1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Riyad Mahrez Akhiri Karier Internasional Setelah Langkah Aljazair Terhenti di Piala Dunia

Riyad Mahrez akhirnya menutup bab besar dalam hidupnya bersama tim nasional Aljazair. Setelah kekalahan 0-2 dari Swiss di babak 32 besar Piala Dunia 2026, mantan bintang Manchester City itu mengumumkan bahwa laga tersebut menjadi penampilan terakhirnya untuk Les Fennecs. Keputusan ini tidak hanya menjadi kabar besar bagi sepak bola Aljazair, tetapi juga menjadi momen emosional bagi generasi penggemar yang tumbuh melihat Mahrez sebagai wajah utama kebanggaan nasional mereka. ESPN melaporkan bahwa Mahrez mengumumkan pensiun internasional setelah Aljazair tersingkir dari Piala Dunia melalui kekalahan 0-2 dari Swiss.

Bagi Mahrez, keputusan ini datang setelah perjalanan panjang yang berisi kejayaan, tekanan, kritik, dan cinta besar kepada negaranya. Ia meninggalkan tim nasional dengan 119 caps dan 40 gol, menjadikannya pemain dengan jumlah penampilan terbanyak kedua dan pencetak gol terbanyak kedua dalam sejarah Aljazair. Angka itu menunjukkan bahwa Mahrez bukan sekadar pemain berbakat yang sesekali bersinar; ia adalah simbol konsistensi selama lebih dari satu dekade.

Ketika ia berjalan meninggalkan lapangan setelah laga kontra Swiss, Mahrez memberikan gestur menyentuh kepada para pendukung. ESPN mencatat bahwa ia mengangkat ibu jari, menepuk dada, lalu melambaikan tangan kepada fans. Itu bukan hanya salam perpisahan biasa. Itu adalah bahasa tubuh seorang kapten yang tahu bahwa satu perjalanan besar telah selesai.

Kekalahan dari Swiss yang Menutup Perjalanan

Aljazair datang ke laga melawan Swiss dengan harapan untuk mengulang, bahkan melampaui, pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia. Namun Swiss tampil lebih tenang, lebih efisien, dan lebih matang. Breel Embolo membuka skor pada menit ke-10 setelah menerima umpan dari Johan Manzambi, sementara Dan Ndoye menggandakan keunggulan tak lama setelah babak kedua dimulai. beIN Sports melaporkan bahwa dua gol tersebut cukup untuk mengirim Swiss ke babak 16 besar dan mengakhiri perjalanan Aljazair.

The Guardian menggambarkan Swiss sebagai tim yang nyaris tidak perlu keluar dari “gigi tiga” untuk mengendalikan laga. Mereka mencetak gol cepat, memanfaatkan kesalahan Aljazair pada awal babak kedua, lalu menjaga struktur bertahan dengan rapi sampai akhir. Aljazair memang memiliki lebih banyak penguasaan bola, tetapi Swiss unggul dalam efektivitas, mencatat 11 tembakan berbanding delapan milik Aljazair, serta lima tembakan tepat sasaran berbanding dua.

Mahrez sebenarnya sempat memberi percikan harapan. Pada akhir babak pertama, ia mengirim umpan silang akurat yang hampir menjadi peluang besar bagi Ibrahim Maza, tetapi penyelesaian akhirnya melebar. Setelah Swiss mencetak gol kedua, tendangan Mahrez juga sempat diblok, dan setelah itu Aljazair nyaris tidak menciptakan ancaman berarti.

Dalam pertandingan seperti ini, detail kecil menjadi pembeda. Aljazair tidak kalah karena tidak berusaha. Mereka kalah karena Swiss lebih disiplin, lebih tajam, dan lebih siap menghukum kesalahan. Mahrez sendiri mengakui bahwa timnya membuat kesalahan mahal. Ia mengatakan Aljazair sebenarnya menargetkan kelolosan dan merasa pertandingan itu bisa dimenangkan, tetapi dua kesalahan yang berujung gol membuat mereka tidak bisa lolos di level setinggi Piala Dunia.

Mahrez Mengakui Waktunya Telah Tiba

Pernyataan Mahrez setelah pertandingan terasa jujur dan dewasa. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia tidak mencari alasan. Ia mengakui bahwa Aljazair punya sisi positif karena berhasil lolos dari fase grup, tetapi juga menegaskan bahwa jumlah gol yang mereka kebobolan terlalu banyak untuk bisa melangkah lebih jauh. Kemudian ia mengucapkan kalimat yang menutup semuanya: laga itu adalah pertandingan terakhirnya bersama Aljazair.

Dalam kutipan lain, Mahrez menyebut bahwa membela Aljazair adalah mimpi sejak kecil, sebuah kehormatan besar, dan sumber kebanggaan luar biasa. Ia juga mengatakan bahwa sekarang giliran generasi baru untuk bermain.

Kalimat itu penting. Mahrez tidak hanya pensiun karena tubuhnya menua atau karena Aljazair tersingkir. Ia pensiun dengan kesadaran bahwa regenerasi harus berjalan. Pada usia 35 tahun, ia masih bisa memberi kualitas, pengalaman, dan kepemimpinan. Tetapi ia juga memahami bahwa tim nasional tidak boleh terus berputar di sekitar satu nama.

Bagi Aljazair, ini adalah momen sulit. Melepas pemain seperti Mahrez bukan hanya soal mengganti satu posisi di sayap kanan. Ini soal kehilangan ikon, kapten, pembuat momen, dan figur yang selama bertahun-tahun menjadi pusat harapan.

Warisan 2019 yang Tidak Akan Hilang

Jika ada satu momen yang akan selalu melekat pada Mahrez bersama Aljazair, itu adalah Piala Afrika 2019. Ia menjadi bagian dari skuad yang membawa Aljazair meraih gelar kontinental, sebuah pencapaian yang mengangkat namanya ke level legenda nasional. ESPN mencatat bahwa Mahrez merupakan bagian dari tim Aljazair yang menjuarai Africa Cup of Nations 2019.

Gelar itu tidak hanya penting secara statistik. Ia mengubah cara publik melihat generasi Mahrez. Sebelum 2019, Aljazair punya banyak talenta hebat, tetapi belum selalu mampu mengubah kualitas menjadi trofi besar. Ketika gelar itu datang, Mahrez menjadi salah satu simbol perubahan mental: Aljazair bukan lagi sekadar tim yang bisa mengejutkan lawan, melainkan tim yang mampu menjadi juara.

Dalam karier internasional, tidak semua pemain hebat mendapatkan momen seperti itu. Ada banyak bintang besar yang pensiun tanpa pernah mengangkat trofi bersama negaranya. Mahrez tidak termasuk dalam kelompok itu. Ia meninggalkan tim nasional dengan medali, kenangan, dan status sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah Aljazair.

Karena itu, meskipun perpisahannya terjadi setelah kekalahan pahit, warisannya tidak boleh dinilai hanya dari satu malam di Vancouver. Karier internasional Mahrez jauh lebih luas daripada hasil melawan Swiss.

Dari Leicester Manchester City hingga Aljazair

Mahrez juga membawa reputasi klub yang luar biasa ketika membela negaranya. Ia dikenal dunia setelah menjadi bagian penting dari kisah ajaib Leicester City menjuarai Premier League. Setelah itu, ia pindah ke Manchester City dan meraih lebih banyak gelar, termasuk empat gelar Premier League serta Liga Champions. ESPN mencatat bahwa di level klub, Mahrez memenangkan satu gelar Premier League bersama Leicester, empat bersama Manchester City, dan satu Liga Champions bersama City.

Namun yang membuat Mahrez istimewa bagi Aljazair adalah bagaimana ia tidak pernah terlihat memperlakukan tim nasional sebagai beban. Ia membawa status bintang global, tetapi tetap bermain dengan rasa tanggung jawab terhadap negaranya. Dalam banyak laga, ia menjadi pusat kreativitas, eksekutor bola mati, pemimpin serangan, dan pemikul tekanan publik.

Ekspektasi terhadap Mahrez sering kali tidak adil. Ketika Aljazair menang, ia dipuji. Ketika Aljazair gagal, ia menjadi sorotan utama. Itulah nasib seorang pemain besar dalam tim nasional besar. Tetapi selama bertahun-tahun, ia tetap kembali, tetap mengenakan ban kapten, dan tetap menerima beban itu.

Itulah mengapa pensiunnya terasa begitu besar. Aljazair tidak hanya kehilangan pemain. Mereka kehilangan referensi.

Piala Dunia 2026 dan Sisa Kebanggaan

Meski tersingkir di babak 32 besar, Aljazair tidak sepenuhnya gagal tanpa jejak positif. Mahrez sendiri menyebut bahwa lolos dari fase grup tetap menjadi sesuatu yang bisa diambil sebagai nilai positif. Di turnamen ini, ia masih menunjukkan bahwa sentuhannya belum hilang. ESPN bahkan mencatat bahwa Mahrez membantu Aljazair mencapai fase gugur melalui performa dua gol dan satu assist dalam hasil imbang 3-3 melawan Austria.

Namun standar turnamen besar memang kejam. Satu performa bagus di fase grup tidak menjamin perjalanan panjang. Swiss memperlihatkan bahwa Aljazair masih punya celah, terutama dalam organisasi bertahan dan kemampuan menghindari kesalahan di momen krusial.

beIN Sports mencatat bahwa Swiss menghasilkan 2,52 expected goals dari 11 tembakan, sementara Aljazair hanya mencatat 0,73 xG dari delapan percobaan. Angka itu menggambarkan betapa sulitnya Aljazair menciptakan peluang berkualitas ketika menghadapi tim yang disiplin.

Inilah pekerjaan besar untuk generasi berikutnya. Mereka tidak hanya harus mengganti Mahrez secara nama, tetapi juga harus membangun struktur tim yang lebih seimbang. Aljazair membutuhkan lebih banyak sumber kreativitas, lebih banyak kedalaman, dan lebih banyak ketenangan ketika menghadapi laga eliminasi.

Swiss Menjadi Cermin yang Kejam

Kemenangan Swiss juga memperlihatkan perbedaan antara tim yang matang dan tim yang masih bergantung pada momen individual. Johan Manzambi menjadi salah satu kunci kemenangan Swiss. Reuters melaporkan bahwa pemain berusia 20 tahun itu kembali tampil menonjol, menciptakan gol pembuka lewat pergerakan dan umpan rendah untuk Embolo, sekaligus membantu Swiss mengakhiri penantian 88 tahun untuk kemenangan fase gugur Piala Dunia.

Swiss tidak bermain dengan banyak drama. Mereka bermain dengan rencana yang jelas. Setelah unggul, mereka mengatur tempo, menutup ruang, dan memaksa Aljazair menyerang dalam kondisi tidak nyaman. Granit Xhaka dan Remo Freuler membantu menguasai ritme lini tengah, sementara pertahanan Swiss tetap kompak saat Aljazair berusaha mengejar.

Bagi Aljazair, pertandingan ini menjadi cermin. Mereka punya talenta, punya pengalaman, dan punya Mahrez. Tetapi mereka tidak cukup tajam ketika tertinggal. Mereka tidak cukup bersih dalam bertahan. Mereka tidak cukup dingin dalam mengambil keputusan akhir.

Mahrez mungkin bisa mengubah pertandingan pada masa jayanya, tetapi turnamen seperti Piala Dunia menuntut lebih dari satu pemain besar. Itulah pelajaran pahit yang harus dibawa Aljazair setelah kepergiannya.

Generasi Baru Harus Berani Keluar dari Bayangan

Ketika Mahrez mengatakan bahwa sekarang giliran generasi baru untuk bermain, kalimat itu terdengar seperti pesan terakhir sekaligus tantangan. Ia tidak ingin Aljazair berhenti pada nostalgia. Ia ingin tim ini melanjutkan perjalanan.

Generasi baru Aljazair akan menghadapi tekanan besar. Mereka akan terus dibandingkan dengan Mahrez, terutama pemain-pemain yang beroperasi di posisi menyerang. Setiap winger kreatif akan ditanya apakah ia bisa menjadi “Mahrez berikutnya”. Namun pertanyaan itu sebenarnya tidak adil. Aljazair tidak membutuhkan salinan Mahrez. Mereka membutuhkan identitas baru.

Pemain baru harus diberi ruang untuk tumbuh. Pelatih harus membangun sistem yang tidak hanya mencari satu penyelamat. Federasi harus memastikan jalur regenerasi berjalan. Pendukung juga harus menerima bahwa era baru mungkin tidak langsung stabil.

Mahrez meninggalkan standar tinggi. Tetapi standar itu seharusnya menjadi inspirasi, bukan beban yang melumpuhkan.

Perpisahan yang Pahit tetapi Terhormat

Tidak semua legenda mendapat akhir sempurna. Mahrez mungkin berharap menutup karier internasional dengan kemenangan besar, gol ikonik, atau laju jauh di Piala Dunia. Kenyataannya, ia pergi setelah kekalahan 0-2. Namun perpisahan yang pahit tidak menghapus kehormatan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun.

Pada usia 35 tahun dan 131 hari, Mahrez menjadi pemain Afrika tertua kedua yang menjadi starter dalam laga fase gugur Piala Dunia, setelah Idrissa Gueye dari Senegal. Fakta itu memperlihatkan betapa panjang dan bernilainya perjalanan Mahrez di level internasional.

Ia tidak pergi sebagai pemain yang sudah dilupakan. Ia pergi sebagai kapten yang masih dipercaya dalam laga besar. Ia pergi setelah membawa Aljazair melewati fase grup. Ia pergi dengan tepuk tangan, gestur hati, dan kata-kata yang menunjukkan rasa syukur.

Itulah bentuk perpisahan yang bermartabat.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE