Bek PSBS Biak, George Brown, menjalani Ramadan tahun ini dengan tantangan baru. Berbeda dengan musim sebelumnya saat membela Persita Tangerang dan tinggal bersama keluarga, kini George bermukim di Yogyakarta karena PSBS berkandang di Sleman. Situasi ini membuat puasa terasa lebih menantang, namun sekaligus menjadi momen pembelajaran penting bagi pemain berdarah Indonesia-Inggris ini.
“Puasa hari pertama kemarin, badan terasa sedikit lemas dan mungkin kurang fokus, tapi karena hari pertama ya begitulah,” ungkap George Brown kepada Bola.com, Sabtu (21/2/2026). “Namun, satu sampai dua minggu ke depan kami semua bisa adaptasi, latihan tidak ada masalah,” tambah kakak kandung dari Jack Brown tersebut.
Tantangan Baru di Yogyakarta
George Brown menyadari bahwa jauh dari keluarga membuat Ramadan kali ini berbeda. Musim lalu di Tangerang, ia tinggal bersama keluarga, sehingga momen sahur dan berbuka terasa lebih ringan dan menyenangkan.
“Sekarang di Jogja saya sendirian, enggak ada keluarga. Jadi puasa tahun ini lebih sulit dibandingkan kemarin,” ujar George. “Tapi saya bersyukur di Jogja sendiri, mungkin saya bisa belajar hal baru,” lanjut bek kelahiran London ini.
Selain faktor keluarga, cuaca juga memengaruhi kondisi fisik George saat berpuasa. Ia membandingkan panasnya Tangerang musim lalu dengan kondisi Yogyakarta yang cenderung lebih sejuk dan hujan. “Di Tangerang panas sekali, latihan sore tetap terasa berat. Saat ini di Jogja sering hujan dan lebih dingin, jadi tidak terlalu sulit,” jelasnya.
Perbedaan Ramadan di Inggris dan Indonesia
George Brown menegaskan bahwa ia bukan mualaf dan sudah memeluk Islam sejak lahir. “Dari lahir sudah muslim. Keluarga saya dari Serang, jadi sejak bayi saya diajarkan Islam oleh ibu saya,” ujarnya.
Pengalaman tinggal di Inggris dan Amerika Serikat membuat George merasakan perbedaan besar saat menjalani Ramadan. Di luar negeri, teman sesama Muslim terbatas dan masjid sulit ditemukan, sehingga fokus beribadah lebih menantang.
“Di Inggris dan Amerika, teman Muslim sedikit, masjid juga susah dicari. Jadi susah fokus. Di Indonesia berbeda, banyak teman dan keluarga, jadi bulan puasa terasa lebih nyaman,” kenangnya.
Es Pisang Ijo, Menu Favorit Buka Puasa
Salah satu hal yang selalu dinanti George saat adzan Maghrib berkumandang adalah menu berbuka puasa. Tanpa ragu, ia menyebut es pisang ijo sebagai makanan favoritnya.
“Es pisang ijo,” jawabnya singkat saat ditanya menu favorit. Mantan pemain Persebaya Surabaya ini berharap Ramadan tahun ini bisa dijalani dengan lebih maksimal, meski berat karena jauh dari keluarga.
“Puasa tahun lalu saya tidak puasa penuh karena tim main lawan Malut United di Ternate. Tahun ini tantangannya lebih besar, harus puasa sendiri, sahur sendiri, buka puasa sendiri. Tapi saya senang bisa belajar banyak dari situ,” ujar George.
Adaptasi Fisik dan Mental sebagai Pesepak Bola
Sebagai pesepak bola profesional, George Brown harus menjaga kondisi fisik agar tetap prima selama puasa, terutama di tengah kompetisi BRI Super League 2025/2026. Adaptasi latihan, asupan nutrisi saat sahur dan berbuka, serta pengaturan intensitas latihan menjadi fokus utama agar performa di lapangan tidak terganggu.
Pengalaman menjalani Ramadan jauh dari keluarga sekaligus menjadi latihan mental. George belajar mandiri, disiplin, dan mengatur ritme tubuh agar tetap bugar. Kombinasi fisik dan mental yang seimbang ini penting agar ia bisa memberikan kontribusi maksimal bagi PSBS Biak di sisa musim ini.
Kesimpulan
Ramadan tahun ini menjadi momen istimewa sekaligus menantang bagi George Brown. Jauh dari keluarga di Yogyakarta, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, menjaga kebugaran, dan menyesuaikan ritme latihan agar tetap prima di tengah kompetisi BRI Super League. Meski berat, pengalaman ini memberinya pembelajaran berharga dalam kemandirian dan disiplin.
Tak kalah penting, momen berbuka puasa tetap membawa kebahagiaan bagi George, terutama dengan menikmati es pisang ijo sebagai menu favorit. Kombinasi antara tantangan fisik, adaptasi mental, dan kebahagiaan sederhana ini membuat Ramadan George Brown di PSBS Biak menjadi cerita yang inspiratif bagi pemain profesional maupun penggemar sepak bola.
Dengan kesiapan fisik dan mental yang terus diasah, George diharapkan mampu tampil optimal sepanjang sisa musim, sekaligus menunjukkan dedikasi tinggi sebagai pemain yang disiplin, profesional, dan tetap menjaga nilai-nilai spiritual selama Ramadan.
BACA JUGA :












