Federasi Sepak Bola Portugal atau Federação Portuguesa de Futebol (FPF) resmi mengakhiri hubungan kerja dengan Roberto Martinez setelah perjalanan Portugal di Piala Dunia 2026 berakhir pada babak 16 besar. Pengumuman tersebut menutup masa kepemimpinan pelatih asal Spanyol itu yang dimulai pada Januari 2023.
FPF mengonfirmasi pada Rabu, 8 Juli 2026, bahwa kontrak Martinez beserta staf kepelatihannya telah resmi berakhir. Dua hari sebelumnya, Martinez telah menyampaikan bahwa kekalahan Portugal dari Spanyol akan menjadi pertandingan terakhirnya sebagai pelatih tim nasional. Dengan demikian, perpisahan tersebut secara administratif berlangsung setelah masa kontraknya selesai, bukan melalui pemecatan mendadak di tengah periode kerja.
Keputusan itu muncul setelah Portugal kalah 0-1 dari Spanyol pada babak 16 besar Piala Dunia. Pertandingan berlangsung sangat ketat hingga Mikel Merino mencetak gol kemenangan Spanyol pada masa tambahan waktu. Portugal pun harus mengakhiri turnamen lebih cepat daripada yang diharapkan, sedangkan Spanyol melanjutkan langkah menuju perempat final.
Kepergian Martinez langsung membuka babak baru bagi sepak bola Portugal. FPF kini harus mencari sosok yang mampu mempertahankan daya saing tim, mengelola pergantian generasi, dan membangun proyek baru setelah berakhirnya salah satu siklus paling menarik dalam sejarah modern mereka.
Martinez Mengakui Siklusnya Telah Berakhir
Setelah kekalahan dari Spanyol, Roberto Martinez tidak berusaha menghindari pertanyaan mengenai masa depannya. Ia menyampaikan bahwa kontraknya telah berakhir dan memberikan kesempatan kepada pimpinan federasi untuk memilih pelatih baru.
Pelatih berusia 52 tahun itu juga menjelaskan bahwa dirinya datang ke Portugal dengan tujuan utama menjuarai Piala Dunia. Karena target tersebut tidak tercapai, ia merasa tidak ada alasan kuat untuk melanjutkan masa jabatannya. Martinez menyebut pertandingan melawan Spanyol sebagai akhir dari sebuah siklus dan mengonfirmasi bahwa laga tersebut merupakan penampilan terakhirnya di bangku pelatih Portugal.
Pernyataan tersebut memperlihatkan besarnya standar yang ditetapkan sejak awal. Portugal tidak sekadar ingin lolos ke turnamen besar atau mencapai fase gugur. Dengan kualitas pemain yang tersedia, mereka ingin bersaing untuk menjadi juara dunia.
Namun, ambisi besar selalu datang bersama tekanan. Ketika perjalanan berakhir pada babak 16 besar, pertanyaan mengenai arah tim, efektivitas taktik, dan masa depan kepelatihan tidak dapat dihindari.
Martinez memilih mengambil tanggung jawab dan menutup periodenya tanpa memperpanjang ketidakpastian. Sikap itu memungkinkan federasi segera memulai proses pencarian pengganti, sementara para pemain dapat mempersiapkan diri menghadapi era baru.
Konfirmasi Resmi dari Federasi
FPF kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa hubungan kontraktual dengan Roberto Martinez dan seluruh stafnya telah berakhir. Federasi juga menyampaikan penghargaan atas kerja yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun.
Dalam pengumumannya, FPF menegaskan bahwa pencarian pelatih baru sudah dimulai. Federasi ingin menunjuk sosok yang dapat meneruskan budaya ambisi dan kemenangan di lingkungan tim nasional. Namun, ketika pengumuman dibuat, belum ada nama pengganti yang diumumkan secara resmi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa federasi tidak ingin membiarkan masa transisi berlangsung terlalu lama. Portugal perlu segera mempersiapkan kompetisi berikutnya, mengevaluasi skuad, dan menentukan identitas permainan yang akan dibawa ke masa depan.
Pemilihan pelatih baru tidak hanya berkaitan dengan kemampuan taktik. Sosok tersebut harus mampu menangani pemain-pemain berstatus bintang, menghadapi tekanan publik, dan membuat keputusan besar mengenai komposisi skuad.
Portugal memiliki banyak pemain berkualitas yang berkompetisi di liga-liga elite Eropa. Tantangan bagi pelatih berikutnya adalah mengubah kualitas individu itu menjadi struktur kolektif yang stabil serta efektif dalam pertandingan fase gugur.
Awal Masa Jabatan yang Menjanjikan
Roberto Martinez diperkenalkan sebagai pelatih Portugal pada 9 Januari 2023, tidak lama setelah mengakhiri masa kerjanya bersama Belgia. Ia datang menggantikan Fernando Santos, pelatih yang membawa Portugal menjuarai Piala Eropa 2016 dan UEFA Nations League 2019.
Sejak presentasi pertamanya, Martinez menyampaikan keinginan untuk membangun tim yang sangat kompetitif. Ia juga menempatkan Piala Dunia 2026 sebagai salah satu sasaran utama dalam proyeknya.
Permulaan masa kepemimpinannya berlangsung mengesankan. Portugal meraih sepuluh kemenangan dari sepuluh pertandingan dalam kualifikasi Piala Eropa 2024. Tim mencetak 36 gol dan hanya kebobolan dua kali sepanjang babak kualifikasi tersebut. Catatan sempurna itu menjadi pencapaian yang belum pernah diraih Portugal dalam perjalanan menuju putaran final Piala Eropa.
Hasil-hasil tersebut meningkatkan optimisme publik. Portugal terlihat lebih agresif, produktif, dan nyaman menguasai pertandingan. Martinez juga mencoba memperluas pilihan pemain dengan memberikan kesempatan kepada sejumlah nama baru.
Kesuksesan di babak kualifikasi, bagaimanapun, belum menjamin keberhasilan pada turnamen utama. Pertandingan fase gugur menghadirkan tekanan berbeda karena satu kesalahan dapat mengakhiri seluruh perjalanan.
Perjalanan di Piala Eropa 2024
Turnamen besar pertama Martinez bersama Portugal adalah Piala Eropa 2024. Timnya berhasil mencapai perempat final, tetapi perjalanan mereka dihentikan sebelum dapat memperebutkan gelar.
Hasil tersebut tidak dapat disebut sebagai kegagalan total. Portugal tetap berada di antara delapan tim terbaik dan menunjukkan kemampuan bersaing melawan lawan kuat. Namun, dengan kedalaman skuad yang dimiliki, pencapaian itu juga meninggalkan rasa bahwa tim seharusnya dapat melangkah lebih jauh.
FPF mencatat bahwa Portugal mencapai perempat final Piala Eropa 2024 setelah menjalani babak kualifikasi yang sempurna. Pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari evaluasi tiga tahun pertama Martinez bersama tim nasional.
Salah satu perdebatan terbesar selama era Martinez berkaitan dengan cara memaksimalkan seluruh pemain menyerang. Portugal mempunyai banyak gelandang kreatif, penyerang cepat, dan bek sayap agresif. Namun, menyatukan semua elemen tersebut dalam sebuah sistem yang seimbang bukan pekerjaan mudah.
Pada beberapa pertandingan, Portugal terlihat sangat dominan. Pada laga lain, mereka kesulitan membongkar lawan yang bertahan rapat. Masalah semacam ini kembali menjadi perhatian ketika tim menghadapi pertandingan fase gugur.
Gelar Nations League Menjadi Prestasi Utama
Meskipun gagal menjuarai Piala Eropa, Martinez berhasil membawa Portugal meraih gelar UEFA Nations League pada 2025. Trofi tersebut menjadi pencapaian terpenting selama masa jabatannya.
Keberhasilan itu membuktikan bahwa Portugal tetap memiliki mentalitas untuk memenangkan kompetisi internasional. Martinez juga menunjukkan kemampuannya mengelola pertandingan besar serta membangun kepercayaan di dalam skuad. FPF memasukkan gelar Nations League 2025 sebagai salah satu pencapaian utama dalam tiga tahun kepemimpinan pelatih asal Spanyol tersebut.
Gelar itu sempat memperkuat keyakinan bahwa Portugal dapat menjadi salah satu penantang utama di Piala Dunia 2026. Mereka mempunyai perpaduan pemain berpengalaman dan generasi baru yang sedang berkembang.
Namun, sepak bola internasional sering dinilai berdasarkan performa pada Piala Dunia. Bahkan keberhasilan di kompetisi lain dapat tertutupi apabila sebuah tim tersingkir lebih awal dari turnamen terbesar.
Martinez memahami kenyataan tersebut. Itulah sebabnya ia menyampaikan bahwa tujuan utamanya sejak datang adalah membawa Portugal menjadi juara dunia. Ketika target itu gagal dicapai, ia memilih tidak memperpanjang siklus.
Piala Dunia yang Berakhir Menyakitkan
Portugal memasuki Piala Dunia 2026 dengan ekspektasi tinggi. Mereka membawa pemain berpengalaman, talenta muda, dan keyakinan yang dibangun dari keberhasilan pada tahun sebelumnya.
Setelah melewati fase awal turnamen, Portugal menghadapi Kroasia pada babak 32 besar dan meraih kemenangan 2-1. Hasil itu mempertemukan mereka dengan Spanyol pada babak 16 besar dalam duel antara dua negara Semenanjung Iberia.
Pertandingan melawan Spanyol berjalan ketat. Martinez menilai Portugal mampu bertahan dengan berani dan agresif, tetapi perbedaan akhirnya muncul melalui detail kecil. Gol pada menit akhir menjadi pukulan yang tidak sempat mereka balas.
Kekalahan 0-1 terasa semakin menyakitkan karena Portugal nyaris membawa pertandingan menuju babak tambahan. Mereka berhasil membatasi ancaman lawan untuk waktu yang lama, tetapi kehilangan fokus pada salah satu momen paling menentukan.
Dalam pertandingan fase gugur, tidak ada kesempatan memperbaiki kesalahan pada laga berikutnya. Satu situasi bola mati, satu duel yang terlambat, atau satu ruang yang terbuka dapat mengakhiri perjuangan selama bertahun-tahun.
Hubungan Martinez dengan Cristiano Ronaldo
Masa kepemimpinan Martinez juga selalu berkaitan erat dengan Cristiano Ronaldo. Ketika pelatih asal Spanyol itu mengambil alih tim, banyak pihak mempertanyakan apakah Ronaldo masih akan menjadi bagian penting dari proyek Portugal.
Martinez memilih mempertahankan sang kapten dan terus memberinya kepercayaan. Ronaldo tidak hanya dipandang sebagai pencetak gol, tetapi juga sebagai pemimpin serta simbol sepak bola Portugal.
Setelah pertandingan melawan Spanyol, Martinez memberikan penghormatan kepada Ronaldo. Ia menyebut sang kapten sebagai contoh melalui komitmen sehari-hari, cara menjalani sepak bola, serta kontribusinya dalam gol dan assist.
Keputusan mempertahankan Ronaldo mempunyai keuntungan dan tantangan. Pengalaman serta ketajamannya tetap berguna, tetapi tim juga harus mempersiapkan masa depan dan memberi ruang kepada penyerang generasi berikutnya.
Pelatih baru nantinya akan menghadapi keputusan besar mengenai arah skuad. Ia harus menilai peran pemain senior sekaligus memastikan regenerasi berlangsung tanpa menghilangkan standar kompetitif.
Statistik Positif yang Tidak Menghapus Kekecewaan
Secara statistik, masa kerja Martinez menghasilkan banyak angka positif. Hingga Januari 2026, ia mencatat persentase kemenangan tertinggi di antara pelatih Portugal, yakni 69,4 persen, serta rata-rata 2,67 gol per pertandingan. Dalam 36 pertandingan yang dihitung FPF pada saat itu, Portugal meraih 25 kemenangan, enam hasil imbang, dan lima kekalahan, dengan 96 gol serta 31 kebobolan.
Martinez juga memperkenalkan sejumlah pemain baru ke tim senior. Langkah tersebut membantu memperluas kedalaman skuad dan memberikan pengalaman internasional kepada generasi berikutnya.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa periodenya tidak pantas dinilai hanya melalui kekalahan terakhir. Portugal menjadi tim yang produktif dan konsisten dalam banyak pertandingan resmi.
Namun, sepak bola tim nasional mempunyai ukuran keberhasilan yang sangat keras. Masyarakat lebih mudah mengingat pertandingan fase gugur daripada kemenangan besar pada babak kualifikasi.
Martinez berhasil membangun catatan kuat, memenangkan Nations League, dan membawa Portugal ke dua turnamen utama. Akan tetapi, kegagalan mencapai tahap akhir Piala Dunia tetap menjadi bagian terbesar dari penilaian terhadap warisannya.
Masalah Konsistensi dalam Pertandingan Besar
Salah satu kritik terhadap Portugal selama era Martinez adalah perbedaan antara performa mereka saat menghadapi lawan yang lebih lemah dan ketika bertemu tim dengan kualitas seimbang.
Portugal sering terlihat nyaman saat menguasai bola dan mampu mencetak banyak gol dalam pertandingan kualifikasi. Namun, pertandingan fase gugur membutuhkan kemampuan berbeda. Tim harus dapat bertahan di bawah tekanan, mengubah pendekatan, dan memanfaatkan peluang yang jumlahnya terbatas.
Martinez sebenarnya mencoba membangun fleksibilitas melalui berbagai formasi. Portugal dapat bermain dengan empat bek, tiga bek, atau menempatkan beberapa gelandang kreatif sekaligus.
Fleksibilitas itu terkadang menjadi kekuatan, tetapi juga dapat menimbulkan ketidakpastian. Pergantian struktur yang terlalu sering berpotensi mengurangi otomatisasi antarpemain.
Pelatih baru perlu menemukan keseimbangan antara variasi taktik dan identitas yang jelas. Portugal membutuhkan pola yang tetap dapat diandalkan ketika pertandingan memasuki fase kritis.
Tantangan Regenerasi Portugal
Kepergian Martinez terjadi pada masa yang sangat penting. Portugal harus mempersiapkan transisi dari generasi yang dipimpin Ronaldo menuju tim dengan wajah baru.
Mereka mempunyai fondasi kuat berupa pemain-pemain yang telah berpengalaman di level tertinggi. Di lini tengah, Portugal memiliki sosok kreatif dan dinamis. Di pertahanan, terdapat pemain cepat yang nyaman menguasai bola. Di lini depan, generasi baru menunggu kesempatan untuk mengambil tanggung jawab lebih besar.
Namun, regenerasi bukan hanya mengganti nama senior dengan pemain muda. Pelatih harus menentukan siapa yang menjadi pemimpin, bagaimana tim menyerang, dan karakter seperti apa yang ingin dibangun.
Pergantian generasi juga perlu dikelola dengan komunikasi yang baik. Pemain senior harus tetap dihargai, sementara pemain muda membutuhkan kepercayaan untuk berkembang.
Portugal mempunyai cukup banyak bakat untuk tetap bersaing. Tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana menyatukan mereka dalam proyek jangka menengah yang konsisten.
Baca Juga:












