi penggunaan VAR dan merasa Kroasia sering dirugikan oleh keputusan-keputusan tipis. Ia juga menyatakan bahwa penalti Portugal tidak seharusnya diberikan karena Vlašić tidak menarik Veiga secara jelas, melainkan kedua pemain sama-sama terlibat kontak dan terjatuh.

Secara emosional, komentar ini mudah dipahami. Kroasia bukan tim kecil dalam sejarah modern Piala Dunia. Mereka finalis 2018 dan peringkat ketiga 2022. Namun dibanding Portugal, yang memiliki Ronaldo dan generasi penuh bintang, Kroasia tetap sering masuk sebagai pihak yang merasa harus membuktikan diri lebih keras. Ketika keputusan besar datang melawan mereka, rasa ketidakadilan menjadi semakin kuat.

Namun, dari sisi wasit, keputusan semacam ini selalu berada dalam ruang interpretasi. Kontak di kotak penalti bisa dinilai cukup untuk pelanggaran, bisa juga dianggap duel normal. Masalahnya, ketika VAR ikut campur, publik berharap keputusan yang dihasilkan benar-benar tidak terbantahkan. Dalam kasus ini, justru perdebatan makin besar.

Gol Gvardiol yang Dicabut di Detik Terakhir

Jika penalti Ronaldo memicu kemarahan pertama, gol Gvardiol yang dianulir menjadi puncak tragedi Kroasia. Pada menit ke-103, Kroasia melancarkan serangan terakhir. Perišić mengirim umpan silang ke area berbahaya, bola melewati Matanović, kemudian Mario Pašalić terlibat sebelum Gvardiol menyelesaikan peluang dari jarak dekat. Untuk beberapa detik, Kroasia merasa telah menyamakan skor menjadi 2-2.

Namun perayaan itu berhenti setelah VAR melakukan pemeriksaan. Teknologi bola mendeteksi sentuhan tipis dari Matanović dalam proses umpan silang tersebut. Sentuhan itu membuat Pašalić dianggap berada dalam posisi offside ketika terlibat dalam fase berikutnya. Sky Sports menyebut gol tersebut dibatalkan dengan bantuan teknologi “Snicko”, setelah dinilai Matanović mendapatkan sentuhan sangat tipis pada umpan Perišić sehingga Pašalić, pemberi assist, berada dalam posisi offside.

Modrić tidak puas dengan penjelasan itu. Ia mengatakan wasit memberi tahu pemain Kroasia bahwa Matanović menyentuh bola, tetapi menurutnya tayangan ulang tidak memperlihatkan kontak yang jelas. Dalam laporan GOAL, Modrić menegaskan bahwa bila Matanović tidak menyentuh bola, maka situasi itu bukan offside.

Inilah inti kontroversinya. Teknologi menyatakan ada sentuhan. Mata manusia tidak melihatnya dengan jelas. Aturan menyatakan offside. Perasaan pemain dan fans menyatakan gol itu seharusnya sah. Dari ketegangan antara data dan emosi itulah debat besar muncul.

VAR dan Batas Tipis antara Keadilan dan Kehilangan Emosi

FIFA dan pihak pendukung VAR akan mengatakan bahwa teknologi bekerja sebagaimana mestinya. Bila bola memang menyentuh Matanović, maka keputusan offside adalah benar. The Guardian melaporkan bahwa pelatih Portugal Roberto Martínez membela keputusan-keputusan VAR, menyebut bola memiliki chip sehingga alasan intervensi menjadi jelas, dan menegaskan tidak ada “lucky call” dalam kemenangan timnya.

Namun bagi Kroasia, masalahnya bukan hanya benar atau salah di atas kertas. Masalahnya adalah bagaimana sepak bola terasa ketika momen sebesar itu dibatalkan oleh detail yang nyaris tidak terlihat. Dalić bahkan mengatakan emosi pertandingan seperti “dibunuh” oleh VAR, karena pemain sempat merayakan gol yang mereka kira sah sebelum keputusan teknologi membatalkannya.

VAR pada dasarnya diciptakan untuk memperbaiki kesalahan besar. Namun semakin canggih teknologi yang dipakai, semakin kecil detail yang bisa dipersoalkan. Offside kini tidak lagi hanya soal posisi tubuh yang jelas. Sentuhan tipis, defleksi kecil, bahkan kontak yang hampir tidak terlihat dapat mengubah seluruh keputusan.

Dalam teori, itu membuat sepak bola lebih akurat. Dalam praktik, itu kadang membuat permainan terasa dingin. Pemain tidak lagi tahu apakah mereka bisa merayakan gol dengan bebas. Fans menunggu layar stadion. Wasit menunggu headset. Momen spontan berubah menjadi jeda penuh kecemasan.

Portugal Selamat tetapi Tidak Sepenuhnya Meyakinkan

Dari sisi Portugal, kemenangan ini adalah bukti ketahanan. Mereka tertinggal, bangkit lewat penalti Ronaldo, lalu menemukan gol kemenangan melalui Ramos pada menit keempat masa tambahan waktu babak kedua. Reuters melaporkan bahwa Portugal akhirnya menang 2-1 dan memastikan laga babak 16 besar melawan Spanyol.

Namun kemenangan ini juga memperlihatkan bahwa Portugal belum tampil sempurna. Mereka mendominasi penguasaan bola pada babak pertama, tetapi tidak cukup tajam. Kroasia keluar lebih kuat setelah jeda dan mencetak gol melalui Perišić. Ronaldo sempat frustrasi, bahkan akhirnya ditarik keluar oleh Martínez pada menit ke-81, sebelum Ramos masuk dan menjadi penentu.

Gol Ramos memang membuat Portugal bertahan hidup. Namun tanpa keputusan VAR di ujung laga, ceritanya bisa sangat berbeda. Jika gol Gvardiol disahkan, laga mungkin berlanjut ke babak tambahan atau bahkan penalti. Portugal akan menghadapi situasi mental yang jauh lebih berat.

Karena itu, kemenangan Portugal tetap menyimpan tanda tanya. Mereka lolos, tetapi dengan kontroversi. Mereka punya pemain besar, tetapi tidak mengendalikan pertandingan sepenuhnya. Mereka mendapat momentum, tetapi juga peringatan besar sebelum menghadapi Spanyol.

Kroasia Kehilangan Lebih dari Sekadar Pertandingan

Bagi Kroasia, kekalahan ini mungkin menjadi akhir sebuah era. Modrić sudah menjadi jantung tim nasional selama bertahun-tahun. Bersama generasinya, Kroasia mencapai final Piala Dunia 2018, finis ketiga pada 2022, dan membangun identitas sebagai tim kecil secara populasi tetapi besar secara mental. Reuters mencatat bahwa Kroasia menjadi runner-up pada 2018 dan peringkat ketiga pada 2022, tetapi harus meninggalkan Piala Dunia 2026 tanpa medali.

Dalić menyebut era indah itu sudah mencapai ujung, meski ia tetap percaya masa depan Kroasia tidak buruk karena ada pemain-pemain muda yang mulai muncul. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kekalahan dari Portugal bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal transisi generasi.

Modrić, dengan segala kemarahannya, sebenarnya sedang berbicara dari tempat yang sangat manusiawi. Ia tahu waktunya di Piala Dunia hampir pasti habis. Ia tahu Kroasia sudah memberi segalanya. Ia tahu mereka sempat begitu dekat untuk memaksa pertandingan berlanjut. Maka ketika semua itu hilang karena penalti kontroversial dan offside super tipis, emosinya meledak.

Untuk pemain seperti Modrić, yang telah menjalani begitu banyak laga besar, kekalahan bisa diterima bila lawan benar-benar lebih baik. Tetapi kekalahan yang dibungkus kontroversi jauh lebih sulit diterima.

Ronaldo dan Modrić Dua Legenda Dua Nasib Berbeda

Pertandingan ini juga mempertemukan dua ikon Real Madrid: Ronaldo dan Modrić. Keduanya pernah berdiri di sisi yang sama, memenangkan Liga Champions, membangun era dominasi, dan menjadi bagian dari sejarah klub terbesar dunia. Di Toronto, mereka berada di sisi berlawanan, dengan nasib yang sangat berbeda.

Ronaldo mencetak penalti, memecahkan rekor usia di fase gugur Piala Dunia, dan menjaga mimpinya untuk mengejar trofi dunia tetap hidup. Modrić, sebaliknya, meninggalkan lapangan dengan rasa marah, kecewa, dan kemungkinan perpisahan permanen dari panggung Piala Dunia. Ronaldo sendiri mengatakan setelah laga bahwa Modrić adalah legenda sepak bola dan berharap mantan rekan setimnya itu masih terus bermain.

Kontras itu membuat drama semakin kuat. Satu legenda bertahan, satu legenda mungkin selesai. Satu pemain mendapat penalti yang menghidupkan timnya, satu pemain mempertanyakan keputusan yang menghancurkan negaranya. Sepak bola sering kali kejam, tetapi malam ini terasa lebih kejam karena melibatkan dua nama yang telah begitu lama memberi keindahan bagi permainan.

Apakah Modrić Benar

Pertanyaan terbesar setelah pertandingan adalah apakah Modrić benar. Secara teknis, keputusan VAR bisa dibela bila sensor bola memang menunjukkan kontak Matanović dan bila kontak itu membuat Pašalić offside. The Guardian dan Sky Sports sama-sama melaporkan bahwa teknologi mendeteksi sentuhan tipis sebelum gol Gvardiol dibatalkan.

Namun kritik Modrić tidak hanya soal teknologi mendeteksi sentuhan. Ia mempertanyakan kapan VAR seharusnya masuk, bagaimana standar “clear and obvious” diterapkan, dan apakah keputusan seperti penalti Portugal cukup kuat untuk mengubah arah pertandingan sebesar itu. Di titik ini, debatnya menjadi lebih filosofis daripada teknis.

Bila VAR digunakan untuk semua detail yang bisa diperdebatkan, maka pertandingan menjadi sangat presisi tetapi kehilangan keluwesan. Bila VAR hanya digunakan untuk kesalahan besar, maka beberapa keputusan tipis mungkin tetap dibiarkan demi alur permainan. Sepak bola modern belum sepenuhnya menemukan keseimbangan antara dua pendekatan itu.

Modrić berbicara sebagai pemain yang merasa dirugikan. Portugal berbicara sebagai tim yang merasa aturan ditegakkan. FIFA dan wasit berbicara melalui data. Publik terbelah di antara semuanya.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE