Kekalahan Jerman dari Paraguay di Piala Dunia 2026 bukan hanya mengejutkan. Kekalahan itu juga membuka kembali perdebatan lama tentang arah sepak bola Jerman. Banyak pihak langsung menyorot Julian Nagelsmann sebagai sosok yang harus bertanggung jawab atas kegagalan Die Mannschaft. Namun, Oliver Kahn melihat persoalan tersebut dari sudut berbeda.
Bagi Kahn, masalah Jerman tidak bisa disederhanakan menjadi satu nama pelatih. Ia menilai kegagalan terbaru ini merupakan gejala dari persoalan yang lebih dalam: mentalitas, tanggung jawab, dan keberanian mengambil risiko pada momen paling menentukan. GOAL melaporkan bahwa Kahn menolak menjadikan Nagelsmann sebagai akar masalah, dan justru menyoroti bagaimana adu penalti melawan Paraguay memperlihatkan kurangnya rasa tanggung jawab di dalam skuad Jerman.
Komentar Kahn terasa kuat karena datang dari sosok yang sangat memahami tekanan besar di panggung dunia. Ia bukan hanya mantan kiper legendaris, tetapi juga figur yang pernah menjadi simbol mentalitas keras Jerman. Ketika ia menyebut penolakan atau keraguan pemain untuk mengambil penalti sebagai “momen paling mengungkap”, publik Jerman seharusnya tidak melihatnya sebagai kritik emosional, melainkan sebagai alarm serius.
Dalam sepak bola, statistik bisa menjelaskan banyak hal. Namun, kadang satu gestur kecil lebih kuat daripada semua angka. Bagi Kahn, momen ketika Joshua Kimmich terlihat mencari eksekutor tambahan dalam adu penalti menunjukkan sesuatu yang fundamental: Jerman tidak lagi memiliki cukup banyak pemain yang secara alami meminta bola ketika tekanan mencapai titik tertinggi. Bavarian Football Works mengutip analisis Kahn bahwa tim elite tidak mencari sukarelawan dalam situasi seperti itu, karena pemain top seharusnya menuntut bola pada momen besar.
Kekalahan dari Paraguay yang Menghancurkan Keyakinan Lama
Jerman tersingkir di babak 32 besar setelah kalah adu penalti dari Paraguay. Reuters melaporkan bahwa kekalahan itu menjadi bagian dari kegagalan Piala Dunia ketiga secara beruntun bagi Jerman, setelah mereka juga mengalami hasil mengecewakan pada 2018 dan 2022.
Hasil ini terasa semakin menyakitkan karena Jerman selama bertahun-tahun dikenal sebagai negara yang sangat kuat dalam situasi penalti. Dalam imajinasi sepak bola global, Jerman identik dengan ketenangan, disiplin, dan eksekusi dingin. Mereka sering dianggap sebagai bangsa yang hampir tidak pernah gugup dari titik putih. Namun, melawan Paraguay, citra itu runtuh.
Kekalahan adu penalti bukan sekadar hasil akhir. Itu menjadi simbol perubahan besar dalam identitas tim nasional Jerman. Jika dulu lawan merasa takut ketika pertandingan memasuki adu penalti melawan Jerman, kini justru Jerman terlihat rapuh dalam situasi yang dulu menjadi wilayah kekuatan mereka.
Kahn melihat momen tersebut sebagai cermin. Bukan hanya cermin kegagalan satu malam, melainkan cermin dari masalah bertahun-tahun. Ia mengingatkan bahwa tiga pelatih berbeda—Joachim Low, Hansi Flick, dan Julian Nagelsmann—mengalami kegagalan pada titik yang serupa dengan pendekatan yang berbeda-beda. Karena itu, menurutnya, persoalan tidak bisa hanya ditempelkan pada kursi pelatih.
Penalti Bukan Lagi Lotre Melainkan Ujian Mental
Adu penalti sering disebut sebagai lotre. Namun, pandangan itu semakin dianggap usang. Reuters menulis bahwa di Piala Dunia 2026, banyak tim mulai memperlakukan penalti sebagai disiplin khusus yang membutuhkan latihan teknis, rutinitas psikologis, dan persiapan data. Dalam laporan yang sama, Jerman dan Belanda disebut sebagai contoh tim yang tersingkir setelah kalah adu penalti dari lawan yang lebih siap.
Inilah yang membuat kritik Kahn semakin relevan. Jika penalti bukan lagi sekadar keberuntungan, maka kegagalan Jerman harus dibaca sebagai tanda kurangnya kesiapan mental dan struktural. Pemain tidak hanya harus mampu menendang bola dengan baik. Mereka harus siap berjalan dari tengah lapangan, menghadapi suara stadion, menahan tekanan nasional, dan tetap mengambil keputusan dengan kepala dingin.
Dalam konteks itu, momen Kimmich mencari eksekutor menjadi sangat simbolis. Bukan berarti para pemain Jerman tidak punya teknik. Mereka tentu punya kualitas. Namun, ketika tekanan mencapai puncak, pertanyaan berubah: siapa yang mau mengambil tanggung jawab?
Kahn menilai Jerman tidak kekurangan talenta. Ia menyoroti bahwa tim ini memiliki pesepak bola luar biasa, tetapi kurang percaya diri untuk mengambil tanggung jawab pada momen terbesar. Menurutnya, mereka yang menghindari momen tersebut mungkin sedang melindungi diri dari kegagalan, tetapi pada saat yang sama mereka juga kehilangan kesempatan menciptakan sejarah.
Mengapa Kahn Tidak Menyalahkan Nagelsmann Sepenuhnya
Dalam sepak bola modern, pelatih sering menjadi sasaran paling cepat ketika tim gagal. Taktik dipertanyakan, susunan pemain dikritik, pergantian pemain dibedah, dan gaya kepemimpinan disorot. Nagelsmann tentu tidak bebas dari evaluasi. Jerman tersingkir, dan pelatih harus ikut bertanggung jawab atas hasil.
Namun, Kahn memperingatkan bahwa terlalu fokus pada Nagelsmann bisa membuat Jerman menghindari pertanyaan yang lebih penting. Jika tiga pelatih berbeda mengalami kegagalan besar, maka masalahnya mungkin bukan hanya di ruang taktik. Masalahnya bisa berada dalam sistem pembinaan, karakter pemain, kultur kompetisi, hingga cara talenta muda dibentuk sejak awal.
Reuters melaporkan bahwa Bild menyebut Nagelsmann akan mundur setelah kegagalan Jerman, dengan keputusan tersebut dikabarkan muncul setelah pertemuan tertutup selama tiga jam bersama pejabat DFB di Frankfurt. Laporan yang sama menyebut Nagelsmann sebelumnya mengatakan bahwa ia bukan tipe orang yang langsung mundur hanya karena eliminasi.
Situasi ini menunjukkan betapa besar tekanan terhadap pelatih Jerman. Namun, Kahn seolah ingin mengatakan bahwa mengganti pelatih lagi tidak otomatis menyelesaikan masalah. Jerman sudah pernah mengganti wajah, mengganti gaya, dan mengganti pendekatan. Hasilnya tetap mengecewakan.
Jika diagnosisnya salah, obatnya juga akan salah. Mengganti pelatih mungkin memberi efek segar, tetapi tidak menjamin perubahan mentalitas. Kahn ingin publik melihat akar persoalan, bukan hanya gejala yang paling mudah diserang.
Statistik Buruk Menguatkan Kegelisahan
Selain masalah mental, performa Jerman juga meninggalkan banyak angka yang mengkhawatirkan. Bavarian Football Works mencatat bahwa Jerman memainkan 55 umpan silang melawan Paraguay, jumlah terbanyak dalam pertandingan gugur Piala Dunia sejak data detail dikumpulkan pada 1966, tetapi hanya 10 yang berhasil menemukan rekan setim.
Angka itu menggambarkan kebuntuan taktik. Jerman terlihat berusaha memecah pertahanan Paraguay dengan cara langsung, tetapi eksekusinya tidak efektif. Mereka banyak mengirim bola ke kotak penalti, tetapi tidak cukup presisi. Dominasi bola atau volume serangan tidak berarti banyak jika kualitas keputusan akhir buruk.
Masalah lainnya datang dari duel fisik. Laporan yang sama menyebut Jerman hanya memenangi 47 persen duel sepanjang Piala Dunia 2026, pertama kalinya mereka menutup turnamen dengan tingkat kemenangan duel di bawah 50 persen sejak pencatatan detail dimulai pada 1966.
Jika dua data ini digabungkan, gambarnya menjadi jelas: Jerman tidak cukup efektif secara teknis dan tidak cukup dominan secara fisik. Ditambah lagi masalah mental dalam adu penalti, kegagalan mereka terlihat sebagai kombinasi yang rumit. Inilah mengapa Kahn tidak ingin diskusi berhenti pada Nagelsmann.
Hilangnya Aura Jerman di Turnamen Besar
Jerman pernah menjadi tim yang paling ditakuti di turnamen besar. Dari 2006 hingga 2016, mereka secara konsisten mencapai semifinal dalam enam turnamen besar beruntun. Namun, setelah periode itu, performa mereka merosot tajam. Bavarian Football Works mencatat bahwa sejak masa dominan tersebut, Jerman hanya mencapai satu perempat final, yaitu di Euro 2024.
Penurunan ini tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah proses panjang yang mungkin tertutup oleh reputasi besar. Nama Jerman masih terdengar berat, tetapi performa di lapangan tidak lagi selalu mencerminkan reputasi tersebut. Mereka masih memiliki pemain berbakat, tetapi tidak selalu terlihat seperti tim yang siap menaklukkan tekanan.
Kahn memahami betapa berbahayanya situasi ini. Ketika sebuah negara terlalu lama hidup dari reputasi masa lalu, evaluasi bisa menjadi kabur. Publik mungkin terus berharap Jerman akan bangkit hanya karena mereka Jerman. Namun sepak bola tidak menghormati sejarah jika performa saat ini tidak cukup kuat.
Paraguay tidak peduli pada empat bintang Jerman. Mereka hanya melihat tim yang bisa ditekan, ditahan, dan dikalahkan lewat adu penalti. Itulah realitas baru yang harus diterima.
Tanggung Jawab sebagai Kata Kunci
Inti dari kritik Kahn adalah tanggung jawab. Ia tidak hanya berbicara tentang siapa yang menendang penalti. Ia berbicara tentang budaya mengambil beban. Dalam tim besar, pemain seharusnya tidak menunggu ditunjuk pada momen besar. Mereka harus merasa terpanggil.
Tanggung jawab dalam sepak bola bukan hanya soal ban kapten. Bukan hanya soal memberi wawancara setelah pertandingan. Tanggung jawab adalah keberanian mengambil risiko ketika kemungkinan gagal sangat nyata. Penalti adalah contoh paling murni. Semua orang melihat. Tidak ada tempat bersembunyi. Jika gagal, nama pemain akan diingat. Jika sukses, ia menjadi pahlawan.
Kahn tahu betapa beratnya momen seperti itu. Sebagai kiper, ia pernah berdiri di pusat tekanan. Ia memahami bagaimana mentalitas membedakan pemain bagus dari pemain yang benar-benar elite. Karena itu, komentarnya tentang penolakan penalti tidak boleh dianggap sekadar kritik keras. Itu adalah penilaian dari seseorang yang pernah hidup dalam tekanan paling ekstrem.
Jika pemain memilih menghindar, tim kehilangan sesuatu yang lebih besar dari satu tendangan. Tim kehilangan sinyal bahwa mereka siap memikul sejarah.
Kimmich di Tengah Simbol Krisis
Joshua Kimmich menjadi figur penting dalam narasi ini karena ia terlihat sebagai pemain yang harus mencari eksekutor. Bukan berarti Kimmich bersalah atas seluruh kejadian. Justru posisi Kimmich terlihat seperti simbol beban seorang pemimpin yang tidak mendapat cukup dukungan spontan dari rekan-rekannya.
Kimmich selama ini dikenal sebagai pemain berkarakter kuat, vokal, dan kompetitif. Namun, seorang pemimpin pun membutuhkan pemain lain yang siap mengambil beban. Dalam adu penalti, kapten atau pemain senior tidak bisa menendang semua bola. Ia membutuhkan barisan pemain yang berkata, secara sikap atau tindakan, “beri saya tanggung jawab itu.”
Kahn melihat momen tersebut sebagai bukti bahwa Jerman kekurangan pemain dengan insting mengambil alih pada saat genting. Ini bukan tentang satu nama. Ini tentang atmosfer kolektif. Jika sebuah tim harus mencari relawan saat hidup dan mati turnamen dipertaruhkan, maka pertanyaannya bukan hanya siapa yang menendang, melainkan bagaimana budaya mental tim itu dibangun.
Nagelsmann Tetap Punya Bagian Evaluasi
Meski Kahn tidak ingin menyalahkan Nagelsmann secara tunggal, bukan berarti sang pelatih bebas dari kritik. Jerman tetap tersingkir di bawah kepemimpinannya. Pilihan strategi, pendekatan menyerang, dan persiapan adu penalti tetap harus dievaluasi. Pelatih bertanggung jawab menyiapkan tim bukan hanya secara taktik, tetapi juga secara mental.
Reuters menulis bahwa era modern penalti menuntut persiapan mendalam, termasuk latihan rutinitas, psikologi, dan analisis kiper. Dalam laporan itu, beberapa pelatih dan ahli menegaskan bahwa penalti tidak boleh dianggap sebagai kebetulan.
Jika Jerman terlihat tidak siap ketika adu penalti masuk fase kritis, maka pertanyaan untuk staf pelatih tetap sah. Apakah urutan eksekutor sudah jelas? Apakah pemain sudah dilatih menghadapi skenario sudden death? Apakah tekanan psikologis sudah disimulasikan? Apakah semua pemain tahu perannya?
Namun, Kahn ingin pembahasan tidak berhenti di sana. Sebab, pelatih bisa membuat daftar, tetapi pemain tetap harus berjalan ke titik putih. Pelatih bisa menyiapkan skenario, tetapi mental individu tetap diuji ketika stadion hening dan seluruh negara menunggu.
Baca Juga:
- SBOTOP: Ismael Saibari Pilih Nomor 34 di Bayern Munich sebagai Simbol Makna Spesial dalam Kariernya
- SBOTOP: Martinez Tegaskan Modric dan Ronaldo Tak Tergoyahkan Opini Publik Usia Hanya Angka bagi Dua Veteran Elite
- SBOTOP: Axel Tuanzebe Sesalkan DR Kongo Gagal Habisi Inggris di Babak Pertama Usai Tersingkir dari Piala Dunia












