1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Roberto Martinez Rasakan Kehadiran Diogo Jota dalam Kemenangan Dramatis Portugal atas Kroasia Lewat Isyarat Nomor Keramat

Portugal melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan cara yang sulit dijelaskan hanya melalui taktik, statistik, atau papan skor. Kemenangan 2-1 atas Kroasia di Toronto bukan sekadar hasil dramatis yang menjaga mimpi Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan tetap hidup. Bagi Roberto Martinez, laga itu juga membawa makna emosional yang jauh lebih dalam: sebuah malam ketika Portugal merasa Diogo Jota hadir bersama mereka.

Di atas lapangan, ceritanya sudah cukup liar. Kroasia unggul lebih dulu lewat Ivan Perisic, Portugal menyamakan kedudukan melalui penalti Cristiano Ronaldo, lalu Goncalo Ramos mencetak gol kemenangan pada masa tambahan waktu. Bahkan setelah itu, Kroasia sempat mengira mereka berhasil menyamakan skor melalui Josko Gvardiol pada menit ke-103, sebelum VAR membatalkannya karena offside setelah bola terdeteksi menyentuh Igor Matanovic dalam proses serangan. Reuters melaporkan bahwa hasil 2-1 itu membawa Portugal ke babak 16 besar melawan Spanyol.

Namun, kisah terbesar malam itu bukan hanya comeback, bukan hanya VAR, dan bukan hanya Ronaldo yang akhirnya mencetak gol pertamanya di fase gugur Piala Dunia. Kisah terbesarnya adalah bagaimana Portugal menafsirkan kemenangan tersebut sebagai penghormatan bagi Jota, mantan penyerang Liverpool dan tim nasional Portugal yang meninggal setahun sebelumnya bersama saudaranya, Andre Silva. The Daily Star, mengutip Reuters, melaporkan bahwa laga melawan Kroasia dimainkan ketika waktu di Portugal telah memasuki 3 Juli, tepat satu tahun sejak kematian Jota.

Nomor 21 yang Menjadi Simbol

Setelah pertandingan, Roberto Martinez tidak menyembunyikan perasaannya. Ia melihat banyak tanda yang menghubungkan kemenangan Portugal dengan memori Jota. Yang paling kuat adalah skor akhir 2-1. Bagi Martinez, angka itu bukan kebetulan biasa, karena 21 adalah nomor yang sangat lekat dengan Jota di tim nasional Portugal.

Martinez menyebut laga tersebut seperti “pertandingan khas Diogo”. Ia menunjuk skor 2-1 sebagai cerminan nomor 21, lalu mengingatkan bahwa Kroasia adalah tim terakhir yang pernah dibobol Jota untuk Portugal di Jamor. Menurut laporan GOAL, Martinez mengatakan ada “banyak tanda” dalam malam itu dan menyebut Jota memberi kekuatan serta energi bagi tim.

Komentar itu mungkin terdengar emosional, tetapi dalam konteks Portugal, ia sangat masuk akal. Jota bukan sekadar nama di daftar mantan pemain. Ia adalah bagian dari generasi Portugal yang membantu menjaga tim ini tetap berada di level elite. The Daily Star mencatat bahwa Jota mencetak 14 gol dalam 49 penampilan untuk negaranya, dan ia hampir pasti akan menjadi bagian dari skuad Portugal di Piala Dunia 2026 andai masih hidup.

Karena itu, ketika skor akhir menjadi 2-1, ketika pertandingan jatuh pada momentum peringatan kematiannya, dan ketika lawannya adalah Kroasia, Martinez serta para pemain merasa seolah malam itu membawa pesan tersendiri. Dalam sepak bola, tidak semua hal bisa dijelaskan dengan angka. Tetapi terkadang angka justru menjadi bahasa emosional paling kuat.

Ronaldo dan Momen Penuh Air Mata

Cristiano Ronaldo juga menjadi bagian penting dari penghormatan tersebut. Setelah peluit akhir, Ronaldo mengenakan jersey merah Portugal bernomor 21 milik Jota. Reuters melaporkan bahwa ia terlihat emosional dan menahan air mata setelah pertandingan, sementara gambar Jota juga ditampilkan di layar stadion setelah lagu kebangsaan Portugal sebelum pertandingan dimulai. Para suporter Portugal bahkan memberikan tepuk tangan berdiri pada menit ke-21 untuk menghormati sang penyerang.

Bagi Ronaldo, laga ini punya dua lapis makna. Secara pribadi, ia mencatat sejarah dengan menjadi pemain tertua yang mencetak gol di fase gugur Piala Dunia pria, setelah menyamakan kedudukan lewat penalti pada usia 41 tahun. Gol itu juga menjadi gol pertamanya dalam laga knockout Piala Dunia. Namun secara emosional, kemenangan ini terasa lebih besar karena dipersembahkan untuk Jota.

Times of India melaporkan bahwa Ronaldo mengatakan Portugal tahu Jota hadir bersama mereka, dan kemenangan itu menjadi cara terbaik untuk menghormatinya. Ia juga menyebut kebetulan hidup pada malam tersebut terasa luar biasa, bukan hanya karena Portugal menang, tetapi karena cara kemenangan itu datang.

Ronaldo selama ini sering dibahas melalui angka, rekor, dan ambisi pribadi. Tetapi malam melawan Kroasia memperlihatkan sisi lain: seorang kapten yang memahami memori kolektif timnya. Ia tidak hanya merayakan gol atau kelolosan. Ia membawa jersey Jota sebagai simbol bahwa perjalanan Portugal bukan milik 11 pemain di lapangan saja, melainkan juga milik mereka yang tetap hidup dalam ingatan.

Jota Tetap Menjadi Bagian dari Skuad

Portugal memang telah menjadikan memori Jota sebagai bagian nyata dari perjalanan mereka di Piala Dunia ini. Roberto Martinez sebelumnya menggambarkan Jota sebagai “cahaya” bagi tim dan bahkan menamainya sebagai anggota kehormatan skuad Piala Dunia. Ruben Neves, sahabat dekat Jota, mengenakan nomor 21, sementara Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro memberikan gelang bertuliskan nama Jota kepada para pemain.

Ini bukan seremoni kosong. Dalam turnamen sebesar Piala Dunia, setiap detail seperti itu bisa menjadi sumber kekuatan mental. Pemain membutuhkan alasan untuk bertahan ketika kaki mulai lelah, ketika tekanan meningkat, dan ketika pertandingan berjalan ke arah yang tidak diinginkan. Bagi Portugal, Jota menjadi salah satu alasan itu.

Vitinha sudah mengatakan sebelum laga bahwa Portugal memiliki banyak motivasi untuk menang, termasuk untuk keluarga mereka, untuk Diogo Jota, untuk negara, dan untuk seluruh rakyat Portugal. Reuters melaporkan bahwa laga kontra Kroasia memang membawa bobot emosional besar karena dimainkan menjelang peringatan satu tahun wafatnya Jota.

Dalam dunia sepak bola modern yang sering dipenuhi analisis data dan kalkulasi taktis, kekuatan emosional seperti ini kadang diremehkan. Namun pertandingan Portugal vs Kroasia menunjukkan bahwa motivasi batin bisa memberi dorongan besar. Portugal tidak bermain sempurna, tetapi mereka bertahan. Mereka tidak selalu mengontrol laga, tetapi mereka percaya sampai akhir.

Comeback yang Menguji Mental Portugal

Secara taktis, Portugal tidak menjalani malam yang mudah. Mereka mendominasi penguasaan bola pada babak pertama, tetapi kesulitan mengubah tekanan menjadi gol. Reuters mencatat bahwa Portugal menguasai laga sebelum jeda, tetapi gagal memaksimalkan peluang di tengah kondisi panas Toronto yang sebelumnya mencapai 37 derajat Celsius.

Croatia kemudian keluar lebih kuat setelah jeda. Ivan Perisic membawa mereka unggul pada menit ke-53 setelah menerima umpan Josip Stanisic dan melepaskan penyelesaian dingin ke tiang jauh. Gol itu mengubah atmosfer pertandingan. Portugal yang sebelumnya tampak menguasai laga tiba-tiba harus mengejar.

Inilah momen ketika karakter Portugal diuji. Mereka bisa saja panik. Mereka bisa kehilangan struktur. Tetapi Ronaldo menyamakan kedudukan pada menit ke-68 lewat penalti setelah Renato Veiga ditarik Nikola Vlasic di kotak terlarang. Setelah itu, pertandingan berubah menjadi duel mental, taktik, dan ketahanan fisik.

Martinez kemudian membuat keputusan besar dengan menarik Ronaldo pada menit ke-81. Keputusan itu berisiko, karena Ronaldo adalah figur terbesar Portugal. Tetapi perubahan itu membuka jalan bagi Goncalo Ramos untuk menjadi pahlawan. Ramos masuk, menunggu waktunya, lalu menyundul bola kemenangan pada menit keempat masa tambahan waktu.

Goncalo Ramos dan Arti Menjadi Pemain Pengganti

Gol Ramos bukan hanya penting karena membawa Portugal lolos. Gol itu juga membenarkan pesan Martinez sebelum fase gugur: semua pemain harus siap, baik sebagai starter maupun pemain pengganti. Sebelum laga kontra Kroasia, Martinez sempat menepis kekhawatiran media Portugal soal minimnya menit bermain Ramos dan menegaskan bahwa yang terpenting adalah kesiapan setiap pemain untuk membantu tim kapan pun dibutuhkan.

Melawan Kroasia, kalimat itu berubah menjadi kenyataan. Ramos tidak memulai laga. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk masuk ke ritme pertandingan. Tetapi ketika kesempatan datang, ia memanfaatkannya dengan sempurna. Reuters mengutip Ramos yang mengatakan bahwa ia menyukai momen besar seperti itu dan ingin selalu berada dalam pertandingan semacam ini.

Itulah yang dibutuhkan Portugal jika ingin melangkah jauh. Turnamen tidak dimenangkan hanya oleh pemain utama. Ia dimenangkan oleh skuad. Ada hari ketika starter menjadi pahlawan, dan ada hari ketika pemain dari bangku cadangan menentukan nasib. Ramos memberi bukti bahwa Portugal memiliki kedalaman, bukan hanya nama besar.

Bagi Martinez, ini menjadi sinyal positif. Portugal tidak hanya bergantung pada Ronaldo. Mereka masih bisa menemukan energi baru dari pemain lain. Dan dalam malam penuh emosi untuk Jota, gol Ramos terasa seperti bagian dari cerita kolektif yang lebih besar.

VAR, Kontroversi dan Batas Tipis Antara Nasib dan Teknologi

Laga ini juga akan dikenang karena drama VAR yang luar biasa. The Guardian melaporkan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, empat gol dianulir dalam satu pertandingan. Tiga gol Kroasia dibatalkan, sementara satu gol Ronaldo juga dianulir. Momen paling kontroversial datang pada detik-detik terakhir ketika gol Gvardiol dibatalkan setelah teknologi bola mendeteksi sentuhan tipis dari Matanovic, yang kemudian membuat Gvardiol berada dalam posisi offside.

Croatia sangat kecewa. Zlatko Dalic merasa emosi timnya “dibunuh” oleh keputusan-keputusan teknologi, meskipun ia tetap mengakui Portugal sebagai lawan yang sportif. Martinez, sebaliknya, membela keputusan VAR. Ia mengatakan bola sekarang memiliki chip dan keputusan yang dibuat sudah jelas berdasarkan teknologi.

Bagi Portugal, keputusan itu menjadi penyelamat. Bagi Kroasia, itu menjadi akhir yang kejam. Bagi penonton netral, itu menjadi pengingat bahwa sepak bola modern semakin tipis batasnya antara drama manusia dan kepastian teknologi.

Namun dalam narasi Portugal, keputusan tersebut kemudian bercampur dengan simbolisme Jota. Ketika gol Kroasia dibatalkan, Portugal merasa takdir malam itu berpihak pada mereka. Martinez menyebut tidak ada “lucky call”, tetapi secara emosional, sulit memisahkan kemenangan itu dari rasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang bekerja.

Kroasia Tersingkir dengan Luka Besar

Kroasia pulang dengan kekecewaan mendalam. Mereka bukan hanya kalah. Mereka kalah setelah sempat merasa sudah menyamakan kedudukan. Mereka kalah dalam laga yang mungkin menjadi penampilan terakhir Luka Modric di Piala Dunia. The Guardian melaporkan bahwa Dalic merasa sedih karena Modric kemungkinan mengakhiri perjalanan Piala Dunianya dengan cara seperti itu, meski ia tetap memuji kualitas dan karakter sang kapten.

Ronaldo sendiri berbagi momen dengan Modric setelah pertandingan. Dua legenda Real Madrid itu mungkin berada dalam fase akhir perjalanan internasional masing-masing. Ronaldo masih bertahan, Modric kemungkinan selesai. Dalam satu malam, sepak bola memperlihatkan dua wajah: kegembiraan Portugal dan kehancuran Kroasia.

Kroasia pantas mendapat rasa hormat. Mereka tidak menyerah, meski tertinggal di menit akhir. Mereka terus menyerang dan hampir memaksa laga berlanjut. Tetapi sepak bola fase gugur tidak mengenal belas kasihan. Satu keputusan, satu garis offside, satu sentuhan kecil, bisa menentukan pulang atau bertahan.

Portugal berada di sisi yang selamat. Kroasia berada di sisi yang terluka.

Spanyol Menanti Emosi Harus Berubah Menjadi Fokus

Portugal kini menghadapi Spanyol di babak 16 besar. Reuters melaporkan bahwa duel tersebut akan dimainkan di Dallas, dengan pemenang berpotensi menghadapi Belgia atau Amerika Serikat di perempat final.

Ini akan menjadi ujian berbeda. Kemenangan atas Kroasia memberi Portugal energi emosional besar, tetapi emosi saja tidak cukup untuk mengalahkan Spanyol. Martinez sendiri menyebut Spanyol sebagai tim berkualitas tinggi dan memperkirakan laga tersebut akan menjadi duel besar antara dua tim Eropa yang sama-sama ingin menguasai bola, maju cepat, dan menciptakan peluang.

Portugal harus memperbaiki banyak hal. Mereka tidak boleh kembali gagal memaksimalkan dominasi babak pertama. Mereka harus lebih tajam di sepertiga akhir. Mereka juga perlu menjaga keseimbangan agar tidak mudah dihukum setelah kehilangan bola. Spanyol akan lebih kejam jika Portugal memberikan ruang seperti yang sempat mereka berikan kepada Kroasia pada awal babak kedua.

Namun Portugal juga membawa sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan statistik: momentum emosional. Mereka baru saja melewati malam yang penuh tekanan, kehilangan, simbol, dan pembuktian. Tim yang mampu menang dalam kondisi seperti itu sering kali menjadi lebih kuat.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE