Kylian Mbappé tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya setelah tim nasional Prancis menutup perjalanan di Piala Dunia 2026 dengan kekalahan. Les Bleus takluk 4-6 dari Inggris dalam pertandingan perebutan tempat ketiga yang berlangsung penuh drama di Miami pada 18 Juli 2026. Hasil tersebut terasa semakin menyakitkan karena laga itu menjadi penampilan terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih tim nasional Prancis setelah 14 tahun memimpin.
Mbappé sebenarnya telah memberikan kontribusi besar. Kapten Prancis itu mencetak dua gol ketika timnya mencoba bangkit setelah tertinggal empat gol pada babak pertama. Namun, performa individunya tidak cukup untuk menghadirkan kemenangan yang diinginkan para pemain sebagai hadiah perpisahan bagi Deschamps.
Setelah pertandingan, Mbappé mengakui bahwa Prancis ingin melakukan sesuatu yang istimewa bagi sang pelatih. Penampilan buruk pada 45 menit pertama justru memberikan kesan bahwa para pemain telah mengecewakan Deschamps. Meski demikian, Mbappé menegaskan satu kekalahan tidak akan menghapus warisan besar pelatih yang pernah membawa Prancis menjadi juara dunia tersebut.
Perpisahan yang Tidak Berjalan Sesuai Harapan
Prancis datang ke pertandingan perebutan tempat ketiga dengan satu tujuan emosional. Setelah gagal menembus final karena dikalahkan Spanyol 0-2 pada semifinal, Les Bleus ingin menutup turnamen dengan kemenangan sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada Deschamps.
Bagi para pemain, pertandingan melawan Inggris bukan hanya tentang medali perunggu. Laga tersebut merupakan kesempatan terakhir untuk bekerja bersama pelatih yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan tim nasional selama lebih dari satu dekade.
Deschamps mengambil alih timnas Prancis pada 2012. Di bawah kepemimpinannya, Les Bleus kembali menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola dunia. Ia mengantar Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018, mencapai final Piala Dunia 2022, dan mempertahankan timnya sebagai pesaing di berbagai turnamen besar.
Karena itu, para pemain tentu berharap perjalanan panjang tersebut berakhir dengan pemandangan Deschamps meninggalkan lapangan setelah kemenangan. Kenyataannya justru berbeda. Prancis menjalani salah satu babak pertama terburuk selama era kepelatihannya dan tertinggal 0-4 sebelum turun minum.
Kekalahan itu tidak hanya membuat mereka gagal mendapatkan medali perunggu. Hasil tersebut juga meninggalkan rasa bersalah karena para pemain merasa tidak mampu memberikan akhir yang layak bagi sosok yang telah membimbing banyak generasi Les Bleus.
Inggris Menghukum Prancis Sejak Awal
Inggris memulai pertandingan dengan kecepatan, intensitas, dan ketajaman luar biasa. Declan Rice membuka skor saat laga baru berjalan tiga menit. Ezri Konsa kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-18.
Bukayo Saka menjadi pemain yang paling merepotkan pertahanan Prancis. Penyerang sayap Inggris itu mencetak dua gol sebelum babak pertama berakhir. Golnya pada menit ke-37 dan masa tambahan waktu membuat Inggris memasuki ruang ganti dengan keunggulan 4-0.
Prancis terlihat tidak siap menghadapi agresivitas lawan. Jarak antarlini terlalu terbuka, duel-duel penting sering dimenangkan Inggris, dan para pemain bertahan kesulitan mengatasi pergerakan cepat dari sisi sayap.
Mbappé menggambarkan timnya sebagai kelompok yang benar-benar terpukul oleh permainan Inggris. Ia memahami mengapa sebagian orang menilai Prancis tidak menunjukkan rasa hormat yang cukup terhadap seragam nasional pada babak pertama. Namun, sang kapten menilai apa yang terjadi lebih mencerminkan sisi manusiawi para pemain yang kehilangan kendali dalam tekanan pertandingan.
Masalahnya, pada level tertinggi, kesalahan seperti itu dapat menghasilkan konsekuensi besar. Inggris tidak memberikan kesempatan kepada Prancis untuk memperbaiki keadaan. Setiap kehilangan bola dan keterlambatan dalam bertahan langsung dihukum.
Untuk tim yang ingin memberikan kemenangan perpisahan kepada pelatihnya, tertinggal empat gol pada babak pertama merupakan skenario yang nyaris tidak terbayangkan.
Pesan Terakhir Deschamps di Ruang Ganti
Suasana ruang ganti Prancis ketika jeda dipastikan sangat berat. Deschamps menghadapi tim yang terlihat kehilangan arah, sementara 45 menit terakhir masa jabatannya semakin dekat.
Pelatih berusia 57 tahun itu memberikan pidato tegas mengenai kebanggaan, kewajiban, dan pentingnya memberikan seluruh kemampuan untuk seragam Prancis. Ia juga melakukan empat pergantian pemain dalam usahanya mengubah energi serta struktur permainan. Deschamps kemudian mengatakan bahwa, melihat buruknya penampilan pada babak pertama, ia sebenarnya bisa saja mengganti lebih banyak pemain.
Pidato tersebut menghasilkan reaksi. Prancis kembali ke lapangan dengan sikap yang sepenuhnya berbeda. Tempo meningkat, duel dimainkan dengan lebih berani, dan para pemain menyerang dengan urgensi yang sebelumnya tidak terlihat.
Mbappé menjadi pusat kebangkitan. Ia mencetak gol pertama Prancis pada menit ke-48, hanya beberapa menit setelah babak kedua dimulai. Bradley Barcola kemudian membuat skor menjadi 2-4 pada menit ke-54.
Ketika Mbappé mencetak gol keduanya pada menit ke-66, Prancis hanya tertinggal satu gol. Dari posisi 0-4, Les Bleus berhasil mengubah pertandingan menjadi 3-4. Stadion mulai merasakan kemungkinan terjadinya salah satu kebangkitan terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
Mbappé Memimpin Kebangkitan Les Bleus
Sebagai kapten, Mbappé mengambil tanggung jawab besar pada babak kedua. Ia meningkatkan intensitas pergerakan, mencari ruang di belakang pertahanan Inggris, dan mendorong rekan-rekannya untuk terus menyerang.
Dua golnya memperlihatkan ketajaman seorang pemain yang tetap mampu memberikan ancaman meski tim berada dalam situasi sangat sulit. Selain dua gol tersebut, Mbappé juga mencatatkan kontribusi dalam terciptanya peluang-peluang berbahaya Prancis sepanjang babak kedua. Menurut catatan statistik yang dikutip FotMob, ia menutup pertandingan dengan dua gol dan satu assist.
Performa tersebut memperlihatkan bahwa Mbappé tidak menyerah pada hasil. Ia mengetahui kemenangan menjadi sangat penting bagi Deschamps dan berusaha menarik Prancis kembali ke dalam pertandingan.
Namun, usaha keras itu juga menghadirkan ironi. Secara individu, Mbappé menciptakan catatan bersejarah. Secara kolektif, Prancis tetap kalah dan gagal memberikan perpisahan yang diinginkan.
Kondisi seperti inilah yang menjelaskan mengapa sang kapten lebih banyak membicarakan Deschamps daripada pencapaiannya sendiri. Rekor individual memang berarti, tetapi pada malam tersebut Mbappé ingin memberikan kemenangan kepada tim dan pelatihnya.
Hattrick Saka Menghentikan Momentum Prancis
Setelah Prancis memperkecil ketertinggalan menjadi 3-4, Inggris berada dalam tekanan. Les Bleus terus menyerang dan mulai terlihat memiliki peluang untuk menyamakan kedudukan.
Namun, Inggris berhasil bertahan dari periode tersebut. Pada menit ke-87, Saka mengeksekusi penalti untuk melengkapi hattrick dan membawa timnya kembali unggul dua gol.
Ousmane Dembélé mencetak gol keempat Prancis pada masa tambahan waktu, tetapi Jude Bellingham segera membalas. Gol Bellingham memastikan Inggris menang 6-4 sekaligus membawa pulang medali perunggu.
Pertandingan tersebut menghasilkan sepuluh gol, jumlah terbanyak yang pernah tercipta dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia. Duel ini juga menjadi pertandingan Piala Dunia dengan skor tertinggi sejak kemenangan Hungaria 10-1 atas El Salvador pada 1982.
Bagi penonton netral, pertandingan itu menjadi tontonan luar biasa. Bagi Mbappé dan Prancis, drama sepuluh gol tersebut akan selalu dikenang sebagai malam ketika mereka hampir bangkit, tetapi tetap gagal mengantarkan Deschamps pergi dengan kemenangan.
Mbappé Merasa Para Pemain Mengecewakan Pelatih
Pernyataan Mbappé setelah pertandingan mencerminkan rasa tanggung jawabnya sebagai kapten. Ia tidak berusaha menyembunyikan buruknya permainan Prancis pada babak pertama.
Menurut Mbappé, penampilan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa para pemain telah mengecewakan Deschamps. Padahal, mereka justru memasuki pertandingan dengan keinginan memberikan sesuatu kepada sang pelatih.
Ia juga menekankan bahwa Prancis kembali menunjukkan kualitasnya setelah jeda. Para pemain berubah menjadi lebih kuat secara mental dan mampu memenangkan babak kedua. Akan tetapi, kebangkitan tersebut datang terlambat karena kerusakan yang terjadi selama 45 menit pertama terlalu besar.
Sikap terbuka Mbappé penting bagi sebuah tim yang sedang memasuki masa transisi. Sebagai kapten, ia harus mengakui kesalahan tanpa menghancurkan kepercayaan diri rekan-rekannya.
Ia tidak sepenuhnya menyalahkan pemain tertentu atau mencari alasan dari luar. Mbappé menerima bahwa Prancis gagal menampilkan standar yang dibutuhkan sejak awal, lalu menegaskan bahwa reaksi pada babak kedua memperlihatkan karakter sebenarnya dari tim tersebut.
Kekalahan Tidak Menghapus Legenda Deschamps
Meski kecewa, Mbappé menolak menganggap hasil pertandingan melawan Inggris sebagai noda terhadap warisan Deschamps.
Pelatih tersebut telah memberikan terlalu banyak bagi sepak bola Prancis untuk dinilai hanya melalui satu malam. Sebelum menjadi pelatih, Deschamps telah membantu Les Bleus menjuarai Piala Dunia 1998 sebagai kapten. Dua dekade kemudian, ia kembali mengangkat trofi yang sama sebagai pelatih setelah Prancis mengalahkan Kroasia pada final 2018.
Ia membangun tim yang mampu bersaing secara konsisten meski beberapa kali mengalami perubahan generasi. Pemain senior pergi, bintang-bintang baru datang, tetapi Prancis tetap berada dekat dengan puncak sepak bola internasional.
Deschamps juga memiliki peran besar dalam perkembangan Mbappé. Ia memberikan kepercayaan kepada penyerang muda tersebut pada Piala Dunia 2018 dan menjadikannya salah satu pusat permainan Prancis.
Dalam beberapa tahun berikutnya, Mbappé berkembang menjadi pemain utama dan akhirnya dipercaya mengenakan ban kapten. Hubungan profesional mereka melewati kemenangan besar, kekalahan menyakitkan, tekanan media, serta berbagai perubahan di dalam skuad.
Karena itu, kegagalan menghadirkan kemenangan dalam laga terakhir tidak akan menghapus penghargaan Mbappé terhadap Deschamps. Sang kapten menegaskan bahwa pertandingan tersebut tidak akan menodai legenda pelatihnya.
Akhir dari Perjalanan 14 Tahun
Deschamps mengakhiri masa jabatannya setelah memimpin Prancis sejak 2012. Keputusan untuk pergi setelah Piala Dunia telah diumumkan sebelumnya, sehingga turnamen 2026 menjadi perjalanan terakhirnya bersama Les Bleus.
Setelah pertandingan melawan Inggris, Deschamps mengungkapkan bahwa suasana di sekelilingnya telah menjadi terlalu menyesakkan. Ia menjelaskan keputusan berhenti bukan semata-mata demi kepentingan pribadi, melainkan karena merasa langkah tersebut menjadi pilihan terbaik bagi tim nasional Prancis.
Selama bertahun-tahun, Deschamps memang kerap mendapat kritik. Pendekatan pragmatisnya dianggap terlalu berhati-hati oleh sebagian pengamat, terutama karena Prancis memiliki banyak pemain menyerang berkualitas tinggi.
Namun, kritik tersebut berjalan berdampingan dengan hasil yang sulit dibantah. Ia membawa stabilitas, disiplin, dan kemampuan menghadapi turnamen dengan sangat baik. Prancis tidak selalu bermain dengan cara paling menghibur, tetapi mereka hampir selalu menjadi salah satu tim yang sulit disingkirkan.
Pada konferensi pers terakhirnya, Deschamps berbicara mengenai kebanggaan telah melayani negaranya begitu lama. Ia juga menerima penghormatan dari para pemain serta orang-orang yang hadir. Beberapa pesan yang diterimanya bahkan membuatnya menangis.
Rekor Mbappé Terasa Hambar
Di tengah kekalahan tersebut, Mbappé menciptakan sejarah pribadi. Dua gol ke gawang Inggris membawanya mencapai 22 gol sepanjang karier di Piala Dunia. Ia juga menutup turnamen 2026 dengan sepuluh gol.
Catatan itu seharusnya menjadi alasan besar untuk merayakan. Namun, Mbappé menegaskan bahwa rekor bukan hal pertama yang berada dalam pikirannya.
Ia bahkan menyatakan lebih memilih tidak menjadi pencetak gol terbanyak jika sebagai gantinya dapat tampil di final. Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya ambisi Mbappé dan kekecewaannya terhadap hasil Prancis.
Bagi pemain seperti Mbappé, gol adalah sarana untuk mencapai kemenangan, bukan tujuan akhir. Ia telah mencetak gol dalam berbagai pertandingan penting dan mendapatkan banyak penghargaan individu, tetapi kegagalan membawa Prancis ke final serta memberikan kemenangan untuk Deschamps membuat pencapaiannya terasa tidak lengkap.
Sang kapten memahami bahwa sejarah akan mencatat jumlah golnya. Akan tetapi, kenangan emosional dari turnamen ini kemungkinan lebih banyak berkaitan dengan kegagalan melawan Spanyol dan kekalahan dramatis dari Inggris.
Tanggung Jawab Baru untuk Sang Kapten
Kepergian Deschamps membuka periode baru bagi timnas Prancis. Siapa pun yang menjadi pelatih berikutnya akan mewarisi skuad penuh kualitas, tetapi juga menghadapi ekspektasi sangat tinggi.
Mbappé akan memainkan peran penting dalam transisi tersebut. Sebagai kapten dan pemain paling berpengaruh, ia harus membantu menjaga kesatuan ruang ganti serta menjembatani hubungan antara generasi lama dan wajah-wajah baru.
Selama ini, Deschamps menjadi pusat stabilitas tim nasional. Setelah kepergiannya, sebagian tanggung jawab menjaga identitas Les Bleus akan berpindah kepada para pemimpin di lapangan.
Kekalahan dari Inggris dapat menjadi pelajaran penting. Prancis menunjukkan bahwa mereka mampu bangkit ketika berada di bawah tekanan, tetapi mereka juga memperlihatkan betapa mahalnya kehilangan fokus sejak awal.
Mbappé harus membantu memastikan penampilan seperti pada babak pertama tidak terulang. Dengan kualitas pemain yang tersedia, masalah terbesar Prancis mungkin bukan kekurangan bakat, melainkan kemampuan menyatukan energi, disiplin, dan konsentrasi sepanjang pertandingan.
Reaksi Babak Kedua Menjadi Penghormatan Terakhir
Meski kemenangan tidak berhasil diraih, reaksi Prancis pada babak kedua tetap dapat dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada Deschamps.
Setelah pidato terakhir sang pelatih di ruang ganti, para pemain kembali menunjukkan semangat yang selama bertahun-tahun menjadi ciri timnya. Mereka tidak menyerah meski tertinggal empat gol dan berhasil membuat Inggris berada dalam tekanan besar.
Prancis mencetak empat gol setelah jeda. Mbappé memimpin kebangkitan, Barcola memberikan energi, Dembélé terus menciptakan ancaman, dan pemain pengganti membantu mengubah dinamika pertandingan.
Hasil akhir memang tetap mengecewakan, tetapi babak kedua tersebut menunjukkan bahwa pesan Deschamps masih memiliki kekuatan hingga menit-menit terakhir masa jabatannya.
Ia berhasil membangkitkan tim yang tampak kehilangan arah. Bahkan dalam pertandingan terakhir, Deschamps masih menunjukkan kemampuan membaca masalah, mengambil keputusan tegas, dan meyakinkan pemain agar kembali berjuang.
Bagi Mbappé, kebangkitan tersebut tidak cukup untuk menghapus kekecewaan. Namun, setidaknya Prancis tidak membiarkan era Deschamps berakhir tanpa perlawanan.
Warisan yang Lebih Besar daripada Satu Hasil
Sepak bola sering kali mengingat akhir sebuah perjalanan, tetapi warisan Deschamps tidak dapat dirangkum melalui skor 4-6.
Ia telah mengabdikan sebagian besar kehidupan profesionalnya kepada tim nasional, baik sebagai pemain maupun pelatih. Deschamps berkontribusi dalam dua gelar Piala Dunia Prancis dengan peran berbeda dan membantu membangun budaya kemenangan yang bertahan selama beberapa generasi.
Di bawah kepemimpinannya, pemain-pemain seperti Mbappé tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga memahami tuntutan membawa nama sebuah negara dalam turnamen besar.
Deschamps meninggalkan standar tinggi. Pelatih berikutnya tidak hanya dituntut memainkan sepak bola menarik, tetapi juga menjaga konsistensi hasil yang telah menjadi kebiasaan Les Bleus.
Mbappé menyadari besarnya warisan itu. Karena itulah ia merasa kecewa tidak dapat memberikan kemenangan terakhir. Bukan karena Deschamps membutuhkan satu hasil untuk membuktikan keberhasilannya, melainkan karena para pemain ingin membalas kepercayaan dan kerja keras sang pelatih melalui sebuah perpisahan yang indah.
Baca Juga:












